قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: " نِمْتُ، فَرَأَيْتُنِي فِي الْجَنَّةِ، فَسَمِعْتُ صَوْتَ
قَارِئٍ يَقْرَأُ، فَقُلْتُ: مَنْ هَذَا ؟ فَقَالُوا: هَذَا حَارِثَةُ بْنُ
النُّعْمَانِ " فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
" كَذَلِكَ الْبِرُّ ، كَذَلِكَ الْبِرُّ " وَكَانَ أَبَرَّ النَّاسِ
بِأُمِّهِ
Dari Aisyah
r.a. berkata: Rasulullah s.a.w. telah bersabda, " Ketika aku sedang tidur, aku mendapati diriku berada didalam surga,
tiba-tiba aku mendengar suara seseorang membaca al-qur'an, kemudian aku
bertanya, "Siapa itu?" Mereka menjawab: "Haritshah ibn
Nu'man." Kemudian Rasulullah s.a.w
bersabda, "Begitulah kebaikan, begitulah kebaikan (kepada orang
tua)."
Haritsah ibn
Nu'man adalah seorang sahabat yang terkenal sebagai orang yang senantiasa
berbuat baik kepada Ibunya.
Riwayat singkat Haritsah ibn Nu'man
Namanya
Haritsah ibn Nu'man Al-Anshary al-Najary, seorang ahli suffah. Ikut
serta dalam perang Badar, Uhud, Khandaq dan semua peperangan bersama
Rasulullah. Termasuk sahabat-sahabat Rasulullah yang utama dan salah seorang
dari 80 orang yang tetap tinggal di medan perang dan tidak melarikan diri
ketika perang Hunain.
Di penghujung
usianya, Haritsah ibn Nu'man mengalami gangguan pada penglihatannya. Beliau
adalah seorang yang sangat dermawan. Suatu saat, keluarganya pernah berkata,
"Kami mencukupimu." Tapi Haritsah berkata, "aku mendengar
Rasulullah bersabda: “memberi makan orang miskin bisa mencegah kematian dalam
keadaan buruk."
Begitulah Haritshah sampai
kemudian ia wafat pada masa Mu'awiyah.
Faidah Hadits: Berbuat baik
Kepada Orang Tua
Salah satu hal
yang sangat mendapat perhatian dalam syariat islam adalah orang tua. Cukup
kiranya wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sebagai saksi pentingnya
menghormati kedua orang tua, bahwa Allah telah menurunkan perintah untuk
beribadah kepadaNya diiringi dengan perintah berbuat baik kepada orang tua.
Tidak ada ibadah yang sebenar-benarnya ibadah kecuali diiringi dengan
penghormatan dan penghargaan terhadap orang tua.
Tinta Ummat ini,
Abdullah bin Abbas berkata, "Tiga ayat diiringi oleh tiga ayat, dan
melaksanakan salah satunya tidak akan diterima tanpa melaksanakan pasangannya;
1. "Taatilah Allah dan
taatilah RasulNya" (QS. At-Taghabun: 12) Barang siapa yang taat kepada
Allah tapi tidak taat kepada Rasul, maka ketaatannya tidak akan diterima.
2. "Dirikanlah shalat dan
tunaikanlah zakat" (QS. Al-Baqarah: 43) Barang siapa yang mendirikan
shalat tapi tidak menunaikan zakat, maka tidak akan diterima.
3. "Bersyukurlah
kepadaKu dan kedua orang tuamu" (QS. Luqman: 14) Barang siapa yang
bersyukur kepada Allah tapi tidak berterimakasih kepada kedua orang tua, maka kesyukurannya tidak akan
diterima.
Dengan demikian, memuliakan
kedua orang tua adalah bagian yang tidak terpisahkan di dalam akidah islam.
Sebab Allah tidak akan menerima amalan fardlu atau sunnah, kecuali jika
diiringi dengan berbuat baik kepada orang tua.
Saking pentingnya, Allah selalu mengulang-ulang
pesanNya didalam Al Qur'an agar kita selalu berbuat baik kepada kedua orang tua
sebagaimana Allah mengulang-ulang ancaman bagi orang yang menyakiti mereka.
Allah SWT berfirman dalam Al
Qur'an, "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu
jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu
dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya
sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu
mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu
membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
Dan
rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan
ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka
berdua telah mendidik aku waktu kecil." (QS. Al-Isra: 23-24)
Dalam Surat Al Nisâ Allah
berfirman, "Sembahlah Allah dan janganlah kamu
mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang
ibu-bapa." (QS. An-Nisa: 36)
Dalam surat lain Allah SWT juga berfirman, "Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang
ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan
sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti
keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang
telah kamu kerjakan." (QS. Al-Ankabut: 8)
Sedangkan dalam Surat Luqman
Allah berwasiat, "Dan Kami perintahkan kepada manusia
(berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam
keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.
Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah
kembalimu." (QS. Luqman: 14)
Begitu pula dalam Sunnah
Nabawiyah, banyak sekali hadits
yang menyatakan pentingnya berbuat baik kepada orang tua
.
Nabi SAW bersabda, "Keridlaan Tuhan terletak pada keredlaan ibu bapa."
Diriwayatkan Ahlussunan,
kecuali Tirmidzi dengan sanad yang shahih dari Abdullah bin Amru bin Ash: telah
datang kepada Rasulullah SAW seorang laki-laki kemudian berkata, "Saya
datang untuk berbaiat kepadamu wahai Rasulullah dan aku tinggalkan kedua
orangtuaku dalam keadaan menangis. Kemudian Rasulullah menjawab, "Kembalilah kepada mereka,
dan buatlan mereka tertawa sebagaimana kau telah membuat mereka menangis."
Dari Abu Harairah berkata:
Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah kemudian ia bertanya. "Siapakah
orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?
Rasulullah SAW menjawab,
"ibumu"
"kemudian siapa?"
"kemudian ibumu"
"kemudian siapa?"
"kemudian ibumu"
"kemudian siapa?
"kemudian bapakmu."
Dapat disimpulkan dari hadits
diatas bahwa ibu mempunyai kedudukan yang sangat istimewa dalam syariat Islam.
Ibu berhak mendapatkan kebaikan tiga kali lipat dari kebaikan yang diperoleh
seorang bapak. Hal ini disebabkan karena jerih payah seorang ibu ketika hamil
dan menyusui. Inilah jerih payah yang hanya dilalui seorang ibu, kemudian baru
bapak berperan bersama-sama dengan ibu dalam hal mengasuh dan mendidik.
Dalam Hadits lain, Rasulullah
SAW bersabda, "Muliakanlah Ibu bapakmu niscaya anak-anakmu akan
memuliakan kamu."
Rasulullah SAW adalah contoh manusia yang paling memuliakan kedua orang tuanya.
Pada tahun Hudaibiyah, Rasulullah melewati makam ibunya, Aminah binti Wahab, di
Abwa -diantara Makkah dan Madinah- saat itu Beliau beserta sahabatnya membawa
1000 orang pasukan berkuda. Beliau kemudian berhenti untuk menziarahi makam
ibunya dan menangis sehingga orang-orang disekitarnya ikut pula menangis,
kemudian beliau bersabda, "Aku meminta izin Tuhanku agar aku bisa memintakan
ampun baginya, tapi Tuhanku tidak mengizinkanku. Kemudian aku meminta izin
Tuhanku untuk menziarahinya, dan Tuhanku memperkenankannya. Maka berziarahlah
kalian, karena sesungguhnya ziarah kubur mengingatkan akan mati."
Adapun orang-orang yang menyakiti hati orang tuanya niscaya akan mendapatkan
balasan berupa adzab Allah yang sangat pedih. Rasulullah SAW bersabda, "Tiga
golongan tidak akan akan diperhatikan Allah di hari kiamat: orang yang
menyakiti kedua orangtuanya, wanita yang menyerupai laki-laki dan laki-laki
dayus. Tiga golongan manusia tidak akan masuk surga: Orang yang menyakiti orang
tuanya, orang yang gemar minum arak dan orang yang selalu menyebut-nyebut
pemberiannya."
Dalam hadits lain Rasulullah
SAW bersabda, "Maukah kalian aku ceritakan tentang dosa-dosa yang sangat
besar?
"Tentu, wahai
Rasulullah." Rasululullah SAW kemudian berkata, "Menyekutukan Allah,
menyakiti kedua orang tua..."
Dari Mughirah bin Syu'bah RA,
Rasulllah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian menyakiti
ibu, mengubur hidup-hidup anak perempuan..."
Perilaku Al 'uquq
(menyakiti) orangtua jelas keharamannya secara hukum syariat sekaligus tercela
menurut akal sehat. Akan tetapi, apa sebetulnya yang dimaksud dengan al
‘uquq?
Imam Al Balqini berkata: al-‘uqûq
terjadi jika seorang anak menyakiti keduanya atau salah satu dari mereka dengan
tindakan yang berlebihan menurut adat kebiasaan.
Contoh-contoh perbuatan yang
menyakiti orang tua:
- Membuat mereka menangis atau bersedih baik dengan
perkataan, perbuatan atau menyebabkan hal itu.
- Membentak mereka atau berkata-kata dengan suara
yang tinggi dan kasar ketika berbicara.
- Mengeluh dan menggerutu dalam melaksanakan
perintahnya
- Bermuka masam dan mengerutkan kening di depan
mereka
- Memandang mereka dengan tatapan sinis, meremehkan
tanpa ada rasa hormat. Muawiyah berkata, "Tidak disebut berbakti orang
yang memelototi orangtuanya.
- Memerintah mereka; seperti menyuruh ibu
membersihkan rumah, mencuci pakaian atau menyiapkan hidangan.
Pekerjaan-pekerjaan seperti ini tidak layak dibebankan kepada seorang ibu,
apalagi ketika sang ibu sedang sakit, lemah atau sudah udzur usianya.
- Mencela makanan yang dihidangkan Ibu.
- Tidak membantu mereka dalam mengerjakan rumah,
seperti merapikan dan mengatur perabotan, menyiapkan hidangan atau hal lainnya.
- Memalingkan muka ketika mereka sedang berbicara,
tidak mendengarkan perkataannya, suka memotong ucapan, menganggap mereka bohong
dan selalu mendebat perkataannya.
- Tidak berusaha meminta pendapat mereka. Dalam kenyataan, banyak sekali anak yang enggan meminta petunjuk atau meminta
izin orangtua dalam memutuskan sesuatu hal. Seperti dalam perkawinan,
perceraian, pergi dari rumah dan menginap di luar atau pergi bersama
rekan-rekannya ke suatu tempat.
- Tidak meminta izin ketika memasuki ruang
pribadinya.
- Mengungkit-ngungkit masalah pribadi di hadapan
mereka, baik masalah dengan sahabat, saudara, istri ataupun anaknya.
- Mencela, mencemarkan atau menyebutkan aib mereka
dihadapan orang lain.
- Mengumpat orang tua baik secara langsung ataupun
tidak langsung. Maksud secara tidak langsung dengan cara seorang anak mengumpat
orangtua seseorang, kemudian orang tersebut balas mengumpat orangtuanya. Dari
Abdullah bin Amru RA bahwa Rasulullah SAW berkata, “Termasuk dosa
besar jika seorang anak mengumpat kedua orangtuanya.” Seorang Sahabat bertanya,
"apakah ada seorang anak yang mengumpat orangtuanya? Rasulullah menjawab,
"Ya. Ketika seorang anak mengumpat bapak seseorang, kemudian orang itu
membalas mengumpat bapaknya. Ia mengumpat ibunya dan orang itu mengumpat ibunya."
- Membawa kemunkaran ke dalam rumah. Misalnya
membawa alat untuk berhura-hura atau sesuatu yang bisa merusak dirinya sendiri
kemudian menyebar kepada saudara-saudaranya dan penghuni rumah secara umum dan
itu menyebabkan mereka merasa prihatin dan kecewa dengan rusaknya moral
anak-anaknya.
- Mengkonsumsi hal-hal yang munkar dihadapan mereka,
seperti menghisap rokok, atau mendengarkan suara-suara yang dikecam syariat.
- Membawa kawan yang buruk dan tidak mereka sukai ke
dalam rumah.
- Mencemarkan nama baik orangtua dengan melakukan
perbuatan-perbuatan buruk dan hina yang bertentangan dengan norma kemuliaan
sehingga membuat mereka merasa bingung, tertekan, kecewa dan malu.
- Menjeremuskan mereka ke dalam kesusahan dengan
cara menumpuk utang tanpa berusaha membayarnya. Berperilaku buruk di sekolah
sehingga pihak sekolah merasa perlu memanggil orangtuanya dan lain sebagainya.
Dan boleh jadi orangtuanya yang harus memikul tanggungjawab hingga si anak
membayar lunas utang-utangnya atau datang menyerahkan diri.
- Berada di luar rumah dalam jangka waktu yang lama
sehingga membuat mereka cemas, apalagi ketika mereka membutuhkan bantuan
anak-anaknya.
- Membebani mereka dengan banyak permintaan padahal
secara materi orangtua tidak mampu melaksanakannya.
- Lebih mengutamakan istri daripada orang tua.
- Meninggalkan mereka ketika dibutuhkan atau lanjut
usia.
- Lepas diri dari mereka serta malu untuk
menyebutkan perihal orangtuanya dan enggan menasabkan diri kepada mereka. Dan
ini adalah bentuk 'uqûq yang paling buruk. Banyak sekali anak-anak yang
merasa enggan atau malu menasabkan diri kepada orangtuanya ketika mereka sudah
mencapai kedudukan yang tinggi bahkan merasa malu dengan kehadiran orangtuanya dengan
pakaian mereka yang sudah usang.
- Menyakiti mereka dengan pukulan, dan ini banyak
terjadi pada masa sekarang. Perbuatan seperti ini tidak akan lahir kecuali dari
orang-orang yang hatinya keras, hati yang didalamnya tidak ada rasa kasih
sayang dan rasa malu, serta jiwa yang dibangun dari kualitas budi, kehormatan
dan harga diri yang sangat rendah.
- Menitipkan mereka di panti-panti jompo.
- Menjauhi dan meninggalkan mereka serta tidak
memberi nasehat ketika orangtua berbuat kesalahan.
- Berlaku kikir terhadap mereka.
- Sering mengungkit dan memperhitungkan bantuan yang
diberikan kepada mereka.
- Mencuri barang milik orangtua, melakukan
manipulasi dalam hal waris atau lain sebagainya dengan menyalahgunakan
kepercayaan orangtua untuk kemaslahatannya sendiri dan tidak peduli kepada
saudara-saudaranya yang lain.
- Mengeluh atau menampakan rasa sakit dihadapan
orangtua. Orangtua, terlebih lagi ibu, akan merasa cemas, sedih dan turut serta
merasakan penderitaan anak-anaknya bahkan mungkin lebih menderita daripada anaknya.
- Pergi dari hadapan orangtua tanpa izin dan bukan
dalam keadaan yang mendesak.
- Berharap orangtua cepat meninggal agar cepat
mendapatkan warisan jika orangtuanya mempunyai kekayaan, atau lekas terbebas
dari beban jika orangtuanya miskin dan sakit-sakitan atau agar segera terbebas
dari pengawasan mereka dan tidak ada lagi orang yang akan menghalangi mereka
dalam berbuat kemaksiatan.
Jika kita
merenungi keadaan kita sekarang, maka kita akan menyadari bahwa kita masih
terlalu jauh dan terlalu banyak kekurangan dalam berbuat baik kepada orang tua.
Atau boleh jadi sebagian kita sudah termasuk kelompok orang yang menyakiti
orangtuanya. Semoga Allah memberikan kita ampunan dan keselamatan.
Kesimpulannya,
berbuat baik kepada orangtua adalah suatu hal yang sejalan dengan fitrah
manusia yang lurus, sesuai dengan anjuran syariat samawi dan juga merupakan
akhlak para Nabi serta kebiasaan orang-orang yang shaleh. Berbakti kepada
orangtua juga merupakan tanda kebenaran iman seseorang, kemuliaan jiwa dan
sebaik-baiknya pemenuhan janji. Ia juga merupakan bukti keindahan syariat
Islam. Sebab, berbuat baik kepada orangtua berarti pengakuan terhadap
keindahan, menjaga keutamaan, dan tanda
bahwa Islam adalah agama yang sempurna dan mampu melindungi semua hak-hak
manusia.