Semua kaum
muslimin sepakat, bahwa Nabi Akhir Zaman adalah seorang Nabi yang ummi, label
ini melekat pada sosok agung Muhammad SAW dalam dua literatur utama; Al-Qur`an
dan Hadits. Meski demikian, mereka kemudian berbeda pendapat untuk menentukkan
makna dari kata ummi.
Mayoritas
cendekiawan menterjemahkan kata ummi sebagai ketidakmampuan membaca dan
menulis (buta huruf). Sementara sebagian lain berpendapat bahwa Rasulullah
bukanlah seseorang yang buta huruf, ummi diterjemahkan dengan ketiadaan
kitab suci, sehingga ummiyyun berarti umat yang tidak memiliki kitab
suci, berbeda dengan Yahudi dan Nasrani.
Pendapat
ini juga mendapatkan sokongan dari kaum orientalis memang tidak pernah berhenti
untuk menyerang fondasi hukum Islam yang sudah mapan dalam bentuk al-Qur`an
al-Karim. Dikhawatirkan mereka hendak menuju kepada tujuan orang-orang sebelum
mereka yang mengatakan bahwa Al-Qur`an adalah bikinan Muhammad. Dan salah
satu gerbang menuju kesana adalah dengan meruntuhkan keummian Rasulullah SAW dalam
arti tidak mampu membaca dan menulis. Dengan demikian, kelak, mereka akan
dengan mudah mengatakan bahwa Muhammad lah yang mengarang Al-Qur`an dengan
kemampuannya.
Definisi
Ummi
Dalam
Lisaanul Arab, kata
ummi dilekatkan pada kondisi seperti baru terlahir
dari perut ibunya. Orang yang tidak bisa menulis disebut
ummi, karena
kondisinya persis seperti bayi yang baru lahir, karena kemampuan menulis adalah
hasil pembelajaran.
Demikian
pula Raghib Al-Isfahani berkata:
Ummi adalah orang yang tidak bisa
membaca dan menulis.
Sementara az-Zuhri berkata: dikatakan kepada orang
yang tidak mampu membaca dan menulis: ummi, karena keadaannya persis
seperti kondisi waktu dilahirkan ibunya.
Dengan
demikian, secara bahasa, ummi berarti orang yang tidak bisa membaca dan
menulis, kondisi ini diibaratkan seperti orang yang baru lahir dari perut
ibunya.
Pun demikian
dengan mayoritas ahli tafsir. mereka tidak berbeda dengan ahli lughah dalam
menafsirkan kata
ummi. Ibnu Katsir, misalnya, menyitir pendapat Mujahid,
Qatadah, Ibrahim an-Nakh'i dan yang lainnya, bahwa
ummi berarti orang
yang tidak pandai menulis.
At-Thabari berkata: yang dimaksud dengan
ummiyyin adalah orang-orang
yang tidak bisa membaca dan menulis, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah
SAW, "
kami adalah umat yang tidak membaca, menulis dan berhitung."
Sementara
di kubu yang berbeda, ummi diterjemahkan sebagai orang diluar Yahudi dan
Nasrani (gentile, goyem) atau orang yang tidak mempunyai Kitab
Suci. Pendapat inilah yang diusung beberapa cendekia kontemporer, semisal
al-Maqdisi dalam bukunya Khuraafatu Ummiyyati Muhammad, Syahrur dalam al-Kitaab wal-Qur`an dan
lain-lain.
Mereka Beradu Argumen
Banyak
sekali argumen yang dikemukakan kelompok pertama, namun penulis hanya menyitir
beberapa diantaranya:
Pertama,
firman Allah:
وَمَا كُنْتَ تَتْلُو مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ
بِيَمِينِكَ إِذًا لَارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ
"Dan kamu tidak pernah membaca
sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitab pun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu
Kitab dengan tangan kananmu; Andaikata (kamu pernah membaca dan menulis),
benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu)." (QS. Al-Ankabut:
48)
Kedua, hadits
riwayat Imam Muslim dari Ibnu Umar, bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, "Kita adalah umat yang ummi (buta
huruf), kita tidak menulis dan tidak pula menghitung."
Ketiga, jika nabi
Muhammad bisa membaca dan menulis, niscaya hal ini akan tersebar luas
dikalangan kaum Quraisy sehingga bisa dijadikan senjata untuk menyebarkan
keraguaan akan sumber hukum Islam. Akan
tetapi, kaum Quraisy tidak pernah menyinggung masalah ini, hal itu menunjukkan
bahwa Nabi memang tidak bisa membaca dan menulis. Selain itu, ketidakmampuan
nabi dalam membaca dan menulis semakin memperkuat mukjizat kenabiannya, dengan
kondisi kebutahurufannya, ia mampu mengajarkan manuisa al-Kitab, hikmah dan
menyucikan kaumnya.
Adapun argumen
kelompok kedua, bisa kita ringkas sebagai berikut:
Argumen
pertama, al-Maqdisi menggugat penafsiran Al-Qur`an surat al-Ankabut: 48 yang menjadi sandaran
utama kaum yang meyakini ketidakmampuan Nabi untuk membaca dan menulis. Menurutnya,
ayat ini hanya menafikan pembacaan dan penulisan langsung oleh Nabi Muhammad
sendiri. Bahkan, ayat ini tidak sejalan dengan firman Allah dalam surat Al-An'aam:
وَكَذَلِكَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ وَلِيَقُولُوا دَرَسْتَ وَلِنُبَيِّنَهُ
لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
"Demikianlah kami mengulang-ulangi
ayat-ayat kami supaya (orang-orang yang beriman mendapat petunjuk) dan supaya
orang-orang musyrik mengatakan: "Kamu telah mempelajari ayat-ayat itu
(dari ahli Kitab)", dan supaya kami menjelaskan Al Quran itu kepada
orang-orang yang Mengetahui." (QS. Al-An’am: 105)
Al-Maqdisi berkata:
darasta artinya
qara`ta,
engkau telah membaca. Namun orang-orang terdahulu seperti Ibnu Abbas dan
sebagian tabi'in membacanya dengan teknik Bashrah:
daarasta, dengan
tambahan alif yang berarti engkau telah membacanya dan mempelajarinya dari ahli
Kitab.
Namun, pandangan ini bisa disanggah, karena darasta
berarti mempelajari, dan itu tidak harus dengan membaca, banyak cara untuk
mempelajari sesuatu selain dengan membaca. Adapun jika darasta dimaknai
dengan qara'ta, maka kasusnya sama dengan hadits Rasulullah SAW, "tidak
sah shalat seseorang apabila tidak membaca (la yaqra`) Fatihah." Dalam
hadits ini, qara`a berarti talaa, melafalkan. Orang yang membaca Fatihah
tidak harus bisa membaca abjad.
Argumen kedua, firman Allah:
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا
مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ
وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
"Dia-lah
yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang
membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan
mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya
benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (QS. Al-Jumu’ah: 2)
Ayat diatas jelas
menunjukkan bahwa kata ummiyyin berarti kaum yang tidak memiliki Kitab
Suci, selain kaum yahudi dan Nasrani. Meskipun diandaikan kata
ummiyyin disitu sebagai orang yang tidak
bisa baca tulis, namun tidak secara otomatis Rasul yang diutus untuk mereka
juga tidak bisa baca tulis. Juga tidak berarti bahwa Rasul hanya diutus untuk
kaum buta abaca tulis saja. Analisis ini berarti menyamakan nabi dengan
kemampuan umatnya juga akan menafikan universalitas Islam, Al-Qur`an dan
ajarannya.
Anggapan ini
kurang tepat, sebab jika kata ummiyyin diartikan sebagai kaum yang tidak
memiliki Kitab Suci atau umat selain Yahudi dan Nasrani, maka bagaimana kita
memahami firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 78:
"Dan diantara mereka ada ummiyyun yang
tidak mengetahui al-Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka
hanya menduga-duga."
Ayat ini jelas berbicara tentang sifat orang
Yahudi. Dikalangan bangsa Arab, kaum Yahudi terkenal sebagai kaum yang kapabel
dalam al-Kitab, karena itu dikatakan dalam ayat ini bahwa sebagian dari kaum
Yahudi ada juga orang yang tidak mengerti al-Kitab.
Kemudian, asumsi pemaknaan ummiyyin
dengan buta huruf akan membatasi universalitas Islam adalah keliru. Sebab, ta'miimul
khaash adalah hal yang jamak dalam bahasa Arab dengan qarinah situasi medan
dakwah Rasulullah SAW ketika itu, pada awalnya, memang banyak bersentuhan
dengan kaum dhuafa dan kurang terpelajar.
Argumen ketiga, hadits Rasulullah SAW yang
diriwayatkan Imam Bukhari dalam kisah perjanjian Hudaibiyyah. Dalam hadits ini
disebutkan bahwa Rasulullah SAW menyuruh Ali bin Abi Thalib untuk menghapus
kata 'Rasulullah', akan tetapi Ali menolak, seraya berkata, "demi Tuhan
aku tidak akan menghapusnya." Tetapi Nabi kemudian mengambil kertas
tersebut. Walau tidak mahir menulis, beliau tetap menulis.."
Riwayat ini jelas menunjukkan bahwa Nabi bisa
menulis, dengan demikian ia pandai pula membaca.
Akan tetapi jika ditelaah lebih lanjut, Imam
Bukhari meriwayatkan peristiwa ini melalui beberapa jalan. Para
rawi yang menerima hadits ini dari Barra bin 'Azib meriwayatkannya kembali
dengan redaksi yang tidak seragam. Riwayat diatas datang dari jalan Ubaidillah
bin Musa dari Israil dari Abu Ishaq dari Barra bin 'Azib. Adapun yang melalui
Ibrahim bin Yusuf bin Abi Ishaq dari Barra bin 'Azib terdapat perbedaan redaksi
dengan adanya lafadz "fa ariniihi" (tunjukkan padaku letak
kata itu). Lalu Ali menunjukkannya hingga kemudian Rasulullah SAW menghapusnya
dengan tangannya."
Selain itu, adapula riwayat shahih diluar
Shahih Bukhari mengenai peristiwa ini, yaitu riwayat Ibnu Hibban dalam
Shahih-nya dari Muhammad bin Utsman al-'Ajly, ia berkata: Ubaidillah bin Musa
telah menceritakan hadits ini kepadaku dari Israil dari Abu Ishaq dari Barra
bin 'Azib, ia berkata: kemudian Rasulullah SAW mengambil tulisan itu, sedang ia
tidak pandai menulis, lalu ia memerintahkan Ali untuk mencatat, dan Ali pun
menuliskan (kata 'abdullah') di tempat 'rasulullah'."
Dari berbagai riwayat diatas bisa kita
simpulkan: pertama, redaksi yang mengisahkan peristiwa hudaibiyyah saling
melengkapi. Kedua, kata fa ariniihi dalam riwayat diatas menujukkan
bahwa bahwa Nabi tidak bisa membaca sehingga harus meminta bantuan Ali untuk
menunjukkan letak kata "rasulullah" untuk dihapus. Ketiga,
kata fa kataba, tidak hanya berarti ia menulisnya secara langsung dengan
tangannya sendiri, akan tetapi bisa juga berarti ia memerintahkan ali untuk
menuliskannya, seperti dalam kalimat "Gubernur membangun jembatan kota",
tidak berarti ia sendiri yang harus membangun, ia mungkin hanya memerintahkan
saja.
Argument keempat, hadits riwayat Imam Muslim
dari Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW bersabda, "
Dajjal
itu matanya buta, diantara kedua matanya tertulis 'Kafir' -beliau mengeja K A F
I R- setiap muslim bisa membacanya."
Dalam hadits ini jelas Rasulullah SAW bisa
mengeja huruf KAFIR, dengan demikian beliau sebenarnya bisa membaca.
Namun, argumen inipun kurang kuat, karena proses
mengeja itu bisa berbentuk dua macam; pertama mengeja berdasarkan suara yang
terdengar, dan ini bisa dikerjakan siapapun, yang bisa membaca ataupun yang
buta huruf. Kedua, mengeja berdasarkan huruf yang tertulis, dan ini khusus bagi
mereka yang bisa membaca.
Selain itu, dalam riwayat lain disebutkan, "
Sesungguhnya
Dajjal buta matanya, di atas matanya ada kulit tebal, diantara kedua matanya
tertulis KAFIR yang bisa dibaca oleh setiap mu`min yang bisa baca tulis atau
pun tidak."
Wallahua'lam.