"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka ..."

Mimpi Pertama; Faidah Berbuat Baik Kepada Orang Tua


قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " نِمْتُ، فَرَأَيْتُنِي فِي الْجَنَّةِ، فَسَمِعْتُ صَوْتَ قَارِئٍ يَقْرَأُ، فَقُلْتُ: مَنْ هَذَا ؟ فَقَالُوا: هَذَا حَارِثَةُ بْنُ النُّعْمَانِ " فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " كَذَلِكَ الْبِرُّ ، كَذَلِكَ الْبِرُّ " وَكَانَ أَبَرَّ النَّاسِ بِأُمِّهِ
Dari Aisyah r.a. berkata: Rasulullah s.a.w. telah bersabda, " Ketika aku sedang tidur, aku mendapati diriku berada didalam surga, tiba-tiba aku mendengar suara seseorang membaca al-qur'an, kemudian aku bertanya, "Siapa itu?" Mereka menjawab: "Haritshah ibn Nu'man." Kemudian Rasulullah s.a.w  bersabda, "Begitulah kebaikan, begitulah kebaikan (kepada orang tua)."
Haritsah ibn Nu'man adalah seorang sahabat yang terkenal sebagai orang yang senantiasa berbuat baik kepada Ibunya. [1]

Riwayat singkat Haritsah ibn Nu'man
Namanya Haritsah ibn Nu'man Al-Anshary al-Najary, seorang ahli suffah. Ikut serta dalam perang Badar, Uhud, Khandaq dan semua peperangan bersama Rasulullah. Termasuk sahabat-sahabat Rasulullah yang utama dan salah seorang dari 80 orang yang tetap tinggal di medan perang dan tidak melarikan diri ketika perang Hunain.
Di penghujung usianya, Haritsah ibn Nu'man mengalami gangguan pada penglihatannya. Beliau adalah seorang yang sangat dermawan. Suatu saat, keluarganya pernah berkata, "Kami mencukupimu." Tapi Haritsah berkata, "aku mendengar Rasulullah bersabda: “memberi makan orang miskin bisa mencegah kematian dalam keadaan buruk."
Begitulah Haritshah sampai kemudian ia wafat pada masa Mu'awiyah.

Faidah Hadits: Berbuat baik Kepada Orang Tua
Salah satu hal yang sangat mendapat perhatian dalam syariat islam adalah orang tua. Cukup kiranya wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sebagai saksi pentingnya menghormati kedua orang tua, bahwa Allah telah menurunkan perintah untuk beribadah kepadaNya diiringi dengan perintah berbuat baik kepada orang tua. Tidak ada ibadah yang sebenar-benarnya ibadah kecuali diiringi dengan penghormatan dan penghargaan terhadap orang tua.
Tinta Ummat ini, Abdullah bin Abbas berkata, "Tiga ayat diiringi oleh tiga ayat, dan melaksanakan salah satunya tidak akan diterima tanpa melaksanakan pasangannya;
1. "Taatilah Allah dan taatilah RasulNya" (QS. At-Taghabun: 12) Barang siapa yang taat kepada Allah tapi tidak taat kepada Rasul, maka ketaatannya tidak akan diterima.
2. "Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat" (QS. Al-Baqarah: 43) Barang siapa yang mendirikan shalat tapi tidak menunaikan zakat, maka tidak akan diterima.
3. "Bersyukurlah kepadaKu dan kedua orang tuamu" (QS. Luqman: 14) Barang siapa yang bersyukur kepada Allah tapi tidak berterimakasih kepada kedua orang tua, maka kesyukurannya tidak akan diterima.
Dengan demikian, memuliakan kedua orang tua adalah bagian yang tidak terpisahkan di dalam akidah islam. Sebab Allah tidak akan menerima amalan fardlu atau sunnah, kecuali jika diiringi dengan berbuat baik kepada orang tua.

Saking pentingnya, Allah selalu mengulang-ulang pesanNya didalam Al Qur'an agar kita selalu berbuat baik kepada kedua orang tua sebagaimana Allah mengulang-ulang ancaman bagi orang yang menyakiti mereka.
Allah SWT berfirman dalam Al Qur'an, "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil." (QS. Al-Isra: 23-24)
Dalam Surat Al Nisâ Allah berfirman, "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa." (QS. An-Nisa: 36)
Dalam surat lain  Allah SWT juga berfirman, "Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS. Al-Ankabut: 8)
Sedangkan dalam Surat Luqman Allah berwasiat, "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu." (QS. Luqman: 14)

Begitu pula dalam Sunnah Nabawiyah, banyak sekali hadits yang menyatakan pentingnya berbuat baik kepada orang tua. Nabi SAW bersabda, "Keridlaan Tuhan terletak pada keredlaan ibu bapa."[2]
Diriwayatkan Ahlussunan, kecuali Tirmidzi dengan sanad yang shahih dari Abdullah bin Amru bin Ash: telah datang kepada Rasulullah SAW seorang laki-laki kemudian berkata, "Saya datang untuk berbaiat kepadamu wahai Rasulullah dan aku tinggalkan kedua orangtuaku dalam keadaan menangis. Kemudian Rasulullah menjawab, "Kembalilah kepada mereka, dan buatlan mereka tertawa sebagaimana kau telah membuat mereka menangis."[3]

Dari Abu Harairah berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah kemudian ia bertanya. "Siapakah orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?
Rasulullah SAW menjawab, "ibumu"
"kemudian siapa?"
"kemudian ibumu"
"kemudian siapa?"
"kemudian ibumu"
"kemudian siapa?
"kemudian bapakmu."[4]

Dapat disimpulkan dari hadits diatas bahwa ibu mempunyai kedudukan yang sangat istimewa dalam syariat Islam. Ibu berhak mendapatkan kebaikan tiga kali lipat dari kebaikan yang diperoleh seorang bapak. Hal ini disebabkan karena jerih payah seorang ibu ketika hamil dan menyusui. Inilah jerih payah yang hanya dilalui seorang ibu, kemudian baru bapak berperan bersama-sama dengan ibu dalam hal mengasuh dan mendidik.

Dalam Hadits lain, Rasulullah SAW bersabda, "Muliakanlah Ibu bapakmu niscaya anak-anakmu akan memuliakan kamu."[5] 

Rasulullah SAW adalah contoh manusia yang paling memuliakan kedua orang tuanya. Pada tahun Hudaibiyah, Rasulullah melewati makam ibunya, Aminah binti Wahab, di Abwa -diantara Makkah dan Madinah- saat itu Beliau beserta sahabatnya membawa 1000 orang pasukan berkuda. Beliau kemudian berhenti untuk menziarahi makam ibunya dan menangis sehingga orang-orang disekitarnya ikut pula menangis, kemudian beliau bersabda, "Aku meminta izin Tuhanku agar aku bisa memintakan ampun baginya, tapi Tuhanku tidak mengizinkanku. Kemudian aku meminta izin Tuhanku untuk menziarahinya, dan Tuhanku memperkenankannya. Maka berziarahlah kalian, karena sesungguhnya ziarah kubur mengingatkan akan mati."[6]

Adapun orang-orang yang menyakiti hati orang tuanya niscaya akan mendapatkan balasan berupa adzab Allah yang sangat pedih. Rasulullah SAW bersabda, "Tiga golongan tidak akan akan diperhatikan Allah di hari kiamat: orang yang menyakiti kedua orangtuanya, wanita yang menyerupai laki-laki dan laki-laki dayus. Tiga golongan manusia tidak akan masuk surga: Orang yang menyakiti orang tuanya, orang yang gemar minum arak dan orang yang selalu menyebut-nyebut pemberiannya."[7]

Dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda, "Maukah kalian aku ceritakan tentang dosa-dosa yang sangat besar?
"Tentu, wahai Rasulullah." Rasululullah SAW kemudian berkata, "Menyekutukan Allah, menyakiti kedua orang tua..."[8]

Dari Mughirah bin Syu'bah RA, Rasulllah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian menyakiti ibu, mengubur hidup-hidup anak perempuan..."[9]

Perilaku Al 'uquq (menyakiti) orangtua jelas keharamannya secara hukum syariat sekaligus tercela menurut akal sehat. Akan tetapi, apa sebetulnya yang dimaksud dengan al ‘uquq?
Imam Al Balqini berkata: al-‘uqûq terjadi jika seorang anak menyakiti keduanya atau salah satu dari mereka dengan tindakan yang berlebihan menurut adat kebiasaan.[10]

Contoh-contoh perbuatan yang menyakiti orang tua:
-   Membuat mereka menangis atau bersedih baik dengan perkataan, perbuatan atau menyebabkan hal itu.
-   Membentak mereka atau berkata-kata dengan suara yang tinggi dan kasar ketika berbicara.
-   Mengeluh dan menggerutu dalam melaksanakan perintahnya
-   Bermuka masam dan mengerutkan kening di depan mereka
-   Memandang mereka dengan tatapan sinis, meremehkan tanpa ada rasa hormat. Muawiyah berkata, "Tidak disebut berbakti orang yang memelototi orangtuanya.
-   Memerintah mereka; seperti menyuruh ibu membersihkan rumah, mencuci pakaian atau menyiapkan hidangan. Pekerjaan-pekerjaan seperti ini tidak layak dibebankan kepada seorang ibu, apalagi ketika sang ibu sedang sakit, lemah atau sudah udzur usianya.
-   Mencela makanan yang dihidangkan Ibu.
-   Tidak membantu mereka dalam mengerjakan rumah, seperti merapikan dan mengatur perabotan, menyiapkan hidangan atau hal lainnya.
-   Memalingkan muka ketika mereka sedang berbicara, tidak mendengarkan perkataannya, suka memotong ucapan, menganggap mereka bohong dan selalu mendebat perkataannya.
-   Tidak berusaha meminta pendapat mereka. Dalam kenyataan, banyak sekali anak  yang enggan meminta petunjuk atau meminta izin orangtua dalam memutuskan sesuatu hal. Seperti dalam perkawinan, perceraian, pergi dari rumah dan menginap di luar atau pergi bersama rekan-rekannya ke suatu tempat.
-   Tidak meminta izin ketika memasuki ruang pribadinya.
-   Mengungkit-ngungkit masalah pribadi di hadapan mereka, baik masalah dengan sahabat, saudara, istri ataupun anaknya.
-   Mencela, mencemarkan atau menyebutkan aib mereka dihadapan orang lain.
-   Mengumpat orang tua baik secara langsung ataupun tidak langsung. Maksud secara tidak langsung dengan cara seorang anak mengumpat orangtua seseorang, kemudian orang tersebut balas mengumpat orangtuanya. Dari Abdullah bin Amru RA bahwa Rasulullah SAW berkata, Termasuk dosa besar jika seorang anak mengumpat kedua orangtuanya.” Seorang Sahabat bertanya, "apakah ada seorang anak yang mengumpat orangtuanya? Rasulullah menjawab, "Ya. Ketika seorang anak mengumpat bapak seseorang, kemudian orang itu membalas mengumpat bapaknya. Ia mengumpat ibunya dan orang itu mengumpat ibunya."
-   Membawa kemunkaran ke dalam rumah. Misalnya membawa alat untuk berhura-hura atau sesuatu yang bisa merusak dirinya sendiri kemudian menyebar kepada saudara-saudaranya dan penghuni rumah secara umum dan itu menyebabkan mereka merasa prihatin dan kecewa dengan rusaknya moral anak-anaknya.
-   Mengkonsumsi hal-hal yang munkar dihadapan mereka, seperti menghisap rokok, atau mendengarkan suara-suara yang dikecam syariat.
-   Membawa kawan yang buruk dan tidak mereka sukai ke dalam rumah.
-   Mencemarkan nama baik orangtua dengan melakukan perbuatan-perbuatan buruk dan hina yang bertentangan dengan norma kemuliaan sehingga membuat mereka merasa bingung, tertekan, kecewa dan malu.
-   Menjeremuskan mereka ke dalam kesusahan dengan cara menumpuk utang tanpa berusaha membayarnya. Berperilaku buruk di sekolah sehingga pihak sekolah merasa perlu memanggil orangtuanya dan lain sebagainya. Dan boleh jadi orangtuanya yang harus memikul tanggungjawab hingga si anak membayar lunas utang-utangnya atau datang menyerahkan diri.
-   Berada di luar rumah dalam jangka waktu yang lama sehingga membuat mereka cemas, apalagi ketika mereka membutuhkan bantuan anak-anaknya.
-   Membebani mereka dengan banyak permintaan padahal secara materi orangtua tidak mampu melaksanakannya.
-   Lebih mengutamakan istri daripada orang tua.
-   Meninggalkan mereka ketika dibutuhkan atau lanjut usia.
-   Lepas diri dari mereka serta malu untuk menyebutkan perihal orangtuanya dan enggan menasabkan diri kepada mereka. Dan ini adalah bentuk 'uqûq yang paling buruk. Banyak sekali anak-anak yang merasa enggan atau malu menasabkan diri kepada orangtuanya ketika mereka sudah mencapai kedudukan yang tinggi bahkan merasa malu dengan kehadiran orangtuanya dengan pakaian mereka yang sudah usang.
-   Menyakiti mereka dengan pukulan, dan ini banyak terjadi pada masa sekarang. Perbuatan seperti ini tidak akan lahir kecuali dari orang-orang yang hatinya keras, hati yang didalamnya tidak ada rasa kasih sayang dan rasa malu, serta jiwa yang dibangun dari kualitas budi, kehormatan dan harga diri yang sangat rendah.
-   Menitipkan mereka di panti-panti jompo.
-   Menjauhi dan meninggalkan mereka serta tidak memberi nasehat ketika orangtua berbuat kesalahan.
-   Berlaku kikir terhadap mereka.
-   Sering mengungkit dan memperhitungkan bantuan yang diberikan kepada mereka.
-   Mencuri barang milik orangtua, melakukan manipulasi dalam hal waris atau lain sebagainya dengan menyalahgunakan kepercayaan orangtua untuk kemaslahatannya sendiri dan tidak peduli kepada saudara-saudaranya yang lain.
-   Mengeluh atau menampakan rasa sakit dihadapan orangtua. Orangtua, terlebih lagi ibu, akan merasa cemas, sedih dan turut serta merasakan penderitaan anak-anaknya bahkan mungkin lebih menderita daripada anaknya.
-   Pergi dari hadapan orangtua tanpa izin dan bukan dalam keadaan yang mendesak.
-   Berharap orangtua cepat meninggal agar cepat mendapatkan warisan jika orangtuanya mempunyai kekayaan, atau lekas terbebas dari beban jika orangtuanya miskin dan sakit-sakitan atau agar segera terbebas dari pengawasan mereka dan tidak ada lagi orang yang akan menghalangi mereka dalam berbuat kemaksiatan.

Jika kita merenungi keadaan kita sekarang, maka kita akan menyadari bahwa kita masih terlalu jauh dan terlalu banyak kekurangan dalam berbuat baik kepada orang tua. Atau boleh jadi sebagian kita sudah termasuk kelompok orang yang menyakiti orangtuanya. Semoga Allah memberikan kita ampunan dan keselamatan.

Kesimpulannya, berbuat baik kepada orangtua adalah suatu hal yang sejalan dengan fitrah manusia yang lurus, sesuai dengan anjuran syariat samawi dan juga merupakan akhlak para Nabi serta kebiasaan orang-orang yang shaleh. Berbakti kepada orangtua juga merupakan tanda kebenaran iman seseorang, kemuliaan jiwa dan sebaik-baiknya pemenuhan janji. Ia juga merupakan bukti keindahan syariat Islam. Sebab, berbuat baik kepada orangtua berarti pengakuan terhadap keindahan,  menjaga keutamaan, dan tanda bahwa Islam adalah agama yang sempurna dan mampu melindungi semua hak-hak manusia.





[1] HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Baihaqi. Shahih sesuai syarat Asy-Syaikhan
[2]Al Jami' As Shagir  5820, Shahîh Al Jami’ 3507.  
[3]Shahîh at Targhib wa al Targhib 2481, Shahîh Abi Daud 2205 
[4] Shahîh al Bukhâri  5626
[5] Al Mustadrak 7259
[6] Shahîh Muslim 976
[7] Sunan al Nasai  2562, Shahîh al Jâmi' 3063
[8] Shahîh al Bukhâri 2511
[9] Shahîh al Bukhâri 2277
[10] Subulussalam I/232
Share:

About

About Me

Foto Saya
Kajian Keluarga Muslim diinisiasi untuk memberikan bekal bagi para keluarga muslim agar bisa mejalankan misi berkeluarga sesuai Al-Quran: Selamat dari neraka (At-Tahrim: 6) Masuk surga bersama (Ath-Thur: 21) Melahirkan generasi terbaik (Al-Furqan: 74)