"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka ..."

Fenomena Mudik


sumber gambar: www,yukpegi.com
Seperti biasa, menjelang lebaran, jutaan orang sudah bersiap untuk perjalanan mudik. Menurut Badan Litbang Kemenhub, jika pada tahun 2013 tercatat angka 25.599.014, maka jumlah pemudik lebaran tahun 2014 diperkirakan naik hingga 7% atau sekitar 27.894.914.
Apa yang dicari pemudik? Banyak alasan yang bisa dikemukakan. Diantaranya yang paling dominan adalah rasa rindu kepada kampung halaman dan kangen ingin berjumpa orangtua dan sanak saudara.

Meskipun mereka tinggal di kota yang nyaman, maju, subur untuk mengais rejeki, sementara kampung halaman mereka justru kumuh, terbelakang dan sulit mendapatkan rupiah, namun secara fitrah, manusia tetap merindukan tempat asalnya. Ibaratnya, “hujan batu di negri sendiri lebih baik daripada hujan emas di negri orang”.

Untuk menuntaskannya, jutaan orang tak segan-segan mengeluarkan biaya yang sangat banyak. Belum lagi jalanan yang macet dan kendaraan yang penuh sesak tentunya membutuhkan persiapan fisik dan mental yang prima.Toh, semua itu seolah tidak menjadi masalah. Buktinya, tiap tahun jumlah pemudik selalu meningkat.
Apa yang bisa kita ambil pelajaran dari fenomena ini?
Jika anda bukan pengikut Darwinisme, maka anda tentu berkeyakinan bahwa manusia berasal dari Adam dan Hawa. Lalu, dimana domisili asal Adam dan hawa? Surga! Jadi, kita sebenarnya adalah penduduk surga yang tengah mengembaran di dunia. Jika suatu saat kita harus mudik, masa iya kita akan mudik ke kampung lain? Orang yang berakal sehat seharusnya tahu jalan pulangnya!  

Ibnu Qayyim berkata,
“Salah satu kelebihan keledai –meski ia terkenal hewan paling bodoh-  adalah jika seseorang berjalan membawa keledai itu ke rumahnya dari tempat yang jauh, dalam kegelapan malam, maka keledai itu bisa mengenal rumah tersebut. Apabila dilepaskan (dalam kegelapan) dia bisa pulang ke rumah tersebut, serta mampu membedakan antara suara yang memerintahkannya berhenti dan yang memerintahkan berjalan. Maka barangsiapa yang tidak mengenal jalan kerumahnya –yaitu surga– dia lebih bodoh dari pada keledai." (Syifa al-'Alil, hlm. 74)
Tentu kita tidak lebih bodoh dari keledai, bukan?

Perjalanan menuju surga memang bukanlah jalan yang mudah. Ia adalah jalan yang terjal dan berliku. Sebuah hadits shahih memberikan sebuah gambaran yang sangat jelas:
“Ketika Allah menciptakan surga, Allah berfirman kepada Jibril, ‘Pergilah, lihatlah surga itu.’ Maka Jibril pun pergi dan melihat surga itu. Kemudian Jibril pun kembali dan berkata, ‘Demi kemuliaanmu ya Allah, tidak akan ada seorangpun yang mendengar tentang surga itu, kecuali pasti akan memasukinya.’ Lalu Allah memenuhi jalan-jalan menuju surga itu dengan al-Makârih, dan berfirman kepada Jibril, ‘kembalilah, dan lihatlah surga itu!’ Maka Jibril pun melihat kembali surga itu, kemudian kembali, seraya berkata, ‘demi kemuliaanmu ya Allah, sungguh aku khawatir bahwa tidak akan ada seorangpun yang bisa memasukinya.’ Kemudian diutuslah jibril ke neraka, Allah berfirman, ‘pergilah, lihatlah neraka itu!’ Maka Jibril pun melihat neraka itu, kemudian ia kembali dan berkata, ‘demi kemuliaanmu ya Allah, tidak akan ada seorangpun orang yang mendengarnya kemudian mau masuk ke dalamnya.’ Lalu Allah mengelilingi jalan menuju neraka itu dengan syahawat, lalu Allah berfirman, ‘pergilah dan lihatlah neraka itu’, maka Jibril pun pergi melihat kemudian kembali dan berkata, ‘demi kemuliaanmu ya Allah aku kawatir, tidak ada seorangpun yang tertinggal kecuali pasti akan memasukinya’ (Riwayat Imam Ahmad dan Hakim dari Abu Hurairah r.a.)

Perjalanan menuju surga penuh dengan rintangan. Namun, jika untuk mudik ke kampung kumuh saja kita berani jor-joran mengeluarkan uang, baik untuk ongkos yang selalu lebih mahal, atau untuk angpau lebaran; jika kita begitu rela berpeluh keringat antri untuk mendapatkan tiket, berdesakkan dalam kendaraan dan bersabar menjalani macetnya lalu lintas; jika kita seolah lupa bahwa setiap tahun, mudik terkadang membawa aroma kematian, tercatat, mudik tahun 2013, sebanyak 686 orang tewas dalam 3.061 kecelakaan; Lalu, mengapa untuk pulang ke surga tidak mau bersusah payah?

Padahal, kampung surga tidak seperti kampungnya yang di dunia yang kumuh dan terbelakang. Surga adalah tempat yang sangat indah, penuh dengan berbagai kenikmatan. Surga adalah kampung abadi. Masa iya, kita tidak rela mengeluarkan sedikit harta, tenaga dan waktu, atau nyawa sekalipun untuk meniti jalan ke surga?!
Surga adalah dagangan yang mahal tidak bisa dibeli dengan angan-angan dan kemalasan.

Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk bisa kembali pulang dengan selamat!
Share:

Mimpi Pertama; Faidah Berbuat Baik Kepada Orang Tua


قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " نِمْتُ، فَرَأَيْتُنِي فِي الْجَنَّةِ، فَسَمِعْتُ صَوْتَ قَارِئٍ يَقْرَأُ، فَقُلْتُ: مَنْ هَذَا ؟ فَقَالُوا: هَذَا حَارِثَةُ بْنُ النُّعْمَانِ " فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " كَذَلِكَ الْبِرُّ ، كَذَلِكَ الْبِرُّ " وَكَانَ أَبَرَّ النَّاسِ بِأُمِّهِ
Dari Aisyah r.a. berkata: Rasulullah s.a.w. telah bersabda, " Ketika aku sedang tidur, aku mendapati diriku berada didalam surga, tiba-tiba aku mendengar suara seseorang membaca al-qur'an, kemudian aku bertanya, "Siapa itu?" Mereka menjawab: "Haritshah ibn Nu'man." Kemudian Rasulullah s.a.w  bersabda, "Begitulah kebaikan, begitulah kebaikan (kepada orang tua)."
Haritsah ibn Nu'man adalah seorang sahabat yang terkenal sebagai orang yang senantiasa berbuat baik kepada Ibunya. [1]

Riwayat singkat Haritsah ibn Nu'man
Namanya Haritsah ibn Nu'man Al-Anshary al-Najary, seorang ahli suffah. Ikut serta dalam perang Badar, Uhud, Khandaq dan semua peperangan bersama Rasulullah. Termasuk sahabat-sahabat Rasulullah yang utama dan salah seorang dari 80 orang yang tetap tinggal di medan perang dan tidak melarikan diri ketika perang Hunain.
Di penghujung usianya, Haritsah ibn Nu'man mengalami gangguan pada penglihatannya. Beliau adalah seorang yang sangat dermawan. Suatu saat, keluarganya pernah berkata, "Kami mencukupimu." Tapi Haritsah berkata, "aku mendengar Rasulullah bersabda: “memberi makan orang miskin bisa mencegah kematian dalam keadaan buruk."
Begitulah Haritshah sampai kemudian ia wafat pada masa Mu'awiyah.

Faidah Hadits: Berbuat baik Kepada Orang Tua
Salah satu hal yang sangat mendapat perhatian dalam syariat islam adalah orang tua. Cukup kiranya wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sebagai saksi pentingnya menghormati kedua orang tua, bahwa Allah telah menurunkan perintah untuk beribadah kepadaNya diiringi dengan perintah berbuat baik kepada orang tua. Tidak ada ibadah yang sebenar-benarnya ibadah kecuali diiringi dengan penghormatan dan penghargaan terhadap orang tua.
Tinta Ummat ini, Abdullah bin Abbas berkata, "Tiga ayat diiringi oleh tiga ayat, dan melaksanakan salah satunya tidak akan diterima tanpa melaksanakan pasangannya;
1. "Taatilah Allah dan taatilah RasulNya" (QS. At-Taghabun: 12) Barang siapa yang taat kepada Allah tapi tidak taat kepada Rasul, maka ketaatannya tidak akan diterima.
2. "Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat" (QS. Al-Baqarah: 43) Barang siapa yang mendirikan shalat tapi tidak menunaikan zakat, maka tidak akan diterima.
3. "Bersyukurlah kepadaKu dan kedua orang tuamu" (QS. Luqman: 14) Barang siapa yang bersyukur kepada Allah tapi tidak berterimakasih kepada kedua orang tua, maka kesyukurannya tidak akan diterima.
Dengan demikian, memuliakan kedua orang tua adalah bagian yang tidak terpisahkan di dalam akidah islam. Sebab Allah tidak akan menerima amalan fardlu atau sunnah, kecuali jika diiringi dengan berbuat baik kepada orang tua.

Saking pentingnya, Allah selalu mengulang-ulang pesanNya didalam Al Qur'an agar kita selalu berbuat baik kepada kedua orang tua sebagaimana Allah mengulang-ulang ancaman bagi orang yang menyakiti mereka.
Allah SWT berfirman dalam Al Qur'an, "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil." (QS. Al-Isra: 23-24)
Dalam Surat Al Nisâ Allah berfirman, "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa." (QS. An-Nisa: 36)
Dalam surat lain  Allah SWT juga berfirman, "Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS. Al-Ankabut: 8)
Sedangkan dalam Surat Luqman Allah berwasiat, "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu." (QS. Luqman: 14)

Begitu pula dalam Sunnah Nabawiyah, banyak sekali hadits yang menyatakan pentingnya berbuat baik kepada orang tua. Nabi SAW bersabda, "Keridlaan Tuhan terletak pada keredlaan ibu bapa."[2]
Diriwayatkan Ahlussunan, kecuali Tirmidzi dengan sanad yang shahih dari Abdullah bin Amru bin Ash: telah datang kepada Rasulullah SAW seorang laki-laki kemudian berkata, "Saya datang untuk berbaiat kepadamu wahai Rasulullah dan aku tinggalkan kedua orangtuaku dalam keadaan menangis. Kemudian Rasulullah menjawab, "Kembalilah kepada mereka, dan buatlan mereka tertawa sebagaimana kau telah membuat mereka menangis."[3]

Dari Abu Harairah berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah kemudian ia bertanya. "Siapakah orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?
Rasulullah SAW menjawab, "ibumu"
"kemudian siapa?"
"kemudian ibumu"
"kemudian siapa?"
"kemudian ibumu"
"kemudian siapa?
"kemudian bapakmu."[4]

Dapat disimpulkan dari hadits diatas bahwa ibu mempunyai kedudukan yang sangat istimewa dalam syariat Islam. Ibu berhak mendapatkan kebaikan tiga kali lipat dari kebaikan yang diperoleh seorang bapak. Hal ini disebabkan karena jerih payah seorang ibu ketika hamil dan menyusui. Inilah jerih payah yang hanya dilalui seorang ibu, kemudian baru bapak berperan bersama-sama dengan ibu dalam hal mengasuh dan mendidik.

Dalam Hadits lain, Rasulullah SAW bersabda, "Muliakanlah Ibu bapakmu niscaya anak-anakmu akan memuliakan kamu."[5] 

Rasulullah SAW adalah contoh manusia yang paling memuliakan kedua orang tuanya. Pada tahun Hudaibiyah, Rasulullah melewati makam ibunya, Aminah binti Wahab, di Abwa -diantara Makkah dan Madinah- saat itu Beliau beserta sahabatnya membawa 1000 orang pasukan berkuda. Beliau kemudian berhenti untuk menziarahi makam ibunya dan menangis sehingga orang-orang disekitarnya ikut pula menangis, kemudian beliau bersabda, "Aku meminta izin Tuhanku agar aku bisa memintakan ampun baginya, tapi Tuhanku tidak mengizinkanku. Kemudian aku meminta izin Tuhanku untuk menziarahinya, dan Tuhanku memperkenankannya. Maka berziarahlah kalian, karena sesungguhnya ziarah kubur mengingatkan akan mati."[6]

Adapun orang-orang yang menyakiti hati orang tuanya niscaya akan mendapatkan balasan berupa adzab Allah yang sangat pedih. Rasulullah SAW bersabda, "Tiga golongan tidak akan akan diperhatikan Allah di hari kiamat: orang yang menyakiti kedua orangtuanya, wanita yang menyerupai laki-laki dan laki-laki dayus. Tiga golongan manusia tidak akan masuk surga: Orang yang menyakiti orang tuanya, orang yang gemar minum arak dan orang yang selalu menyebut-nyebut pemberiannya."[7]

Dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda, "Maukah kalian aku ceritakan tentang dosa-dosa yang sangat besar?
"Tentu, wahai Rasulullah." Rasululullah SAW kemudian berkata, "Menyekutukan Allah, menyakiti kedua orang tua..."[8]

Dari Mughirah bin Syu'bah RA, Rasulllah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian menyakiti ibu, mengubur hidup-hidup anak perempuan..."[9]

Perilaku Al 'uquq (menyakiti) orangtua jelas keharamannya secara hukum syariat sekaligus tercela menurut akal sehat. Akan tetapi, apa sebetulnya yang dimaksud dengan al ‘uquq?
Imam Al Balqini berkata: al-‘uqûq terjadi jika seorang anak menyakiti keduanya atau salah satu dari mereka dengan tindakan yang berlebihan menurut adat kebiasaan.[10]

Contoh-contoh perbuatan yang menyakiti orang tua:
-   Membuat mereka menangis atau bersedih baik dengan perkataan, perbuatan atau menyebabkan hal itu.
-   Membentak mereka atau berkata-kata dengan suara yang tinggi dan kasar ketika berbicara.
-   Mengeluh dan menggerutu dalam melaksanakan perintahnya
-   Bermuka masam dan mengerutkan kening di depan mereka
-   Memandang mereka dengan tatapan sinis, meremehkan tanpa ada rasa hormat. Muawiyah berkata, "Tidak disebut berbakti orang yang memelototi orangtuanya.
-   Memerintah mereka; seperti menyuruh ibu membersihkan rumah, mencuci pakaian atau menyiapkan hidangan. Pekerjaan-pekerjaan seperti ini tidak layak dibebankan kepada seorang ibu, apalagi ketika sang ibu sedang sakit, lemah atau sudah udzur usianya.
-   Mencela makanan yang dihidangkan Ibu.
-   Tidak membantu mereka dalam mengerjakan rumah, seperti merapikan dan mengatur perabotan, menyiapkan hidangan atau hal lainnya.
-   Memalingkan muka ketika mereka sedang berbicara, tidak mendengarkan perkataannya, suka memotong ucapan, menganggap mereka bohong dan selalu mendebat perkataannya.
-   Tidak berusaha meminta pendapat mereka. Dalam kenyataan, banyak sekali anak  yang enggan meminta petunjuk atau meminta izin orangtua dalam memutuskan sesuatu hal. Seperti dalam perkawinan, perceraian, pergi dari rumah dan menginap di luar atau pergi bersama rekan-rekannya ke suatu tempat.
-   Tidak meminta izin ketika memasuki ruang pribadinya.
-   Mengungkit-ngungkit masalah pribadi di hadapan mereka, baik masalah dengan sahabat, saudara, istri ataupun anaknya.
-   Mencela, mencemarkan atau menyebutkan aib mereka dihadapan orang lain.
-   Mengumpat orang tua baik secara langsung ataupun tidak langsung. Maksud secara tidak langsung dengan cara seorang anak mengumpat orangtua seseorang, kemudian orang tersebut balas mengumpat orangtuanya. Dari Abdullah bin Amru RA bahwa Rasulullah SAW berkata, Termasuk dosa besar jika seorang anak mengumpat kedua orangtuanya.” Seorang Sahabat bertanya, "apakah ada seorang anak yang mengumpat orangtuanya? Rasulullah menjawab, "Ya. Ketika seorang anak mengumpat bapak seseorang, kemudian orang itu membalas mengumpat bapaknya. Ia mengumpat ibunya dan orang itu mengumpat ibunya."
-   Membawa kemunkaran ke dalam rumah. Misalnya membawa alat untuk berhura-hura atau sesuatu yang bisa merusak dirinya sendiri kemudian menyebar kepada saudara-saudaranya dan penghuni rumah secara umum dan itu menyebabkan mereka merasa prihatin dan kecewa dengan rusaknya moral anak-anaknya.
-   Mengkonsumsi hal-hal yang munkar dihadapan mereka, seperti menghisap rokok, atau mendengarkan suara-suara yang dikecam syariat.
-   Membawa kawan yang buruk dan tidak mereka sukai ke dalam rumah.
-   Mencemarkan nama baik orangtua dengan melakukan perbuatan-perbuatan buruk dan hina yang bertentangan dengan norma kemuliaan sehingga membuat mereka merasa bingung, tertekan, kecewa dan malu.
-   Menjeremuskan mereka ke dalam kesusahan dengan cara menumpuk utang tanpa berusaha membayarnya. Berperilaku buruk di sekolah sehingga pihak sekolah merasa perlu memanggil orangtuanya dan lain sebagainya. Dan boleh jadi orangtuanya yang harus memikul tanggungjawab hingga si anak membayar lunas utang-utangnya atau datang menyerahkan diri.
-   Berada di luar rumah dalam jangka waktu yang lama sehingga membuat mereka cemas, apalagi ketika mereka membutuhkan bantuan anak-anaknya.
-   Membebani mereka dengan banyak permintaan padahal secara materi orangtua tidak mampu melaksanakannya.
-   Lebih mengutamakan istri daripada orang tua.
-   Meninggalkan mereka ketika dibutuhkan atau lanjut usia.
-   Lepas diri dari mereka serta malu untuk menyebutkan perihal orangtuanya dan enggan menasabkan diri kepada mereka. Dan ini adalah bentuk 'uqûq yang paling buruk. Banyak sekali anak-anak yang merasa enggan atau malu menasabkan diri kepada orangtuanya ketika mereka sudah mencapai kedudukan yang tinggi bahkan merasa malu dengan kehadiran orangtuanya dengan pakaian mereka yang sudah usang.
-   Menyakiti mereka dengan pukulan, dan ini banyak terjadi pada masa sekarang. Perbuatan seperti ini tidak akan lahir kecuali dari orang-orang yang hatinya keras, hati yang didalamnya tidak ada rasa kasih sayang dan rasa malu, serta jiwa yang dibangun dari kualitas budi, kehormatan dan harga diri yang sangat rendah.
-   Menitipkan mereka di panti-panti jompo.
-   Menjauhi dan meninggalkan mereka serta tidak memberi nasehat ketika orangtua berbuat kesalahan.
-   Berlaku kikir terhadap mereka.
-   Sering mengungkit dan memperhitungkan bantuan yang diberikan kepada mereka.
-   Mencuri barang milik orangtua, melakukan manipulasi dalam hal waris atau lain sebagainya dengan menyalahgunakan kepercayaan orangtua untuk kemaslahatannya sendiri dan tidak peduli kepada saudara-saudaranya yang lain.
-   Mengeluh atau menampakan rasa sakit dihadapan orangtua. Orangtua, terlebih lagi ibu, akan merasa cemas, sedih dan turut serta merasakan penderitaan anak-anaknya bahkan mungkin lebih menderita daripada anaknya.
-   Pergi dari hadapan orangtua tanpa izin dan bukan dalam keadaan yang mendesak.
-   Berharap orangtua cepat meninggal agar cepat mendapatkan warisan jika orangtuanya mempunyai kekayaan, atau lekas terbebas dari beban jika orangtuanya miskin dan sakit-sakitan atau agar segera terbebas dari pengawasan mereka dan tidak ada lagi orang yang akan menghalangi mereka dalam berbuat kemaksiatan.

Jika kita merenungi keadaan kita sekarang, maka kita akan menyadari bahwa kita masih terlalu jauh dan terlalu banyak kekurangan dalam berbuat baik kepada orang tua. Atau boleh jadi sebagian kita sudah termasuk kelompok orang yang menyakiti orangtuanya. Semoga Allah memberikan kita ampunan dan keselamatan.

Kesimpulannya, berbuat baik kepada orangtua adalah suatu hal yang sejalan dengan fitrah manusia yang lurus, sesuai dengan anjuran syariat samawi dan juga merupakan akhlak para Nabi serta kebiasaan orang-orang yang shaleh. Berbakti kepada orangtua juga merupakan tanda kebenaran iman seseorang, kemuliaan jiwa dan sebaik-baiknya pemenuhan janji. Ia juga merupakan bukti keindahan syariat Islam. Sebab, berbuat baik kepada orangtua berarti pengakuan terhadap keindahan,  menjaga keutamaan, dan tanda bahwa Islam adalah agama yang sempurna dan mampu melindungi semua hak-hak manusia.





[1] HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Baihaqi. Shahih sesuai syarat Asy-Syaikhan
[2]Al Jami' As Shagir  5820, Shahîh Al Jami’ 3507.  
[3]Shahîh at Targhib wa al Targhib 2481, Shahîh Abi Daud 2205 
[4] Shahîh al Bukhâri  5626
[5] Al Mustadrak 7259
[6] Shahîh Muslim 976
[7] Sunan al Nasai  2562, Shahîh al Jâmi' 3063
[8] Shahîh al Bukhâri 2511
[9] Shahîh al Bukhâri 2277
[10] Subulussalam I/232
Share:

Lebih Bodoh dari Keledai


Ibnu Qayyim berkata,
“Salah satu kelebihan keledai –meski ia terkenal hewan paling bodoh-  adalah jika seseorang berjalan membawa keledai itu ke rumahnya dari tempat yang jauh, dalam kegelapan malam, maka keledai itu bisa mengenal rumah tersebut. Apabila dilepaskan (dalam kegelapan) dia bisa pulang ke rumah tersebut, serta mampu membedakan antara suara yang memerintahkannya berhenti dan yang memerintahkan berjalan. Maka barangsiapa yang tidak mengenal jalan kerumahnya –yaitu surga– dia lebih bodoh dari pada keledai." (Syifa al-'Alil, hlm. 74)
gambar dari duniadongeng.wordpress.com
Share:

Jangan Terlena dengan Penangguhan!

Ali bin Abi Thalib ra berkata, 
"Berapa banyak orang yang ditangguhkan dengan kebaikan, tertipu dengan kenyamanan dan terjebak dengan manisnya ucapan. Sungguh Allah tidak pernah menguji sseorang sedahsyat ujian orang yang ditangguhkan hukumannya, Allah berfirman, "Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka." (Nashihat al-Muluk)
Share:

Antara Bangkai dan Dunia

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَرَّ بِالسُّوقِ دَاخِلاً مِنْ بَعْضِ الْعَالِيَةِ وَالنَّاسُ كَنَفَتَهُ فَمَرَّ بِجَدْىٍ أَسَكَّ مَيِّتٍ فَتَنَاوَلَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِهِ ثُمَّ قَالَ « أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ ». فَقَالُوا مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَىْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ قَالَ « أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ ». قَالُوا وَاللَّهِ لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيهِ لأَنَّهُ أَسَكُّ فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ فَقَالَ « فَوَاللَّهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhu, beliau bercerita bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati pasar melalui sebagian jalan dari arah pemukiman, sementara orang-orang [para sahabat] menyertai beliau. Lalu beliau melewati bangkai seekor kambing yang telinganya cacat (berukuran kecil). Beliau pun mengambil kambing itu seraya memegang telinga nya. Kemudian beliau berkata, “Siapakah di antara kalian yang mau membelinya dengan harga satu dirham?”. Mereka menjawab, “Kami sama sekali tidak berminat untuk memilikinya. Apa yang bisa kami perbuat dengannya?”. Beliau kembali bertanya, “Atau mungkin kalian suka kalau ini diberikan untuk kalian secara cuma-cuma?”. Mereka menjawab, “Demi Allah, seandainya hidup pun maka binatang ini sudah cacat, karena telinganya kecil. Apalagi kambing itu sudah mati?” Beliau pun bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya dunia lebih hina di sisi Allah daripada bangkai ini di mata kalian.” (HR. Muslim)

Beberapa Faidah dari Hadits diatas:
1. Setelah mati, sesuatu yang tadinya berharga bisa menjadi tidak berharga
2. Betapa hinanya dunia dalam pandangan Allah. Demikian pula hendaknya kita memandang dunia. Sehingga, hati tidak tertawan oleh gemerlapnya dan melalaikan akhirat yang merupakan kehidupan sebenarnya.

3. Melakukan dialog dan mengajukan pertanyaan adalah salah satu cara mengajar yang efektif.
Share:

Benarkah Nabi itu Ummi?

Semua kaum muslimin sepakat, bahwa Nabi Akhir Zaman adalah seorang Nabi yang ummi, label ini melekat pada sosok agung Muhammad SAW dalam dua literatur utama; Al-Qur`an dan Hadits. Meski demikian, mereka kemudian berbeda pendapat untuk menentukkan makna dari kata ummi.
Mayoritas cendekiawan menterjemahkan kata ummi sebagai ketidakmampuan membaca dan menulis (buta huruf). Sementara sebagian lain berpendapat bahwa Rasulullah bukanlah seseorang yang buta huruf, ummi diterjemahkan dengan ketiadaan kitab suci, sehingga ummiyyun berarti umat yang tidak memiliki kitab suci, berbeda dengan Yahudi dan Nasrani.
Pendapat ini juga mendapatkan sokongan dari kaum orientalis memang tidak pernah berhenti untuk menyerang fondasi hukum Islam yang sudah mapan dalam bentuk al-Qur`an al-Karim. Dikhawatirkan mereka hendak menuju kepada tujuan orang-orang sebelum mereka yang mengatakan bahwa Al-Qur`an adalah bikinan Muhammad. Dan salah satu gerbang menuju kesana adalah dengan meruntuhkan keummian Rasulullah SAW dalam arti tidak mampu membaca dan menulis. Dengan demikian, kelak, mereka akan dengan mudah mengatakan bahwa Muhammad lah yang mengarang Al-Qur`an dengan kemampuannya.

Definisi Ummi
Dalam Lisaanul Arab, kata ummi dilekatkan pada kondisi seperti baru terlahir dari perut ibunya. Orang yang tidak bisa menulis disebut ummi, karena kondisinya persis seperti bayi yang baru lahir, karena kemampuan menulis adalah hasil pembelajaran.[1]
Demikian pula Raghib Al-Isfahani berkata: Ummi adalah orang yang tidak bisa membaca dan menulis.[2]
Sementara az-Zuhri berkata: dikatakan kepada orang yang tidak mampu membaca dan menulis: ummi, karena keadaannya persis seperti kondisi waktu dilahirkan ibunya.[3]
Dengan demikian, secara bahasa, ummi berarti orang yang tidak bisa membaca dan menulis, kondisi ini diibaratkan seperti orang yang baru lahir dari perut ibunya.
Pun demikian dengan mayoritas ahli tafsir. mereka tidak berbeda dengan ahli lughah dalam menafsirkan kata ummi. Ibnu Katsir, misalnya, menyitir pendapat Mujahid, Qatadah, Ibrahim an-Nakh'i dan yang lainnya, bahwa ummi berarti orang yang tidak pandai menulis.[4] At-Thabari berkata: yang dimaksud dengan ummiyyin adalah orang-orang yang tidak bisa membaca dan menulis, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW, "kami adalah umat yang tidak membaca, menulis dan berhitung."[5]
Sementara di kubu yang berbeda, ummi diterjemahkan sebagai orang diluar Yahudi dan Nasrani (gentile, goyem) atau orang yang tidak mempunyai Kitab Suci. Pendapat inilah yang diusung beberapa cendekia kontemporer, semisal al-Maqdisi dalam bukunya Khuraafatu Ummiyyati Muhammad, Syahrur dalam al-Kitaab wal-Qur`an dan lain-lain.

Mereka Beradu Argumen
Banyak sekali argumen yang dikemukakan kelompok pertama, namun penulis hanya menyitir beberapa diantaranya:
Pertama, firman Allah:
وَمَا كُنْتَ تَتْلُو مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ إِذًا لَارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ
"Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitab pun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; Andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu)." (QS. Al-Ankabut: 48)
Kedua, hadits riwayat Imam Muslim dari Ibnu Umar, bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, "Kita adalah umat yang ummi (buta huruf), kita tidak menulis dan tidak pula menghitung."[6]
Ketiga, jika nabi Muhammad bisa membaca dan menulis, niscaya hal ini akan tersebar luas dikalangan kaum Quraisy sehingga bisa dijadikan senjata untuk menyebarkan keraguaan akan sumber hukum Islam. Akan tetapi, kaum Quraisy tidak pernah menyinggung masalah ini, hal itu menunjukkan bahwa Nabi memang tidak bisa membaca dan menulis. Selain itu, ketidakmampuan nabi dalam membaca dan menulis semakin memperkuat mukjizat kenabiannya, dengan kondisi kebutahurufannya, ia mampu mengajarkan manuisa al-Kitab, hikmah dan menyucikan kaumnya.

Adapun argumen kelompok kedua, bisa kita ringkas sebagai berikut:
Argumen pertama, al-Maqdisi menggugat penafsiran Al-Qur`an surat al-Ankabut: 48 yang menjadi sandaran utama kaum yang meyakini ketidakmampuan Nabi untuk membaca dan menulis. Menurutnya, ayat ini hanya menafikan pembacaan dan penulisan langsung oleh Nabi Muhammad sendiri. Bahkan, ayat ini tidak sejalan dengan firman Allah dalam surat Al-An'aam:
وَكَذَلِكَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ وَلِيَقُولُوا دَرَسْتَ وَلِنُبَيِّنَهُ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
"Demikianlah kami mengulang-ulangi ayat-ayat kami supaya (orang-orang yang beriman mendapat petunjuk) dan supaya orang-orang musyrik mengatakan: "Kamu telah mempelajari ayat-ayat itu (dari ahli Kitab)", dan supaya kami menjelaskan Al Quran itu kepada orang-orang yang Mengetahui." (QS. Al-An’am: 105)
Al-Maqdisi berkata: darasta artinya qara`ta, engkau telah membaca. Namun orang-orang terdahulu seperti Ibnu Abbas dan sebagian tabi'in membacanya dengan teknik Bashrah: daarasta, dengan tambahan alif yang berarti engkau telah membacanya dan mempelajarinya dari ahli Kitab.[7]
Namun, pandangan ini bisa disanggah, karena darasta berarti mempelajari, dan itu tidak harus dengan membaca, banyak cara untuk mempelajari sesuatu selain dengan membaca. Adapun jika darasta dimaknai dengan qara'ta, maka kasusnya sama dengan hadits Rasulullah SAW, "tidak sah shalat seseorang apabila tidak membaca (la yaqra`) Fatihah." Dalam hadits ini, qara`a berarti talaa, melafalkan. Orang yang membaca Fatihah tidak harus bisa membaca abjad.

Argumen kedua, firman Allah:
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
"Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (QS. Al-Jumu’ah: 2)
Ayat diatas jelas menunjukkan bahwa kata ummiyyin berarti kaum yang tidak memiliki Kitab Suci, selain kaum yahudi dan Nasrani. Meskipun diandaikan kata ummiyyin disitu sebagai orang yang tidak bisa baca tulis, namun tidak secara otomatis Rasul yang diutus untuk mereka juga tidak bisa baca tulis. Juga tidak berarti bahwa Rasul hanya diutus untuk kaum buta abaca tulis saja. Analisis ini berarti menyamakan nabi dengan kemampuan umatnya juga akan menafikan universalitas Islam, Al-Qur`an dan ajarannya.[8]
Anggapan ini kurang tepat, sebab jika kata ummiyyin diartikan sebagai kaum yang tidak memiliki Kitab Suci atau umat selain Yahudi dan Nasrani, maka bagaimana kita memahami firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 78:
"Dan diantara mereka ada ummiyyun yang tidak mengetahui al-Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga."
Ayat ini jelas berbicara tentang sifat orang Yahudi. Dikalangan bangsa Arab, kaum Yahudi terkenal sebagai kaum yang kapabel dalam al-Kitab, karena itu dikatakan dalam ayat ini bahwa sebagian dari kaum Yahudi ada juga orang yang tidak mengerti al-Kitab.[9]
Kemudian, asumsi pemaknaan ummiyyin dengan buta huruf akan membatasi universalitas Islam adalah keliru. Sebab, ta'miimul khaash adalah hal yang jamak dalam bahasa Arab dengan qarinah situasi medan dakwah Rasulullah SAW ketika itu, pada awalnya, memang banyak bersentuhan dengan kaum dhuafa dan kurang terpelajar.

Argumen ketiga, hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam kisah perjanjian Hudaibiyyah. Dalam hadits ini disebutkan bahwa Rasulullah SAW menyuruh Ali bin Abi Thalib untuk menghapus kata 'Rasulullah', akan tetapi Ali menolak, seraya berkata, "demi Tuhan aku tidak akan menghapusnya." Tetapi Nabi kemudian mengambil kertas tersebut. Walau tidak mahir menulis, beliau tetap menulis.."[10]
Riwayat ini jelas menunjukkan bahwa Nabi bisa menulis, dengan demikian ia pandai pula membaca.
Akan tetapi jika ditelaah lebih lanjut, Imam Bukhari meriwayatkan peristiwa ini melalui beberapa jalan. Para rawi yang menerima hadits ini dari Barra bin 'Azib meriwayatkannya kembali dengan redaksi yang tidak seragam. Riwayat diatas datang dari jalan Ubaidillah bin Musa dari Israil dari Abu Ishaq dari Barra bin 'Azib. Adapun yang melalui Ibrahim bin Yusuf bin Abi Ishaq dari Barra bin 'Azib terdapat perbedaan redaksi dengan adanya lafadz "fa ariniihi" (tunjukkan padaku letak kata itu). Lalu Ali menunjukkannya hingga kemudian Rasulullah SAW menghapusnya dengan tangannya."
Selain itu, adapula riwayat shahih diluar Shahih Bukhari mengenai peristiwa ini, yaitu riwayat Ibnu Hibban dalam Shahih-nya dari Muhammad bin Utsman al-'Ajly, ia berkata: Ubaidillah bin Musa telah menceritakan hadits ini kepadaku dari Israil dari Abu Ishaq dari Barra bin 'Azib, ia berkata: kemudian Rasulullah SAW mengambil tulisan itu, sedang ia tidak pandai menulis, lalu ia memerintahkan Ali untuk mencatat, dan Ali pun menuliskan (kata 'abdullah') di tempat 'rasulullah'."
Dari berbagai riwayat diatas bisa kita simpulkan: pertama, redaksi yang mengisahkan peristiwa hudaibiyyah saling melengkapi. Kedua, kata fa ariniihi dalam riwayat diatas menujukkan bahwa bahwa Nabi tidak bisa membaca sehingga harus meminta bantuan Ali untuk menunjukkan letak kata "rasulullah" untuk dihapus. Ketiga, kata fa kataba, tidak hanya berarti ia menulisnya secara langsung dengan tangannya sendiri, akan tetapi bisa juga berarti ia memerintahkan ali untuk menuliskannya, seperti dalam kalimat "Gubernur membangun jembatan kota", tidak berarti ia sendiri yang harus membangun, ia mungkin hanya memerintahkan saja.

Argument keempat, hadits riwayat Imam Muslim dari Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW bersabda, "Dajjal itu matanya buta, diantara kedua matanya tertulis 'Kafir' -beliau mengeja K A F I R- setiap muslim bisa membacanya."[11]
Dalam hadits ini jelas Rasulullah SAW bisa mengeja huruf KAFIR, dengan demikian beliau sebenarnya bisa membaca.
Namun, argumen inipun kurang kuat, karena proses mengeja itu bisa berbentuk dua macam; pertama mengeja berdasarkan suara yang terdengar, dan ini bisa dikerjakan siapapun, yang bisa membaca ataupun yang buta huruf. Kedua, mengeja berdasarkan huruf yang tertulis, dan ini khusus bagi mereka yang bisa membaca.
Selain itu, dalam riwayat lain disebutkan, "Sesungguhnya Dajjal buta matanya, di atas matanya ada kulit tebal, diantara kedua matanya tertulis KAFIR yang bisa dibaca oleh setiap mu`min yang bisa baca tulis atau pun tidak."[12]
Wallahua'lam.


[1] Ibnu Mandzur, Lisaanul 'Arab (Beirut: Dar Shadir, Cet. I), 12/34
[2] Raghib al-Isfahani, Ghariibul Qur`an,  hal. 28
[3] Zahir al-Harwi, Az-Zahiir fi Ghariib Alfazhi Syafi'i (Kuwait: Wuzaratul Auqaaf, 1399), 1/109
[4] Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur`an al-Adzim (Riyadh: Dar Thayyibah, 1999), 1/310
[5] Ibnu Jarir at-Thabari, Jaami'ul Bayaan fi Tafsiir Aay al-Qur`an,1/373
[6] Muslim, al-Jaami' As-Shahiih (Beirut: Dar al-Jail), hadits nomor 1806 (Shahiih Muslim)
[7] Al-Maqdisi, Khuraafatu Ummiyyati Muhammad, Edisi Indonesia: Nabi Muhammad; Buta atau Genius (Jakarta: Nun Publishing), hal 55
[8] Nabi Muhammad; Buta atau Genius, hal 61
[9] Ibnu Asyur, At-Tahriir wat-Tanwiir, (Dar Tunisiyyah, 1984), I/573
[10] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Al-Jaami' As-Shahiih al-Mukhtashar, (Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1987) hadits nomor 4251
[11] Shahiih Muslim (5221)
[12] Shahiih Muslim (5223)
Share:

About

About Me

Foto Saya
Kajian Keluarga Muslim diinisiasi untuk memberikan bekal bagi para keluarga muslim agar bisa mejalankan misi berkeluarga sesuai Al-Quran: Selamat dari neraka (At-Tahrim: 6) Masuk surga bersama (Ath-Thur: 21) Melahirkan generasi terbaik (Al-Furqan: 74)