"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka ..."

Benarkah Nabi itu Ummi?

Semua kaum muslimin sepakat, bahwa Nabi Akhir Zaman adalah seorang Nabi yang ummi, label ini melekat pada sosok agung Muhammad SAW dalam dua literatur utama; Al-Qur`an dan Hadits. Meski demikian, mereka kemudian berbeda pendapat untuk menentukkan makna dari kata ummi.
Mayoritas cendekiawan menterjemahkan kata ummi sebagai ketidakmampuan membaca dan menulis (buta huruf). Sementara sebagian lain berpendapat bahwa Rasulullah bukanlah seseorang yang buta huruf, ummi diterjemahkan dengan ketiadaan kitab suci, sehingga ummiyyun berarti umat yang tidak memiliki kitab suci, berbeda dengan Yahudi dan Nasrani.
Pendapat ini juga mendapatkan sokongan dari kaum orientalis memang tidak pernah berhenti untuk menyerang fondasi hukum Islam yang sudah mapan dalam bentuk al-Qur`an al-Karim. Dikhawatirkan mereka hendak menuju kepada tujuan orang-orang sebelum mereka yang mengatakan bahwa Al-Qur`an adalah bikinan Muhammad. Dan salah satu gerbang menuju kesana adalah dengan meruntuhkan keummian Rasulullah SAW dalam arti tidak mampu membaca dan menulis. Dengan demikian, kelak, mereka akan dengan mudah mengatakan bahwa Muhammad lah yang mengarang Al-Qur`an dengan kemampuannya.

Definisi Ummi
Dalam Lisaanul Arab, kata ummi dilekatkan pada kondisi seperti baru terlahir dari perut ibunya. Orang yang tidak bisa menulis disebut ummi, karena kondisinya persis seperti bayi yang baru lahir, karena kemampuan menulis adalah hasil pembelajaran.[1]
Demikian pula Raghib Al-Isfahani berkata: Ummi adalah orang yang tidak bisa membaca dan menulis.[2]
Sementara az-Zuhri berkata: dikatakan kepada orang yang tidak mampu membaca dan menulis: ummi, karena keadaannya persis seperti kondisi waktu dilahirkan ibunya.[3]
Dengan demikian, secara bahasa, ummi berarti orang yang tidak bisa membaca dan menulis, kondisi ini diibaratkan seperti orang yang baru lahir dari perut ibunya.
Pun demikian dengan mayoritas ahli tafsir. mereka tidak berbeda dengan ahli lughah dalam menafsirkan kata ummi. Ibnu Katsir, misalnya, menyitir pendapat Mujahid, Qatadah, Ibrahim an-Nakh'i dan yang lainnya, bahwa ummi berarti orang yang tidak pandai menulis.[4] At-Thabari berkata: yang dimaksud dengan ummiyyin adalah orang-orang yang tidak bisa membaca dan menulis, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW, "kami adalah umat yang tidak membaca, menulis dan berhitung."[5]
Sementara di kubu yang berbeda, ummi diterjemahkan sebagai orang diluar Yahudi dan Nasrani (gentile, goyem) atau orang yang tidak mempunyai Kitab Suci. Pendapat inilah yang diusung beberapa cendekia kontemporer, semisal al-Maqdisi dalam bukunya Khuraafatu Ummiyyati Muhammad, Syahrur dalam al-Kitaab wal-Qur`an dan lain-lain.

Mereka Beradu Argumen
Banyak sekali argumen yang dikemukakan kelompok pertama, namun penulis hanya menyitir beberapa diantaranya:
Pertama, firman Allah:
وَمَا كُنْتَ تَتْلُو مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ إِذًا لَارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ
"Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitab pun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; Andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu)." (QS. Al-Ankabut: 48)
Kedua, hadits riwayat Imam Muslim dari Ibnu Umar, bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, "Kita adalah umat yang ummi (buta huruf), kita tidak menulis dan tidak pula menghitung."[6]
Ketiga, jika nabi Muhammad bisa membaca dan menulis, niscaya hal ini akan tersebar luas dikalangan kaum Quraisy sehingga bisa dijadikan senjata untuk menyebarkan keraguaan akan sumber hukum Islam. Akan tetapi, kaum Quraisy tidak pernah menyinggung masalah ini, hal itu menunjukkan bahwa Nabi memang tidak bisa membaca dan menulis. Selain itu, ketidakmampuan nabi dalam membaca dan menulis semakin memperkuat mukjizat kenabiannya, dengan kondisi kebutahurufannya, ia mampu mengajarkan manuisa al-Kitab, hikmah dan menyucikan kaumnya.

Adapun argumen kelompok kedua, bisa kita ringkas sebagai berikut:
Argumen pertama, al-Maqdisi menggugat penafsiran Al-Qur`an surat al-Ankabut: 48 yang menjadi sandaran utama kaum yang meyakini ketidakmampuan Nabi untuk membaca dan menulis. Menurutnya, ayat ini hanya menafikan pembacaan dan penulisan langsung oleh Nabi Muhammad sendiri. Bahkan, ayat ini tidak sejalan dengan firman Allah dalam surat Al-An'aam:
وَكَذَلِكَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ وَلِيَقُولُوا دَرَسْتَ وَلِنُبَيِّنَهُ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
"Demikianlah kami mengulang-ulangi ayat-ayat kami supaya (orang-orang yang beriman mendapat petunjuk) dan supaya orang-orang musyrik mengatakan: "Kamu telah mempelajari ayat-ayat itu (dari ahli Kitab)", dan supaya kami menjelaskan Al Quran itu kepada orang-orang yang Mengetahui." (QS. Al-An’am: 105)
Al-Maqdisi berkata: darasta artinya qara`ta, engkau telah membaca. Namun orang-orang terdahulu seperti Ibnu Abbas dan sebagian tabi'in membacanya dengan teknik Bashrah: daarasta, dengan tambahan alif yang berarti engkau telah membacanya dan mempelajarinya dari ahli Kitab.[7]
Namun, pandangan ini bisa disanggah, karena darasta berarti mempelajari, dan itu tidak harus dengan membaca, banyak cara untuk mempelajari sesuatu selain dengan membaca. Adapun jika darasta dimaknai dengan qara'ta, maka kasusnya sama dengan hadits Rasulullah SAW, "tidak sah shalat seseorang apabila tidak membaca (la yaqra`) Fatihah." Dalam hadits ini, qara`a berarti talaa, melafalkan. Orang yang membaca Fatihah tidak harus bisa membaca abjad.

Argumen kedua, firman Allah:
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
"Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (QS. Al-Jumu’ah: 2)
Ayat diatas jelas menunjukkan bahwa kata ummiyyin berarti kaum yang tidak memiliki Kitab Suci, selain kaum yahudi dan Nasrani. Meskipun diandaikan kata ummiyyin disitu sebagai orang yang tidak bisa baca tulis, namun tidak secara otomatis Rasul yang diutus untuk mereka juga tidak bisa baca tulis. Juga tidak berarti bahwa Rasul hanya diutus untuk kaum buta abaca tulis saja. Analisis ini berarti menyamakan nabi dengan kemampuan umatnya juga akan menafikan universalitas Islam, Al-Qur`an dan ajarannya.[8]
Anggapan ini kurang tepat, sebab jika kata ummiyyin diartikan sebagai kaum yang tidak memiliki Kitab Suci atau umat selain Yahudi dan Nasrani, maka bagaimana kita memahami firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 78:
"Dan diantara mereka ada ummiyyun yang tidak mengetahui al-Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga."
Ayat ini jelas berbicara tentang sifat orang Yahudi. Dikalangan bangsa Arab, kaum Yahudi terkenal sebagai kaum yang kapabel dalam al-Kitab, karena itu dikatakan dalam ayat ini bahwa sebagian dari kaum Yahudi ada juga orang yang tidak mengerti al-Kitab.[9]
Kemudian, asumsi pemaknaan ummiyyin dengan buta huruf akan membatasi universalitas Islam adalah keliru. Sebab, ta'miimul khaash adalah hal yang jamak dalam bahasa Arab dengan qarinah situasi medan dakwah Rasulullah SAW ketika itu, pada awalnya, memang banyak bersentuhan dengan kaum dhuafa dan kurang terpelajar.

Argumen ketiga, hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam kisah perjanjian Hudaibiyyah. Dalam hadits ini disebutkan bahwa Rasulullah SAW menyuruh Ali bin Abi Thalib untuk menghapus kata 'Rasulullah', akan tetapi Ali menolak, seraya berkata, "demi Tuhan aku tidak akan menghapusnya." Tetapi Nabi kemudian mengambil kertas tersebut. Walau tidak mahir menulis, beliau tetap menulis.."[10]
Riwayat ini jelas menunjukkan bahwa Nabi bisa menulis, dengan demikian ia pandai pula membaca.
Akan tetapi jika ditelaah lebih lanjut, Imam Bukhari meriwayatkan peristiwa ini melalui beberapa jalan. Para rawi yang menerima hadits ini dari Barra bin 'Azib meriwayatkannya kembali dengan redaksi yang tidak seragam. Riwayat diatas datang dari jalan Ubaidillah bin Musa dari Israil dari Abu Ishaq dari Barra bin 'Azib. Adapun yang melalui Ibrahim bin Yusuf bin Abi Ishaq dari Barra bin 'Azib terdapat perbedaan redaksi dengan adanya lafadz "fa ariniihi" (tunjukkan padaku letak kata itu). Lalu Ali menunjukkannya hingga kemudian Rasulullah SAW menghapusnya dengan tangannya."
Selain itu, adapula riwayat shahih diluar Shahih Bukhari mengenai peristiwa ini, yaitu riwayat Ibnu Hibban dalam Shahih-nya dari Muhammad bin Utsman al-'Ajly, ia berkata: Ubaidillah bin Musa telah menceritakan hadits ini kepadaku dari Israil dari Abu Ishaq dari Barra bin 'Azib, ia berkata: kemudian Rasulullah SAW mengambil tulisan itu, sedang ia tidak pandai menulis, lalu ia memerintahkan Ali untuk mencatat, dan Ali pun menuliskan (kata 'abdullah') di tempat 'rasulullah'."
Dari berbagai riwayat diatas bisa kita simpulkan: pertama, redaksi yang mengisahkan peristiwa hudaibiyyah saling melengkapi. Kedua, kata fa ariniihi dalam riwayat diatas menujukkan bahwa bahwa Nabi tidak bisa membaca sehingga harus meminta bantuan Ali untuk menunjukkan letak kata "rasulullah" untuk dihapus. Ketiga, kata fa kataba, tidak hanya berarti ia menulisnya secara langsung dengan tangannya sendiri, akan tetapi bisa juga berarti ia memerintahkan ali untuk menuliskannya, seperti dalam kalimat "Gubernur membangun jembatan kota", tidak berarti ia sendiri yang harus membangun, ia mungkin hanya memerintahkan saja.

Argument keempat, hadits riwayat Imam Muslim dari Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW bersabda, "Dajjal itu matanya buta, diantara kedua matanya tertulis 'Kafir' -beliau mengeja K A F I R- setiap muslim bisa membacanya."[11]
Dalam hadits ini jelas Rasulullah SAW bisa mengeja huruf KAFIR, dengan demikian beliau sebenarnya bisa membaca.
Namun, argumen inipun kurang kuat, karena proses mengeja itu bisa berbentuk dua macam; pertama mengeja berdasarkan suara yang terdengar, dan ini bisa dikerjakan siapapun, yang bisa membaca ataupun yang buta huruf. Kedua, mengeja berdasarkan huruf yang tertulis, dan ini khusus bagi mereka yang bisa membaca.
Selain itu, dalam riwayat lain disebutkan, "Sesungguhnya Dajjal buta matanya, di atas matanya ada kulit tebal, diantara kedua matanya tertulis KAFIR yang bisa dibaca oleh setiap mu`min yang bisa baca tulis atau pun tidak."[12]
Wallahua'lam.


[1] Ibnu Mandzur, Lisaanul 'Arab (Beirut: Dar Shadir, Cet. I), 12/34
[2] Raghib al-Isfahani, Ghariibul Qur`an,  hal. 28
[3] Zahir al-Harwi, Az-Zahiir fi Ghariib Alfazhi Syafi'i (Kuwait: Wuzaratul Auqaaf, 1399), 1/109
[4] Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur`an al-Adzim (Riyadh: Dar Thayyibah, 1999), 1/310
[5] Ibnu Jarir at-Thabari, Jaami'ul Bayaan fi Tafsiir Aay al-Qur`an,1/373
[6] Muslim, al-Jaami' As-Shahiih (Beirut: Dar al-Jail), hadits nomor 1806 (Shahiih Muslim)
[7] Al-Maqdisi, Khuraafatu Ummiyyati Muhammad, Edisi Indonesia: Nabi Muhammad; Buta atau Genius (Jakarta: Nun Publishing), hal 55
[8] Nabi Muhammad; Buta atau Genius, hal 61
[9] Ibnu Asyur, At-Tahriir wat-Tanwiir, (Dar Tunisiyyah, 1984), I/573
[10] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Al-Jaami' As-Shahiih al-Mukhtashar, (Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1987) hadits nomor 4251
[11] Shahiih Muslim (5221)
[12] Shahiih Muslim (5223)
Share:

0 #type=(blogger):

Posting Komentar

About

About Me

Foto Saya
Kajian Keluarga Muslim diinisiasi untuk memberikan bekal bagi para keluarga muslim agar bisa mejalankan misi berkeluarga sesuai Al-Quran: Selamat dari neraka (At-Tahrim: 6) Masuk surga bersama (Ath-Thur: 21) Melahirkan generasi terbaik (Al-Furqan: 74)