"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka ..."

Kisah Cinta Seorang Da'i

Dua belas tahun sudah Nabi berdakwah kepada kaum Quraisy, mengajak mereka kembali pada fitrahnya sebagai hamba Allah SWT. Namun, hasil yang didapatkan belum terlalu menggembirakan. Hanya beberapa puluh orang saja yang beriman.
Hingga saat itupun tiba. Saat Musim Haji, tepatnya pada bulan Dzulqa’dah tahun kedua belas kenabian, sekitar dua belas orang dari Madinah datang menemui Nabi, menyatakan keislamannya dan mengikrarkan janji setia kepada Nabi yang kemudian kita kenal dengan Bai'at 'Aqabah I (621 M). Mereka inilah yang kemudian menjadi tokoh sentral dalam menghidupkan dakwah Islam di Madinah, dipimpin oleh Mush’ab bin Umair dan Amr bin Ummi Maktum.


Setahun berikutnya, datanglah serombongan penduduk Madinah; 70 laki-laki dan 23 perempuan untuk berbaiat kepada Nabi dalam Baiat Aqabah yang kedua. Merekalah yang kemudian menjadi sumber utama kekuatan dakwah. Mereka berjerih payah mengkondisikan kota Madinah hingga kondusif untuk hijrah sang Nabi. Maka, hijrahlah Nabi dan para sahabat. Berdirilah negara Islam di Madinah. Dan setelah itu, Islam menyebar begitu cepat. Dalam tempo sepuluh tahun saja, seluruh jazirah Arab tunduk kepada Nabi dan puluhan ribu orang berbondong-bondong memeluk Islam. Subhanallah, walhamdulillah.
Tidaklah berlebihan kiranya, jika bulan Dzulqa’dah ini dijuluki sebagai bulan kebangkitan dakwah Islam. Untuk mengenang bulan kebangkitan dakwah ini, saya ingin mengajak pembaca untuk menikmati sajian kisah Al-Quran, tentang kisah dakwah yang begitu indah; kisah yang tercantum dalam surah Yasin ayat 13-27. Kisah ini sudah begitu lama tersaji dalam Al-Quran, namun saya pribadi baru menyadari keindahannya saat gurunda Ustadz Salim A Fillah mengisahkannya.

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ (13) إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُمْ مُرْسَلُونَ (14) قَالُوا مَا أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا وَمَا أَنْزَلَ الرَّحْمَنُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَكْذِبُونَ (15) قَالُوا رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ (16) وَمَا عَلَيْنَا إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ (17) قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ (18) قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (19(

Dahulu, Allah pernah mengutus dua orang Rasul ke sebuah kota, menurut sejarawan Ibnu ishak, kota itu adalah Antiokia, sebuah kota modern di Turki. Naas, penduduk Antiokia justru mendustakan mereka. Lalu Allah utus Rasul ketiga untuk memperkuat dakwah dua Rasul sebelumnya. Hasilnya, mereka justru didakwa dengan berbagai tuduhan. Mulai dari cap pendusta, gila jabatan, perusak kebinekaan hingga pembawa kesialan, dan mereka kemudian diusir dari Antiokia.

وَجَاءَ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَى قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ (20) اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ (21(

Saat itulah datang seorang laki-laki. Dia bukan Rasul. Bukan pula Nabi. Dia bukan ulama, bahkan bukan santri. Laki-laki yang tidak dikenal. Yang namamanya tidak tercantum dalam teks kitab suci maupuan hadits Nabi, hingga para sejarawan harus meraba-raba namanya; Hatib bin Suri An Najjar. Seorang tukang kayu.
Laki-laki ini tergopoh-gopoh berlari dari ujung kota, lalu menyeru kaumnya: wahai kaumku, ikutilah para utusan. Ikutilah orang-orang tulus itu, yang tidak mengharapkan balasan apa-apa dan merekalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.
Mungkin kita bertanya, berapa banyak sih ilmu yang dimiliki laki-laki itu hingga dengan semangat yang luar biasa ia berlari dari ujung kota untuk mendakwahi kaumnya? Tidak ada. Yang ia tahu hanyalah sebuah prinsip sederhana sebagaimana dalam lanjutan ayat:

وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (22) أَأَتَّخِذُ مِنْ دُونِهِ آلِهَةً إِنْ يُرِدْنِ الرَّحْمَنُ بِضُرٍّ لَا تُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا وَلَا يُنْقِذُونِ (23) إِنِّي إِذًا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Yang ia tahu hanyalah: mengapa kita tidak menyembah Allah, padahal Dia yang menciptakan kita? Mengapa kita tidak berusaha membuat Allah ridha, padahal kita akan kembali kepada-Nya? Mengapa kita tidak mendekat kepada Allah, padahal di Tangan-Nya semua manfaat dan mudharat? Jika logika sederhana ini tidak bisa kita pahami, maka sungguh kita tersesat dengan kesesatan yang nyata!
Jika dakwah para Rasul yang jelas-jelas mendapat mandat ilahi disambut caci maki dan usiran, lalu, bagaimana nasib dakwah laki-laki sederhana yang hanya punya cinta ini? Oh, rupanya cintanya bertepuk sebelah tangan. Dakwahnya disambut dengan hantaman, injakan dan tikaman, hingga tubuhnya ambruk. Gugurlah ia sebagai syahid.
Para Rasul yang kembali ke Antiokia mendapati tubuhnya terkapar. Dengan satu dua nafas tersisa, laki-laki itu berbisik lembut kepada para Rasul:
إِنِّي آمَنْتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُونِ
“Aku beriman kepada Tuhan kalian. Dengarkanlah.”
Fragmen berikutnya adalah fragmen yang paling membahagiakan. Saat para malaikat berbondong-bondong mendatanginya seraya berkata kepadanya:
قِيلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ
Masuklah kau ke dalam surga!
Namun, lihatlah betapa besar cinta seorang da’i kepada kaumnya, hingga membuat kenikmatan surga pun terasa kurang lengkap baginya. Ia ingin agara surga itu ia nikmati bersama kaumnya. Seolah ada bagian yang hilang dari kebahagiaan itu. Sebab itulah ia berkata:

قَالَ يَا لَيْتَ قَوْمِي يَعْلَمُونَ (26) بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُكْرَمِينَ

Duhai...Seandainya kaumku tahu. Manusia biasa sepertiku bisa menjadi mulia, diampuni dosanya, dimasukkan ke dalam surga karena iman dan dakwahku. Seandainya mereka mau beriman. Seandainya mereka mau mendengar dan mengikuti dakwah...”
Banyak ibrah yang bisa kita petik dari kisah diatas, misalnya:
  1. Dakwah bukan hanya tugas Nabi, Ulama, Ustadz san sebagainya. Dakwah adalah tanggung jawab setiap individu muslim. Siapapun ia. Tentu sesuai dengan kedudukan dan kapasitasnya masing-masing.
  2. Sampaikan dakwah itu meskipun hanya satu ayat
  3. Jalan dakwah adalah jalan berliku yang penuh dengan onak dan duri. Butuh pengorbanan dan kesabaran.
  4. Allah akan mengangkat kedudukan seseorang karena dakwah dan menghinakan yang lainnya karena dakwah. Kita disebut umat terbaik karena dakwah (Ali Imran: 110) dan menjadi umat terburuk dan yang dikutuk karena meninggalkan dakwah (Al-Maidah: 78-79
  5. Tidak ada yang lebih tulus cintanya daripada seorang da’i kepada mad’unya. Seorang guru terhadap muridnya. Seperti halnya cinta orangtua terhadap anak-anaknya.
  6. Untuk menjadi mulia tidak perlu kedudukan yang tinggi, kekayaan berlimpah atau ilmu yang memenuhi isi kepala. Kemuliaan didapatlkan dengan iman dan ilmu yang diamalkan serta disyiarkan.


Share:

0 #type=(blogger):

Posting Komentar

About

About Me

Foto Saya
Kajian Keluarga Muslim diinisiasi untuk memberikan bekal bagi para keluarga muslim agar bisa mejalankan misi berkeluarga sesuai Al-Quran: Selamat dari neraka (At-Tahrim: 6) Masuk surga bersama (Ath-Thur: 21) Melahirkan generasi terbaik (Al-Furqan: 74)