"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka ..."

Fenomena Mudik


sumber gambar: www,yukpegi.com
Seperti biasa, menjelang lebaran, jutaan orang sudah bersiap untuk perjalanan mudik. Menurut Badan Litbang Kemenhub, jika pada tahun 2013 tercatat angka 25.599.014, maka jumlah pemudik lebaran tahun 2014 diperkirakan naik hingga 7% atau sekitar 27.894.914.
Apa yang dicari pemudik? Banyak alasan yang bisa dikemukakan. Diantaranya yang paling dominan adalah rasa rindu kepada kampung halaman dan kangen ingin berjumpa orangtua dan sanak saudara.

Meskipun mereka tinggal di kota yang nyaman, maju, subur untuk mengais rejeki, sementara kampung halaman mereka justru kumuh, terbelakang dan sulit mendapatkan rupiah, namun secara fitrah, manusia tetap merindukan tempat asalnya. Ibaratnya, “hujan batu di negri sendiri lebih baik daripada hujan emas di negri orang”.

Untuk menuntaskannya, jutaan orang tak segan-segan mengeluarkan biaya yang sangat banyak. Belum lagi jalanan yang macet dan kendaraan yang penuh sesak tentunya membutuhkan persiapan fisik dan mental yang prima.Toh, semua itu seolah tidak menjadi masalah. Buktinya, tiap tahun jumlah pemudik selalu meningkat.
Apa yang bisa kita ambil pelajaran dari fenomena ini?
Jika anda bukan pengikut Darwinisme, maka anda tentu berkeyakinan bahwa manusia berasal dari Adam dan Hawa. Lalu, dimana domisili asal Adam dan hawa? Surga! Jadi, kita sebenarnya adalah penduduk surga yang tengah mengembaran di dunia. Jika suatu saat kita harus mudik, masa iya kita akan mudik ke kampung lain? Orang yang berakal sehat seharusnya tahu jalan pulangnya!  

Ibnu Qayyim berkata,
“Salah satu kelebihan keledai –meski ia terkenal hewan paling bodoh-  adalah jika seseorang berjalan membawa keledai itu ke rumahnya dari tempat yang jauh, dalam kegelapan malam, maka keledai itu bisa mengenal rumah tersebut. Apabila dilepaskan (dalam kegelapan) dia bisa pulang ke rumah tersebut, serta mampu membedakan antara suara yang memerintahkannya berhenti dan yang memerintahkan berjalan. Maka barangsiapa yang tidak mengenal jalan kerumahnya –yaitu surga– dia lebih bodoh dari pada keledai." (Syifa al-'Alil, hlm. 74)
Tentu kita tidak lebih bodoh dari keledai, bukan?

Perjalanan menuju surga memang bukanlah jalan yang mudah. Ia adalah jalan yang terjal dan berliku. Sebuah hadits shahih memberikan sebuah gambaran yang sangat jelas:
“Ketika Allah menciptakan surga, Allah berfirman kepada Jibril, ‘Pergilah, lihatlah surga itu.’ Maka Jibril pun pergi dan melihat surga itu. Kemudian Jibril pun kembali dan berkata, ‘Demi kemuliaanmu ya Allah, tidak akan ada seorangpun yang mendengar tentang surga itu, kecuali pasti akan memasukinya.’ Lalu Allah memenuhi jalan-jalan menuju surga itu dengan al-Makârih, dan berfirman kepada Jibril, ‘kembalilah, dan lihatlah surga itu!’ Maka Jibril pun melihat kembali surga itu, kemudian kembali, seraya berkata, ‘demi kemuliaanmu ya Allah, sungguh aku khawatir bahwa tidak akan ada seorangpun yang bisa memasukinya.’ Kemudian diutuslah jibril ke neraka, Allah berfirman, ‘pergilah, lihatlah neraka itu!’ Maka Jibril pun melihat neraka itu, kemudian ia kembali dan berkata, ‘demi kemuliaanmu ya Allah, tidak akan ada seorangpun orang yang mendengarnya kemudian mau masuk ke dalamnya.’ Lalu Allah mengelilingi jalan menuju neraka itu dengan syahawat, lalu Allah berfirman, ‘pergilah dan lihatlah neraka itu’, maka Jibril pun pergi melihat kemudian kembali dan berkata, ‘demi kemuliaanmu ya Allah aku kawatir, tidak ada seorangpun yang tertinggal kecuali pasti akan memasukinya’ (Riwayat Imam Ahmad dan Hakim dari Abu Hurairah r.a.)

Perjalanan menuju surga penuh dengan rintangan. Namun, jika untuk mudik ke kampung kumuh saja kita berani jor-joran mengeluarkan uang, baik untuk ongkos yang selalu lebih mahal, atau untuk angpau lebaran; jika kita begitu rela berpeluh keringat antri untuk mendapatkan tiket, berdesakkan dalam kendaraan dan bersabar menjalani macetnya lalu lintas; jika kita seolah lupa bahwa setiap tahun, mudik terkadang membawa aroma kematian, tercatat, mudik tahun 2013, sebanyak 686 orang tewas dalam 3.061 kecelakaan; Lalu, mengapa untuk pulang ke surga tidak mau bersusah payah?

Padahal, kampung surga tidak seperti kampungnya yang di dunia yang kumuh dan terbelakang. Surga adalah tempat yang sangat indah, penuh dengan berbagai kenikmatan. Surga adalah kampung abadi. Masa iya, kita tidak rela mengeluarkan sedikit harta, tenaga dan waktu, atau nyawa sekalipun untuk meniti jalan ke surga?!
Surga adalah dagangan yang mahal tidak bisa dibeli dengan angan-angan dan kemalasan.

Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk bisa kembali pulang dengan selamat!
Share:

About

About Me

Foto Saya
Kajian Keluarga Muslim diinisiasi untuk memberikan bekal bagi para keluarga muslim agar bisa mejalankan misi berkeluarga sesuai Al-Quran: Selamat dari neraka (At-Tahrim: 6) Masuk surga bersama (Ath-Thur: 21) Melahirkan generasi terbaik (Al-Furqan: 74)