Tadabbur Surah At Taubah ayat 51
قُلْ لَنْ يُصِيبَنا إِلاَّ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنا هُوَ مَوْلانا وَعَلَى
اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ (51)
Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang
telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada
Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.”
Ada empat kata kunci ketenangan dalam ayat yang ringkas ini. Empat kata
yang menyemai benih-benih optimisme di tengah badai wabah dan musibah yang
tengah terjadi akhir-akhir ini.
Pertama: kata “kataballah” (yang Allah tetapkan)
Jika urusanmu kebijakannya dirancang dan ditetapkan oleh seorang
pemimpin yang cerdas, bijaksana dan penuh kasih sayang, engkau akan merasa
tenang dan menerima dengan penuh rasa optimis. Lalu, bagaimana jika yang
merancang dan menetapkan urusanmu itu adalah Allah; sumber segala ilmu,
kebijaksanaan dan kasih sayang? Dalam ayat diatas disebutkan musibah itu
dirancang dan ditetapkan oleh Allah, maka tenangkanlah hatimu dan
berbahagialah.
Kedua: kata “lana” (untuk kami)
Dalam bahasa Arab, “lana” dan “alaina” sama-sama diterjemahkan untuk
kami. Tapi, konteks “lana” adalah kebaikan, kegembiraan dan kemaslahatan.
Sementara konteks “‘alaina” adalah keburukan, kesengsaraan dan kemudharatan. Musibah
ditetapkan Allah “lana” untuk kebaikan, kegembiraan dan kemaslahatan kita,
bukan “alaina” untuk keburukan, kesengsaraan dan kemudharatan kita. Demikianlah
para mufassir menterjemahkan ayat ini. Misalnya, Ibnu Asyur dalam At Tahrir wat
Tanwir (10/223) mengatakan:
فَهُوَ نَفْعٌ مَحْضٌ كَمَا تَدُلُّ عَلَيْهِ تَعْدِيَةُ فِعْلِ كَتَبَ بِاللَّامِ
الْمُؤْذِنَةِ بِأَنَّهُ كَتَبَ ذَلِكَ لِنَفْعِهِم
Ketiga: kata “Huwa maulana” (Allah Pelindung kami)
Jika para dokter merasa lebih tenang ketika bertugas dilengkapi dengan
Alat pelindung diri (APD), jika kita merasa terlindungi dengan berbagai
fasilitas yang mendukung kesehatan kita, maka bagaimana mungkin kita tidak
merasa tenang jika yang melindungi kita adalah Allah, sebaik-baiknya pelindung?
Dzat yang tidak pernai lalai, tertidur atau bahkan mengantuk barang sekejap
pun?
Keempat: “tawakkal” (bersandar kepada Allah).
Bersandar pada sesuatu yang rapuh akan membuat kita selalu was was dan
khawatir. Orang hanya akan merasa tenang jika ia bersandar pada sesuatu yg
kokoh. Dan siapakah yang lebih kuat, lebih kokoh, lebih agung daripada Allah?
Tidak ada! Dan Allah sudah menyediakan Diri-Nya bahkan memerintahkan agar kita
menjadikan-Nya sebagai tempat bersandar.
Wallahu a’lam.






0 #type=(blogger):
Posting Komentar