"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka ..."

Memahami Seni[1]

Tulisan lama, tahun 2004, isinya entah bener apa kaga.


“Membicarakan seni tiada bedanya dengan mengupas bawang”                       
(Surat-surat Barongsai; Di Serambi Bulan)

Bubuka; Seni adalah….
"Ini teh karya seni atau bukan, euy?"
Ini adalah pertanyaan yang membingungkan banyak orang, dan mungkin menjadi kebingungan saya atau bahkan anda. Pertanyaan itu muncul begitu saja dari mulut seorang sahabat yang kini telah berpulang[2] ketika melihat lukisan Rambut Kusut di majalah Tempo. Sebetulnya, pertanyaan serupa juga pernah mampir dibenak saya ketika seorang seniman Jerman menulis artikel, “Ledakan 11 September; Sebuah Karya Seni yang Agung.” Lha, kok ledakan bom bisa disebut karya seni? Apa sih sebetulnya seni itu? Apakah ada parameter tertentu untuk menentukan sebuah karya seni?


Untuk menjawab pertanyaan itu, mari kita telusuri asal usulnya. Ada dua kata yang akan kita catat dalam masalah ini, yaitu kata art (seni) dan artist (seniman). Pertama, apa yang terbayang dalam benak kita ketika orang menyebut kata 'seni?' Sebagian mungkin akan membayangkan lukisan, cerpen, novel, puisi atau arsitektur. Sebagian membayangkan tarian, musik atau drama. Atau mungkin sebagian lagi akan berkata, "au ah elap…![3]
Untuk sementara kita lupakan saja penyempitan, perluasan atau deviasi makna. Kita akan mengembalikan seni pada posisi yang semula. Melalui teropong bahasa, kata seni berasal dari bahasa yunani 'technè' atau dalam bahasa latin 'ars' yang berarti proses memproduksi sesuatu yang bermanfaat secara umum. Dalam Bahasa Inggris, kata 'seni' atau 'art'  berarti, "skill that is attained by study, practice, or observation." Yaitu keahlian yang bisa diperoleh melalui proses pembelajaran, praktek, atau observasi. (The American Heritage Dictionary of the English Language)
Begitupula seniman-seniman Arab pada masa lalu, mereka menggunakan kata al fann (yang berarti seni) untuk menunjukkan makna ash-shina'aat (produk secara umum). Dalam Kamus Bahasa Indonesia, seni secara sempit berarti kemampuan menciptakan sesuatu yang indah. Sedangkan secara umum, seni adalah kemampuan menciptakan sesuatu dengan keahlian yang luar biasa (teknik). Demikian luas makna kata seni, sehingga banyak digandeng dengan pelbagai profesi, misalnya seni menjahit, seni memasak, seni mengajar, seni berperang sampai seni membuat kandang ayam.
Menurut pengertian diatas, sesuatu bisa disebut sebagai karya seni apabila memenuhi dua kriteria; keindahan dan manfaat. Meskipun demikian, tidak semua kritikus seni setuju dengan masuknya dua pilar tadi kedalam bangunan seni. Copler, misalnya, berpendapat bahwa seni tidak harus bersinggungan dengan asas manfaat, bahkan D. Morris lebih jauh lagi dengan teorinya: seniman tidak pernah berhasrat![4] Sedangkan Herbert, penulis The Meaning of Art,  berpendapat sebaliknya. Sebuah karya seni harus mengandung unsur manfaat, adapun keindahan hanya berperan sebagai unsur sekunder, dalam artian, sebuah karya seni tidak melulu harus sesuatu yang indah asalkan mengandung manfaat, maka sudah dikategorikan karya seni.

Tak pelak, kata ‘indah’ dan ‘manfaat’ menjadi kata kunci utama untuk memahami seni. Dengan demikian, persoalan selanjutnya; apa itu indah? Apa itu manfaat? Bagaimana sesuatu bisa disebut indah atau bermanfaat?
Kata indah bisa dimaknai dengan menyatunya berbagai aspek dalam satu benda dengan komposisi yang proporsional atau dengan kata yang lebih sederahana; cocok! sehingga menimbulkan kesenangan dan kenyamanan ketika dicerna oleh indera manusia. Sedangkan sesuatu bisa disebut bermanfaat bagi seseorang jika ia[5] bisa dijadikan sarana untuk mencapai keinginan dan kebutuhannya.
Sekarang, mari kita bersama-sama menarik benang merah dari berbagai arti dasar kata seni tersebut. Seni adalah kemampuan yang diperoleh melalui proses pembelajaran untuk memproduksi sesuatu yang indah dan bermanfaat[6].  Proses produksinya disebut kegiatan seni, dan hasilnya disebut karya seni. Definisi ini memberikan dua gambaran seni. Pertama, seni bukan sekedar kecerdasan intuitif (ilham, bakat) sehingga orang-orang yang tidak berbakat dianggap tidak memiliki peluang untuk menekuni dunia seni. Jangan putus asa dengan suara rombeng anda atau dengan minimnya poin wajah. Art is attained by study, seni adalah sesuatu yang bisa dipelajari, dilatih dan diasah.
Kedua, seni tidak hanya terbatas pada prosa, puisi, musik, film dan sebagainya, akan tetapi meliputi seluruh bentuk produksi, seperti perdagangan, politik, ekonomi, dan segala sesuatu yang bermanfaat. Telur dadar yang kita buat adalah karya seni. Soal-soal matematika yang kerap membuat siswa-siswi bingung juga termasuk karya seni. Tegasnya, semua produk yang bermanfaat disebut karya seni.

Anggap saja anda sepakat dengan kesimpulan diatas agar tulisan ini bisa terus berlanjut. Kata selanjutnya adalah artist (dalam bahasa Indonesia: artis)[7] yang merupakan subjek dari kata art. Artist berarti pelaku seni atau seniman. Karena kita telah sepakat bahwa arti seni adalah keahlian memproduksi sesuatu yang bermanfaat, maka artis adalah produsen manfaat. Singkatnya artis adalah orang yang bermafaat. Guru adalah artis, siswa adalah artis, kyai adalah artis, sopir, pedagang, bahkan tukang sapu bisa menjadi artis jika pekerjaannya memberikan manfaat bagi orang lain.
Makna seni secara khusus[8]
Setelah dunia menjalani beberapa periode waktu, kata seni sedikit demi sedikit mengalami penyempitan makna. Seni tidak lagi berarti sesuatu yang indah dan bermanfaat, akan tetapi lebih dititikberatkan pada penjelmaan perasaan manusia yang diekspresikan melalui kreatifitas tertentu kedalam berbagai bentuk sehingga menimbulkan kesan yang indah, seperti seni rupa, dan seni musik.[9] Pengaburan makna seni terus berlanjut. Dalam American Heritage Dictionary, seni didefinisikan dengan: the conscious production or arrangement of sounds, colors, forms, movements, or other elements in a manner that affects the sense of beauty. Yang berarti kemampuan memproduksi atau menyusun suara, warna, bentuk maupun gerak, sehingga menimbulkan kesan yang indah. Titik sentral seni tidak lagi sebuah penjelmaan perasaan, akan tetapi sebuah produk yang secara umum bisa dijual. Merujuk pada definisi ini, artis berarti pelaku atau produsen keindahan dan biasanya mempunyai tiga ciri utama; fluency, flexibility dan originality.[10] Maka, Michael Angelo, Francesco Totti[11], Basuki Abdullah, Rudi Hadi Suwarno atau Stephen Chow dapat dikategorikan sebagai artis.

Panutup; Al Fann al Islamy
Persoalan yang kemudian muncul, jika seni adalah sesuatu yang indah dan bermanfaat, siapa yang berhak menentukan sesuatu itu bermanfaat atau tidak? Indah atau tidak? Apakah masing-masing individu atau sebuah institusi?
Jika diserahkan kepada masing-masing individu, maka akan terjadi kepabaliutan. Hal ini disebabkan ukuran, konsep dan pandangan manusia terhadap kata ‘manfaat’ ataupun ‘indah’ sangat beragam. Indah bagi saya belum tentu indah bagi anda dan sebaliknya. Dengan kata lain, indah itu relative[12]. Begitupula bermanfaat bagi saya belum tentu bagi anda. Apakah lagu-lagu keroncong terdengar indah (merdu) ditelinga anda? Jika tidak, apakah masih layak dikategorikan karya seni?
Singkatnya, baik secara umum maupun secara khusus, persoalan yang harus diselesaikan adalah subyektifitas unsur manfaat dan keindahan. Jika tidak, maka akan terjadi kesimpangsiuran, dimana semua orang berhak mengklaim bahwa apa yang dilakukannya termasuk seni. Keadaan semakin memburuk ketika para kritikus seni justru sering terjebak kedalam sistem pembenaran epistemologis yang menyesatkan konsumen seni.
Al fann al islamy. Qaid sifat mausuf ini diharapkan dapat memberikan standar yang jelas tentang kedua kata diatas. Jika seni diikat dengan kata Islam, maka semua unsur seni harus tunduk pada standar Islam. Apakah keindahan menurut Islam? Apa yang disebut bermanfaat menurut Islam? Silakan telusuri sendiri![13]


Wallahu’alam.



[1] Makalah atau bukan, tergantung keikhlasan pembaca
[2] Ke tanah air, bukan ke rahmatullah
[3] Kesimpulan deduktif yang tidak bisa dipertanggung jawabkan karena tidak melalui tahap analisa.
[4] Hasil membaca buku Afaq Jadidah li-l-Fann karya DR. Muhsin Muhammad Atiyah dengan pemahaman seadanya.
[5] Sesuatu bukan seseorang
[6] Meskipun dicantumkan dalam definisi, akan tetapi keindahan  hanya unsur turunan dari manfaat. Dalam hal ini, saya kurang setuju dengan teori Fachner, Herbert Read  ataupun  Copler.
[7] Bukan bermaksud menghina kecerdasan pembaca
[8] Mungkin juga diterjemahkan kedalam “ makna seni secara istilah”
[9] Seni mulai kehilangan unsur manfaat.
[10] Fluency: semakin banyak ide, semakin cantik produk yang dihasilkan. Flexibility: seorang seniman harus mampu menyesuikan diri dengan tuntutan tanpa merubah visi atau karakter pribadi. Originality: anti taklid.
[11] Hidup Roma!
[12] Kalo jelek mutlak!
[13] Saya tidak bermaksud memberi solusi, hanya ingin berbagi.

Share:

0 #type=(blogger):

Posting Komentar

About

About Me

Foto Saya
Kajian Keluarga Muslim diinisiasi untuk memberikan bekal bagi para keluarga muslim agar bisa mejalankan misi berkeluarga sesuai Al-Quran: Selamat dari neraka (At-Tahrim: 6) Masuk surga bersama (Ath-Thur: 21) Melahirkan generasi terbaik (Al-Furqan: 74)