Memahami Seni[1]
Tulisan lama, tahun 2004, isinya entah bener apa kaga.
“Membicarakan seni tiada
bedanya dengan mengupas bawang”
(Surat-surat Barongsai; Di Serambi Bulan)
Bubuka; Seni adalah….
"Ini teh karya seni atau bukan, euy?"
Ini adalah pertanyaan yang membingungkan banyak orang,
dan mungkin menjadi kebingungan saya atau bahkan anda. Pertanyaan itu muncul
begitu saja dari mulut seorang sahabat yang kini telah berpulang[2]
ketika melihat lukisan Rambut Kusut di majalah Tempo. Sebetulnya, pertanyaan
serupa juga pernah mampir dibenak saya ketika seorang seniman Jerman menulis
artikel, “Ledakan 11 September; Sebuah
Karya Seni yang Agung.” Lha, kok ledakan bom bisa disebut karya seni? Apa
sih sebetulnya seni itu? Apakah ada parameter tertentu untuk menentukan sebuah
karya seni?
Kisah Cinta Seorang Da'i
Dua belas tahun sudah Nabi berdakwah kepada kaum Quraisy, mengajak
mereka kembali pada fitrahnya sebagai hamba Allah SWT. Namun, hasil yang
didapatkan belum terlalu menggembirakan. Hanya beberapa puluh orang saja yang beriman.
Hingga saat itupun tiba. Saat Musim Haji, tepatnya pada bulan
Dzulqa’dah tahun kedua belas kenabian, sekitar dua belas orang dari Madinah datang
menemui Nabi, menyatakan keislamannya dan mengikrarkan janji setia kepada Nabi
yang kemudian kita kenal dengan Bai'at 'Aqabah I (621 M). Mereka inilah yang
kemudian menjadi tokoh sentral dalam menghidupkan dakwah Islam di Madinah, dipimpin
oleh Mush’ab bin Umair dan Amr bin Ummi Maktum.












