Hingga saat itupun tiba. Saat Musim Haji, tepatnya pada bulan
Dzulqa’dah tahun kedua belas kenabian, sekitar dua belas orang dari Madinah datang
menemui Nabi, menyatakan keislamannya dan mengikrarkan janji setia kepada Nabi
yang kemudian kita kenal dengan Bai'at 'Aqabah I (621 M). Mereka inilah yang
kemudian menjadi tokoh sentral dalam menghidupkan dakwah Islam di Madinah, dipimpin
oleh Mush’ab bin Umair dan Amr bin Ummi Maktum.
Setahun berikutnya, datanglah serombongan penduduk Madinah;
70 laki-laki dan 23 perempuan untuk berbaiat kepada Nabi dalam Baiat Aqabah
yang kedua. Merekalah yang kemudian menjadi sumber utama kekuatan dakwah.
Mereka berjerih payah mengkondisikan kota Madinah hingga kondusif untuk hijrah
sang Nabi. Maka, hijrahlah Nabi dan para sahabat. Berdirilah negara Islam di
Madinah. Dan setelah itu, Islam menyebar begitu cepat. Dalam tempo sepuluh
tahun saja, seluruh jazirah Arab tunduk kepada Nabi dan puluhan ribu orang berbondong-bondong
memeluk Islam. Subhanallah, walhamdulillah.
Tidaklah berlebihan kiranya, jika bulan Dzulqa’dah ini
dijuluki sebagai bulan kebangkitan dakwah Islam. Untuk mengenang bulan
kebangkitan dakwah ini, saya ingin mengajak pembaca untuk menikmati sajian
kisah Al-Quran, tentang kisah dakwah yang begitu indah; kisah yang tercantum
dalam surah Yasin ayat 13-27. Kisah ini sudah begitu lama tersaji dalam
Al-Quran, namun saya pribadi baru menyadari keindahannya saat gurunda Ustadz
Salim A Fillah mengisahkannya.
وَاضْرِبْ لَهُمْ
مَثَلًا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ (13) إِذْ أَرْسَلْنَا
إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُمْ
مُرْسَلُونَ (14) قَالُوا مَا أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا وَمَا أَنْزَلَ الرَّحْمَنُ
مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَكْذِبُونَ (15) قَالُوا رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا
إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ (16) وَمَا عَلَيْنَا إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ (17)
قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ
مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ (18) قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ بَلْ
أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (19(
Dahulu, Allah pernah mengutus dua orang Rasul ke sebuah kota,
menurut sejarawan Ibnu ishak, kota itu adalah Antiokia, sebuah kota modern di
Turki. Naas, penduduk Antiokia justru mendustakan mereka. Lalu Allah utus Rasul
ketiga untuk memperkuat dakwah dua Rasul sebelumnya. Hasilnya, mereka justru didakwa
dengan berbagai tuduhan. Mulai dari cap pendusta, gila jabatan, perusak
kebinekaan hingga pembawa kesialan, dan mereka kemudian diusir dari Antiokia.
وَجَاءَ مِنْ أَقْصَى
الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَى قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ (20) اتَّبِعُوا
مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ (21(
Saat itulah datang seorang laki-laki. Dia bukan Rasul. Bukan pula
Nabi. Dia bukan ulama, bahkan bukan santri. Laki-laki yang tidak dikenal. Yang
namamanya tidak tercantum dalam teks kitab suci maupuan hadits Nabi, hingga
para sejarawan harus meraba-raba namanya; Hatib bin Suri An Najjar. Seorang
tukang kayu.
Laki-laki ini tergopoh-gopoh berlari dari ujung kota, lalu
menyeru kaumnya: wahai kaumku, ikutilah para utusan. Ikutilah orang-orang tulus
itu, yang tidak mengharapkan balasan apa-apa dan merekalah orang-orang yang
mendapatkan petunjuk.
Mungkin kita bertanya, berapa banyak sih ilmu yang
dimiliki laki-laki itu hingga dengan semangat yang luar biasa ia berlari dari
ujung kota untuk mendakwahi kaumnya? Tidak ada. Yang ia tahu hanyalah sebuah
prinsip sederhana sebagaimana dalam lanjutan ayat:
وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ
الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (22) أَأَتَّخِذُ مِنْ دُونِهِ آلِهَةً إِنْ
يُرِدْنِ الرَّحْمَنُ بِضُرٍّ لَا تُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا وَلَا يُنْقِذُونِ
(23) إِنِّي إِذًا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Yang ia tahu hanyalah: mengapa kita tidak menyembah Allah,
padahal Dia yang menciptakan kita? Mengapa kita tidak berusaha membuat Allah
ridha, padahal kita akan kembali kepada-Nya? Mengapa kita tidak mendekat kepada
Allah, padahal di Tangan-Nya semua manfaat dan mudharat? Jika logika sederhana
ini tidak bisa kita pahami, maka sungguh kita tersesat dengan kesesatan yang
nyata!
Jika dakwah para Rasul yang jelas-jelas mendapat mandat ilahi
disambut caci maki dan usiran, lalu, bagaimana nasib dakwah laki-laki sederhana
yang hanya punya cinta ini? Oh, rupanya cintanya bertepuk sebelah tangan.
Dakwahnya disambut dengan hantaman, injakan dan tikaman, hingga tubuhnya
ambruk. Gugurlah ia sebagai syahid.
Para Rasul yang kembali ke Antiokia mendapati tubuhnya
terkapar. Dengan satu dua nafas tersisa, laki-laki itu berbisik lembut kepada
para Rasul:
إِنِّي آمَنْتُ بِرَبِّكُمْ
فَاسْمَعُونِ
“Aku beriman kepada Tuhan kalian. Dengarkanlah.”
Fragmen berikutnya adalah fragmen yang paling membahagiakan. Saat
para malaikat berbondong-bondong mendatanginya seraya berkata kepadanya:
قِيلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ
Masuklah kau ke dalam surga!
Namun, lihatlah betapa besar cinta seorang da’i kepada
kaumnya, hingga membuat kenikmatan surga pun terasa kurang lengkap baginya. Ia
ingin agara surga itu ia nikmati bersama kaumnya. Seolah ada bagian yang hilang
dari kebahagiaan itu. Sebab itulah ia berkata:
قَالَ يَا لَيْتَ
قَوْمِي يَعْلَمُونَ (26) بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُكْرَمِينَ
Duhai...Seandainya kaumku tahu. Manusia biasa sepertiku bisa
menjadi mulia, diampuni dosanya, dimasukkan ke dalam surga karena iman dan
dakwahku. Seandainya mereka mau beriman. Seandainya mereka mau mendengar dan
mengikuti dakwah...”
Banyak ibrah yang bisa kita petik dari kisah diatas, misalnya:
- Dakwah bukan hanya tugas Nabi, Ulama, Ustadz san sebagainya. Dakwah adalah tanggung jawab setiap individu muslim. Siapapun ia. Tentu sesuai dengan kedudukan dan kapasitasnya masing-masing.
- Sampaikan dakwah itu meskipun hanya satu ayat
- Jalan dakwah adalah jalan berliku yang penuh dengan onak dan duri. Butuh pengorbanan dan kesabaran.
- Allah akan mengangkat kedudukan seseorang karena dakwah dan menghinakan yang lainnya karena dakwah. Kita disebut umat terbaik karena dakwah (Ali Imran: 110) dan menjadi umat terburuk dan yang dikutuk karena meninggalkan dakwah (Al-Maidah: 78-79
- Tidak ada yang lebih tulus cintanya daripada seorang da’i kepada mad’unya. Seorang guru terhadap muridnya. Seperti halnya cinta orangtua terhadap anak-anaknya.
- Untuk menjadi mulia tidak perlu kedudukan yang tinggi, kekayaan berlimpah atau ilmu yang memenuhi isi kepala. Kemuliaan didapatlkan dengan iman dan ilmu yang diamalkan serta disyiarkan.






0 #type=(blogger):
Posting Komentar