Sikap kaku yang
ditunjukkan sebagian umat Islam dalam memandang perbedaan pendapat mengenai
cara memahami suatu dalil agama, ditambah kontestasi politik yang semakin
memanas akhir-akhir ini, membuat umat menjadi terkotak-kotak, terpecah dan
membuat jalinan ukhuwwah islamiyah menjadi terurai. Padahal, ciri khas seorang
mukmin justru persaudaraan yang terjalin diantara mereka. Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman:
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya
bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu
itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”.(QS.
Al-Hujarat: 10).
Sebab itu, perlu
kiranya kita mengambil langkah-langkah untuk menguatkan kembali jalinan
ukhuwwah untuk menyongsong kebangkitan Islam dan kaum muslimin. Dan Dzulhijjah,
dengan berbagai syariat yang Allah turunkan di dalamnya, adalah momentum yang
tepat untuk menguatkan kembali ukhuwwah islamiyah, membangun persatuan dan
kesatuan umat..
Mulai dari
syariat haji, berkumpulnya umat Islam dari seluruh penjuru bumi di satu tempat
yang sama, pada waktu yang sama, dengan pakaian ihram yang sama, menjadi simbol
bahwa semua adalah sama di mata Allah. Tidak ada perbedaan hanya karena status sosial, ras, ataupun madzhab
yang dianut. Semua melebur menjadi ummatan wahidah, umat yang satu.
Sebab kita adalah
umat yang satu, maka siapapun tidak diperbolehkan merusak kesatuan ini dengan
membenci, memfitnah atau menyakiti saudaranya, baik dengan ucapan maupun
perbuatan. Bahkan Allah menjadikan nilai-nilai ukhuwwah ini sebagai syarat
menjadi haji mabrur, sebagaimana firman Allah
“Musim haji adalah beberapa bulan yang
dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan
haji, maka tidak boleh rafats (Perkataan tidak senonoh), berbuat fasik
dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji” (QS. Al-Baqarah:
197)
Di bulan ini juga
disyariatkan qurban, yang salah satu tujuan utamanya adalah membina ukhuwwah
islamiyah. Dengan qurban, kita dilatih untuk melepaskan hal-hal yang kita
cintai untuk kepentingan orang lain, mengikis ego, merajut kebersamaan
dengan menghadiahkan daging qurban kepada karib kerabat dan mensedekahkannya
kepada fakir miskin. Allah berfirman:
“Maka makanlah sebahagian daripadanya
dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan
fakir” (QS. Al-Haj: 28)
Di bulan
Dzulhijjah, kaum muslimin juga disyariatkan memperbanyak takbir, tahlil dan
tahmid, sejak tanggal 1 Dzulhijjah sampai akhir hari tasyriq. Takbir, tahmid,
dan tahlil yang terus menerus kita kumandangkan selama 13 hari, akan meninggalkan
kesan yang mendalam, bahwa tidak ada yang besar kecuali Allah, tidak ada yang
patut dipuji kecuali Allah dan semua aktifitas kita harus bermuara kepada
Allah. Termasuk jalinan kerjasama, organisasi, partai politik dan koalisi yang
dibangun, semuanya harus bermuara kepada Allah.. Nabi SAW bersabda,
“Tali iman
yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. At
Tirmidzi)
Ukhuwwah yang
Mengglobal
Ukhuwwah
Islamiyah adalah persaudaraan yang dilandasi keimanan. Bukan karena kepentingan
ataupun kesamaan geografis. Sebab itu, ukhuwwah islamiyah tidak bisa dibatasi
oleh ruang dan waktu. Dimanapun kaum muslimin berada, di zaman manapun mereka
hidup, semuanya bersaudara. Penderitaan bangsa Palestina, Suriah, Mesir dan
lain-lain, menjadi penderitaan kita di Indonesia. Dulu, pada saat kita butuh
dukungan atas proklamasi kemerdekaan yang baru dikumandangkan, mufti
Palestinalah yang pertama kali menyuarakan dukungan melalui radio-radio.
Masyarakat Mesir pun turun ke jalan melakukan unjuk rasa di depan perwakilan
Belanda di Kairo dan mendesak pemerintah Mesir agar mengakui secara resmi
kemerdekaan Indonesia. Sekarang, saat mereka butuh dukungan kita, bagaimana mungkin
kita merasa itu bukan urusan kita?!
Bukankah mukmin
itu ibarat satu tubuh, yang jika salah satu bagiannya sakit maka yang lain akan
merasakan demamnya? Atau, seperti ungkapan Ibnu Taimiyah, “Ukhuwwah ibarat mata
dengan tangan. Jika mata menangis, tangan yang akan menghapusnya. Jika tangan
merasa sakit, mata akan menangis untuknya.”
Apalagi jika yang tengah menderita adalah sesama saudara seiman
dan juga setanah air. Misalnya saudara kita di Lombok. Begitu besar penderitaan
mereka, dan begitu besar kewajiban yang ada di pundak kita untuk membantu
kesulitan mereka. Marilah kita berbaik sangka, bahwa semua ini adalah ujian
dari Allah agar mereka, dan juga kita, semakin taat kepada Allah. Tidak harus
selalu dikaitkan dengan pilihan politik seseorang.
Dari Ukhuwwah Menuju Kebangkitan Islam
Sejarah
membuktikan, ukhuwwah lah yang membuat kaum muslimin bangkit dan berjaya. Dalam
ekonomi; bersatunya kaum muslimin pada zaman Nabi untuk memiliki pasar sendiri,
serta komitmen diantara mereka untuk sebisa mungkin membeli kebutuhan dari
saudaranya sendiri, berhasil menggeser dominasi pasar Yahudi dalam tempo yang
singkat.
Dalam bidang
politik, ukhuwwah pula yang berhasil meredam gejolak pemilihan khalifah pasca wafatnya
Rasulullah SAW. Ketika itu, para sahabat berkumpul di Tsaqifah Bani Saidah,
berdebat dan bersaing mengajukan calonnya masing-masing. Keimanan dan
ukhuwwahlah yang membuat mereka akhirnya bersepakat memilih Abu Bakar
Ash-Shiddiq, sehingga umat terhindar dari bencana perpecahan yang tidak bisa
ditakar akibatnya.
Dalam perjalanan
militer, ukhuwwah juga yang menjadi saksi kemenangan gemilang kaum muslimin
atas Persia. Saat pasukan kaum muslimin menyebrangi derasnya Eufrat, tiba-tiba kantung
air milik salah seorang pasukan terjatuh. Maka, serempak ribuan orang kemudian turun
ke sungai untuk membantu saudaranya menemukan kantong air. Pucatlah wajah
pasukan Persia. Hati mereka bergetar. Demi kantung air yang tak seberapa saja,
ribuan orang serempak turun membantu saudaranya. Maka, bagaimana juika yang
hilang itu adalah nyawa? Mereka kalah bahkan sebelum perang dimulai. Allahu
Akbar! Demikianlah Ukhuwwah.
Oleh karena itu,
menjelang pilpres 2019, dimana tensi ketegangan begitu tinggi. Hujatan, celaan,
bahkan fitnah begitu sulit untuk dibendung terutama di mesdia-media sosial,
hingga sangat berpotensi semakin merusak jalinan ukhuwwah, perlu kiranya kita
terus kuatkan ukhuwah Islamiyah dengan cara:
Pertama:
memperbaiki niat. Tujukan semuanya untuk Allah. Sebab dengan itulah hati kita
akan dilembutkan.
Kedua,
meningkatkan keimanan dan amal saleh. Sebab dua hal itulah yang akan melahirkan
rasa cinta terhadap sesama muslim. (QS. Maryam: 96)
Ketiga, tolong
menolong dalam hal yang kita sepakati, dan berlapang dada dalam hal yang tidak
disepakati selama masih berada dalam koridor syariat.
Keempat,
menjadikan motif semua kontestasi dan persaingan dalam koridor istibaqul
khairat untuk kepentingan umat dan meraih kehidupan akhirat. Bukan untuk
syahwat pribadi atau organisasi.






0 #type=(blogger):
Posting Komentar