“Membicarakan seni tiada
bedanya dengan mengupas bawang”
(Surat-surat Barongsai; Di Serambi Bulan)
Bubuka; Seni adalah….
"Ini teh karya seni atau bukan, euy?"
Ini adalah pertanyaan yang membingungkan banyak orang,
dan mungkin menjadi kebingungan saya atau bahkan anda. Pertanyaan itu muncul
begitu saja dari mulut seorang sahabat yang kini telah berpulang[2]
ketika melihat lukisan Rambut Kusut di majalah Tempo. Sebetulnya, pertanyaan
serupa juga pernah mampir dibenak saya ketika seorang seniman Jerman menulis
artikel, “Ledakan 11 September; Sebuah
Karya Seni yang Agung.” Lha, kok ledakan bom bisa disebut karya seni? Apa
sih sebetulnya seni itu? Apakah ada parameter tertentu untuk menentukan sebuah
karya seni?
Untuk menjawab pertanyaan itu, mari kita telusuri asal
usulnya. Ada
dua kata yang akan kita catat dalam masalah ini, yaitu kata art (seni) dan artist (seniman). Pertama, apa yang terbayang dalam benak kita
ketika orang menyebut kata 'seni?' Sebagian mungkin akan membayangkan lukisan,
cerpen, novel, puisi atau arsitektur. Sebagian membayangkan tarian, musik atau
drama. Atau mungkin sebagian lagi akan berkata, "au ah elap…![3]
Untuk sementara kita lupakan saja penyempitan, perluasan
atau deviasi makna. Kita akan mengembalikan seni pada posisi yang semula.
Melalui teropong bahasa, kata seni berasal dari bahasa yunani 'technè' atau dalam bahasa latin 'ars' yang berarti proses memproduksi
sesuatu yang bermanfaat secara umum. Dalam Bahasa Inggris, kata 'seni' atau
'art' berarti, "skill that is attained by study, practice,
or observation." Yaitu keahlian yang bisa diperoleh melalui proses
pembelajaran, praktek, atau observasi. (The American Heritage Dictionary of the
English Language)
Begitupula seniman-seniman Arab pada masa lalu, mereka
menggunakan kata al fann (yang
berarti seni) untuk menunjukkan makna ash-shina'aat
(produk secara umum). Dalam Kamus Bahasa Indonesia, seni secara sempit
berarti kemampuan menciptakan sesuatu yang indah. Sedangkan secara umum, seni
adalah kemampuan menciptakan sesuatu dengan keahlian yang luar biasa (teknik). Demikian
luas makna kata seni, sehingga banyak digandeng dengan pelbagai profesi,
misalnya seni menjahit, seni memasak, seni mengajar, seni berperang sampai seni membuat kan dang ayam.
Menurut pengertian diatas, sesuatu bisa disebut sebagai
karya seni apabila memenuhi dua kriteria; keindahan dan manfaat. Meskipun
demikian, tidak semua kritikus seni setuju dengan masuknya dua pilar tadi
kedalam bangunan seni. Copler, misalnya, berpendapat bahwa seni tidak harus
bersinggungan dengan asas manfaat, bahkan D. Morris lebih jauh lagi dengan
teorinya: seniman tidak pernah berhasrat![4]
Sedangkan Herbert, penulis The Meaning of
Art, berpendapat sebaliknya. Sebuah
karya seni harus mengandung unsur manfaat, adapun keindahan hanya berperan sebagai unsur
sekunder, dalam artian, sebuah karya seni tidak melulu harus sesuatu yang indah
asalkan mengandung manfaat, maka sudah dikategorikan karya seni.
Tak pelak, kata ‘indah’ dan ‘manfaat’ menjadi kata kunci
utama untuk memahami seni. Dengan demikian, persoalan selanjutnya; apa itu
indah? Apa itu manfaat? Bagaimana sesuatu bisa disebut indah atau bermanfaat?
Kata indah bisa dimaknai dengan menyatunya berbagai
aspek dalam satu benda dengan komposisi yang proporsional atau dengan kata yang lebih sederahana; cocok! sehingga menimbulkan kesenangan dan kenyamanan ketika dicerna
oleh indera manusia. Sedangkan
sesuatu bisa disebut bermanfaat bagi seseorang jika ia[5]
bisa dijadikan sarana untuk mencapai keinginan dan kebutuhannya.
Sekarang, mari kita bersama-sama menarik benang merah
dari berbagai arti dasar kata seni tersebut. Seni adalah kemampuan yang
diperoleh melalui proses pembelajaran untuk memproduksi sesuatu yang indah dan
bermanfaat[6]. Proses produksinya disebut kegiatan seni, dan
hasilnya disebut karya seni. Definisi ini memberikan dua gambaran seni. Pertama, seni bukan sekedar kecerdasan
intuitif (ilham, bakat) sehingga orang-orang yang tidak berbakat dianggap tidak
memiliki peluang untuk menekuni dunia seni. Jangan putus asa dengan suara
rombeng anda atau dengan minimnya poin wajah. Art is attained by study,
seni adalah sesuatu yang bisa dipelajari, dilatih dan diasah.
Kedua, seni tidak hanya terbatas pada prosa, puisi, musik, film dan
sebagainya, akan tetapi meliputi seluruh bentuk produksi, seperti perdagangan,
politik, ekonomi, dan segala sesuatu yang bermanfaat. Telur dadar yang kita
buat adalah karya seni. Soal-soal matematika yang kerap membuat siswa-siswi
bingung juga termasuk karya seni. Tegasnya, semua produk yang bermanfaat
disebut karya seni.
Anggap saja anda sepakat dengan kesimpulan diatas agar tulisan
ini bisa terus berlanjut. Kata selanjutnya adalah artist (dalam bahasa Indonesia :
artis)[7]
yang merupakan subjek dari kata art. Artist berarti pelaku seni atau seniman.
Karena kita telah sepakat bahwa arti seni adalah keahlian memproduksi sesuatu
yang bermanfaat, maka artis adalah produsen manfaat. Singkatnya artis adalah
orang yang bermafaat. Guru adalah artis, siswa adalah artis, kyai adalah artis,
sopir, pedagang, bahkan tukang sapu bisa menjadi artis jika pekerjaannya
memberikan manfaat bagi orang lain.
Makna seni secara khusus[8]
Setelah dunia menjalani beberapa periode waktu, kata
seni sedikit demi sedikit mengalami penyempitan makna. Seni tidak lagi berarti
sesuatu yang ind ah
dan bermanfaat, akan tetapi lebih dititikberatkan pada penjelmaan perasaan
manusia yang diekspresikan melalui kreatifitas tertentu kedalam berbagai bentuk
sehingga menimbulkan kesan yang indah, seperti seni rupa, dan seni musik.[9]
Pengaburan makna seni terus berlanjut. Dalam American Heritage Dictionary, seni
didefinisikan dengan: the conscious production or arrangement of sounds,
colors, forms, movements, or other elements in a manner that affects the sense
of beauty. Yang berarti kemampuan memproduksi atau menyusun suara, warna,
bentuk maupun gerak, sehingga menimbulkan kesan yang indah. Titik sentral seni
tidak lagi sebuah penjelmaan perasaan, akan tetapi sebuah produk yang secara
umum bisa dijual. Merujuk pada definisi ini, artis berarti pelaku atau produsen
keindahan dan biasanya mempunyai tiga ciri utama; fluency, flexibility
dan originality.[10]
Maka, Michael Angelo, Francesco Totti[11],
Basuki Abdullah, Rudi Hadi Suwarno
atau Stephen Chow dapat dikategorikan sebagai artis.
Panutup; Al Fann al Islamy
Persoalan yang kemudian muncul, jika seni adalah sesuatu
yang indah dan bermanfaat, siapa yang berhak menentukan sesuatu itu bermanfaat
atau tidak? Indah atau tidak? Apakah masing-masing ind ividu atau sebuah institusi?
Jika diserahkan kepada masing-masing individu, maka akan
terjadi kepabaliutan. Hal ini disebabkan uk uran,
konsep dan pandangan manusia terhadap kata ‘manfaat’ ataupun ‘ind ah’ sangat beragam. Ind ah
bagi saya belum tentu ind ah
bagi anda dan sebaliknya. Dengan kata lain, ind ah itu relative[12].
Begitupula bermanfaat bagi saya belum tentu bagi anda. Apakah lagu-lagu
keroncong terdengar ind ah
(merdu) ditelinga anda? Jika tidak, apakah masih layak dikategorikan karya
seni?
Singkatnya, baik secara umum maupun secara khusus,
persoalan yang harus diselesaikan adalah subyektifitas unsur manfaat dan
keindahan. Jika tidak, maka akan terjadi kesimpangsiuran, dimana semua oran g berhak mengklaim
bahwa apa yang dilakukannya termasuk seni. Keadaan semakin memburuk ketika para
kritikus seni justru sering terjebak kedalam sistem pembenaran epistemologis
yang menyesatkan konsumen seni.
Al fann al islamy. Qaid sifat
mausuf ini diharapkan dapat memberikan standar yang jelas tentang kedua
kata diatas. Jika seni diikat dengan kata Islam, maka semua unsur seni harus tunduk pada
standar Islam. Apakah keindahan menurut Islam? Apa yang disebut bermanfaat
menurut Islam?
Silakan telusuri sendiri![13]
Wallahu’alam.
[2] Ke tanah air, buk an
ke rahmatullah
[3] Kesimpulan deduktif yang tidak bisa dipertanggung jawabkan karena
tidak melalui tahap analisa.
[4] Hasil membaca buku Afaq
Jadidah li-l-Fann karya DR. Muhsin Muhammad Atiyah dengan pemahaman
seadanya.
[5] Sesuatu bukan seseorang
[6] Meskipun dicantumkan dalam definisi, akan tetapi keindahan hanya unsur turunan dari manfaat. Dalam hal
ini, saya kurang setuju dengan teori Fachner, Herbert Read ataupun
Copler.
[7] Bukan bermaksud menghina kecerdasan pembaca
[8] Mungkin juga diterjemahkan kedalam “ makna seni secara istilah”
[9] Seni mulai kehilangan unsur manfaat.
[10] Fluency: semakin banyak
ide, semakin cantik produk yang dihasilkan. Flexibility:
seorang seniman harus mampu menyesuikan diri dengan tuntutan tanpa merubah visi
atau karakter pribadi. Originality:
anti taklid.
[11] Hidup Roma!
[12] Kalo jelek mutlak!






0 #type=(blogger):
Posting Komentar