Nasehat Pernikahan
Apa sebenarnya
yang kita inginkan dari sebuah pernikahan? Kita mengorbankan banyak waktu,
tenaga, pikirn dan biaya. Kita mengundang orang-orang untuk menyaksikannya. Untuk
apa? Mudah-mudahan bukan karena sudah tidak tahan diomongin jomblo atau tidak
sekedar memenuhi siklus kehidupan; lahir, sekolah, kerja, menikah, punya anak,
mati.
Sebab, banyak
orang menikah tanpa tujuan, tanpa visi, mengalir begitu saja. Hanya untuk
melegalkan sebuah hubungan. Padahal, pernikahan adalah mitsaqan ghaliza; akad
yang agung, sakral, dan sangat berat. Bahkan mitsaqan ghaliza ini tiga kali disebutkan
dalam al Quran untuk merujuk perjanjian-perjanjian agung, termasuk salah
satunya akad nikah. Akad yang menghalalkan yang haram, mengharamkan yang halal,
memindahkan tanggung jawab dan merubah urutan prioritas nafkah.
Saudaraku
pengantin pria, saya menyampaikan hal ini bukan karena sudah menjadi suami yang
sempurna, tapi ini adalah ekspresi kebahagiaan, dan untuk menunaikan kewajiban
yang menjadi hak sesame muslim untuk saling menasehati. Jika rumah tangga
diibaratkan sebagai bahtera, maka antum adalah nakhodanya. Antum yang akan
memimpin semua awak kapal untuk sampai pada tujuan pernikahan:
Pertama,
bagaimana menyelamatkan semua anggota keluarga dari api neraka, sebagaimana
firman Allah dalam at tahrim: 6
Kedua,
bagaimana bahtera ini membawa semua anggota keluarga masuk ke dalam surge bersama-sama,
dalam satu surge, sebagaimana firman Allah dalam surah at thur: 21.
Ketiga,
bagaimana dari bahtera inilah lahir kader-kader, calon-calon pemimpin, pelopor
kebaikan, mencetak generasi Robbani yang mencintai dan dicintai Allah, berjuang
dengan keikhlasan untuk memakmurkan, mencerdaskan ummat, sebagaimana firman
Allah dalam surah an al furqan: 72
Persis
seperti bahtera Nabi Nuh yang menyelamatkan semua penghuninya dari azab Allah,
mengantarkan mereka pada keridhaan Allah dan melahirkan generasi terbaik berikutnya
.
Saudariku,
saya menyampaikan nasehat ini bukan berarti istri saya sudah begitu sempurna,
tapi ini adalah ekspresi kebahagiaan, dan untuk menunaikan kewajiban yang
menjadi hak sesame muslim untuk saling menasehati. Jika dulu surge dan nerakamu
adalah orangtuamu, sekarang suamimu adalah surgamu atau nerakamu. Nabi bersabda
kepada bibi Hushain bin Mihshan:
فَانْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ
“Perhatikanlah
posisimu terhadapnya. Sesungguhnya yang menentukan surga dan nerakamu terdapat
pada (sikapmu terhadap) suamimu.” (HR. Ahmad: 18233)
Jadilah istri
terbaik untuk suamimu. Jika dipandang menyenangkan, jika diperintah taat, jika
ditinggal dia akan menjaga kehormatan, anak dan harta suami.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya,
“Perempuan seperti apa yang paling baik?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ
فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ
Yang paling
menyenangkan jika dilihat suami, mentaati suami jika suami memerintahkan
sesuatu, dan tidak menyelisihi suami dalam diri dan hartanya dengan apa yang
dibenci oleh suaminya.” (HR. An-Nasa’i no. 3231, dinilai shahih oleh Syaikh
Al-Albani)
Saudara dan saudariku yang berbahagia, pergaulilah pasanganmu dengan cara yang makruf. Pasangan hidupmu tidak mungkin sempurna, sebagaimana halnya dirimu yang tidak mungkin sempurna. Sebab itu, terima dan syukurilah kebaikannya dan jadikanlah kekurangannya sebagai ladang ibadah:
- Dengan menutupi keburukannya
- Dengan memperbaiki kesalahannya
- Dengan bersabar membersamainya
فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَيَجْعَلَ ٱللَّهُ
فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
Kemudian bila
kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak
menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS.
An Nisa: 19)
Kemudian,
pernikahan itu bukan cuma antara aku dengan kamu, akan tetapi mengikat keluargaku
dan keluargamu. Sebab itu, hormatilah dan sayangilah mertuamu sebagaimana kamu
menghormati dan menyayangi orangtuamu. Bantulah pasanganmu untuk tetap bisa
berbuat baik kepada orangtuanya.
Demikian,
semoga Allah membimbing kita semua menuju kebaikan-kebaikan.
Barokallahu
lakuma wa baaroka alaikuma, wajama’a bainakuma fi khair.






0 #type=(blogger):
Posting Komentar