![]() |
| sumber gambar: www,yukpegi.com |
Apa yang dicari pemudik? Banyak
alasan yang bisa dikemukakan. Diantaranya yang paling dominan adalah rasa rindu
kepada kampung halaman dan kangen ingin berjumpa orangtua dan sanak saudara.
Meskipun mereka tinggal di kota
yang nyaman, maju, subur untuk mengais rejeki, sementara kampung halaman mereka
justru kumuh, terbelakang dan sulit mendapatkan rupiah, namun secara fitrah,
manusia tetap merindukan tempat asalnya. Ibaratnya, “hujan batu di negri
sendiri lebih baik daripada hujan emas di negri orang”.
Untuk menuntaskannya, jutaan orang
tak segan-segan mengeluarkan biaya yang sangat banyak. Belum lagi jalanan yang
macet dan kendaraan yang penuh sesak tentunya membutuhkan persiapan fisik dan
mental yang prima.Toh, semua itu seolah tidak menjadi masalah. Buktinya, tiap tahun
jumlah pemudik selalu meningkat.
Apa yang bisa kita ambil
pelajaran dari fenomena ini?
Jika anda bukan pengikut Darwinisme,
maka anda tentu berkeyakinan bahwa manusia berasal dari Adam dan Hawa. Lalu, dimana
domisili asal Adam dan hawa? Surga! Jadi, kita sebenarnya adalah penduduk surga
yang tengah mengembaran di dunia. Jika suatu saat kita harus mudik, masa iya
kita akan mudik ke kampung lain? Orang yang berakal sehat seharusnya tahu jalan
pulangnya!
Ibnu Qayyim berkata,
“Salah satu kelebihan keledai –meski ia terkenal hewan
paling bodoh- adalah jika seseorang
berjalan membawa keledai itu ke rumahnya dari tempat yang jauh, dalam kegelapan
malam, maka keledai itu bisa mengenal rumah tersebut. Apabila dilepaskan (dalam
kegelapan) dia bisa pulang ke rumah tersebut, serta mampu membedakan antara
suara yang memerintahkannya berhenti dan yang memerintahkan berjalan. Maka
barangsiapa yang tidak mengenal jalan kerumahnya –yaitu surga– dia lebih bodoh
dari pada keledai." (Syifa al-'Alil, hlm. 74)
Tentu kita tidak lebih bodoh dari keledai, bukan?
Perjalanan menuju surga memang bukanlah jalan yang mudah.
Ia adalah jalan yang terjal dan berliku. Sebuah hadits shahih memberikan sebuah
gambaran yang sangat jelas:
“Ketika
Allah menciptakan surga, Allah berfirman kepada Jibril, ‘Pergilah, lihatlah
surga itu.’ Maka Jibril pun pergi dan melihat surga itu. Kemudian Jibril pun
kembali dan berkata, ‘Demi kemuliaanmu ya Allah, tidak akan ada seorangpun yang
mendengar tentang surga itu, kecuali pasti akan memasukinya.’ Lalu Allah
memenuhi jalan-jalan menuju surga itu dengan al-Makârih, dan berfirman
kepada Jibril, ‘kembalilah, dan lihatlah surga itu!’ Maka Jibril pun melihat
kembali surga itu, kemudian kembali, seraya berkata, ‘demi kemuliaanmu ya
Allah, sungguh aku khawatir bahwa tidak akan ada seorangpun yang bisa memasukinya.’
Kemudian diutuslah jibril ke neraka, Allah berfirman, ‘pergilah, lihatlah neraka
itu!’ Maka Jibril pun melihat neraka itu, kemudian ia kembali dan berkata, ‘demi
kemuliaanmu ya Allah, tidak akan ada seorangpun orang yang mendengarnya
kemudian mau masuk ke dalamnya.’ Lalu Allah mengelilingi jalan menuju neraka
itu dengan syahawat, lalu Allah berfirman, ‘pergilah dan lihatlah neraka itu’,
maka Jibril pun pergi melihat kemudian kembali dan berkata, ‘demi kemuliaanmu
ya Allah aku kawatir, tidak ada seorangpun yang tertinggal kecuali pasti akan
memasukinya’ (Riwayat Imam Ahmad dan Hakim dari Abu Hurairah r.a.)
Perjalanan menuju surga penuh dengan rintangan. Namun, jika
untuk mudik ke kampung kumuh saja kita berani jor-joran mengeluarkan uang, baik untuk
ongkos yang selalu lebih mahal, atau untuk angpau lebaran; jika kita begitu rela berpeluh keringat antri untuk mendapatkan tiket, berdesakkan dalam kendaraan
dan bersabar menjalani macetnya lalu lintas; jika kita seolah lupa bahwa setiap tahun, mudik terkadang membawa aroma kematian, tercatat, mudik tahun
2013, sebanyak 686 orang tewas dalam 3.061 kecelakaan; Lalu, mengapa untuk
pulang ke surga tidak mau bersusah payah?
Padahal, kampung surga tidak seperti kampungnya yang di
dunia yang kumuh dan terbelakang. Surga adalah tempat yang sangat indah, penuh
dengan berbagai kenikmatan. Surga adalah kampung abadi. Masa iya, kita tidak
rela mengeluarkan sedikit harta, tenaga dan waktu, atau nyawa sekalipun untuk
meniti jalan ke surga?!
Surga adalah dagangan yang mahal tidak bisa dibeli dengan
angan-angan dan kemalasan.
Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk bisa kembali
pulang dengan selamat!












