"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka ..."

Hakikat Cinta Nabi Shallalahu ‘Alaihi Wasallam


Di antara nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya adalah Dia mengutus seorang rasul dari golongan mereka sendiri. Rasul yang Allah tugaskan untuk membacakan ayat-ayat Allah, mengajarkan mereka tentang Al-Kitab dan Hikmah. Rasul yang memiliki kasih sayang begitu dalam kepada hamba-hamba Allah. Dialah Rasul kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Cinta Nabi Kepada Umatnya
Tidak ada yang bisa memungkiri keagungan cinta Rasulullah terhadap umatnya. Diantara bentuk cinta kasihnya dijelaskan Allah dalam surah At-Taubah ayat 128:
Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS : 9 : 128).
Dalam ayat ini, Allah menjelaskan tiga bentuk kasih sayang Rasulullah terhadap umatnya. Pertama, Rasulullah adalah orang yang memiliki empati yang demikian besar. Setiap penderitaan umatnya terasa pula beratnya dalam hati beliau. Betapa sedihnya Rasulullah saat melihat bilal bin Rabah, keluarga Yasir dan sahabat lainnya disiksa kaum Quraisy. Betapa sedihnya Rasulullah saat beliau bersama orang-orang beriman diboikot di perkampungan Abu Thalib, tanpa makanan, tanpa boleh berinteraksi, hingga bibir mereka pecah berdarah karena seringnya makan kulit kayu yang keras. Betapa khawatirnya Rasulullah jika umatnya mendapatkan beban yang berat ketika beribadah. Sehingga, Nabi meninggalkan beberapa ibadah yang disukainya sebab khawatir akan memberatkan umatnya, seperti shalat isya di pertengahan malam, shalat tarawih berjamaah dan lain-lain. Bahkan Nabi mengingatkan para imam shalat agar tidak membebani jamaah dengan tilawah yang terlalu panjang.
Nabi tidak ingin umatnya menderita pada hari kiamat hingga beliau rela berkhidmat untuk umatnya di padang mahsyar. Saat umatnya tersiksa di tengah terik yang membakar, dalam kehausan yang mencekik, terpanggang di bawah matahari yang jaraknya hanya satu mil! Saat semua orang sangat membutuhkan minuman, Rasulullah pergi seorang diri menuju telaga untuk menyiapkan gelas-gelas agar umatnya bisa langsung minum.  
Betapa berat hati Baginda Nabi saat melihat sebagian umatnya menderita di dalam neraka, hingga beliau rela berkali-kali sujud begitu lama di bawah Arasy, di hadapan Allah, untuk membebaskan umatnya dari azab neraka, hingga tidak ada lagi orang tersisa di dalam neraka kecuali orang yang Allah vonis kekal di dalam neraka.
Kedua, Rasulullah sangat ingin umatnya mendapatkan hidayah. Beliau berdakwah siang dan malam, selama 23 tahun setiap detiknya beliau habiskan untuk membawa umatnya dari kegelapan menuju cahaya. Tak jarang beliau menangis berduka melihat kondisi umatnya yang belum menyambut seruannya, padahal Allah berkali-kali menyatakan bahwa hidayah hanyalah milik Allah. Tidak ada seorangpun yang bisa memberikan hidayah kepada orang yang dicintainya. Allah lah yang menurunkan hidayah kepada orang yang dikehendaki-Nya.
Ketiga, sangat kasih sayang terhadap orang beriman. Terlalu banyak cerita kasih sayang Rasulullah terhadap umatnya. Cukuplah rintihan “ummatku, ummatku..” yang sering beliau ucapkan saat menangis memohon kepada karunia Allah untuk ummatnya, sebagai bukti kasih sayang beliau. Hingga Allah kemudian mengutus malaikat Jibril turun untuk bertanya (dan Allah maha Tahu apa yang terjadi), apa gerangan yang membuat Rasulullah menangis. Ketika malaikat Jibril menyampaikan keluhan Rasulullah tentang umatnya, Allah pun berfirman, “Wahai Jibril, temuilah kembali Muhammad, lalu katakan padanya: Aku akan melakukan apa yang engkau sukai terhadap umatmu, dan Aku tidak akan mengecewakanmu.” (HR. Muslim)
Kecintaan Umat Terhadap Rasulullah
Begitu besar rasa cinta Rasulullah terhadap umatnya. Lalu, apa kewajiban kita terhadap Rasulullah? Tentu saja kita wajib mencintai Rasulullah dengan segenap jiwa dan raga kita.
Bagaimana mungkin kita tidak mencintai beliau sementara Allah Jalla wa ‘Ala telah mewajibkan hamba-hamba-Nya untuk mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mencintai beliau berarti mencintai Allah dan menaatinya berarti menaati Allah Tabaraka wa Ta’ala. Rasulullah bersabda, “Tidak (sempurna) iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya, dan manusia-manusia lainnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Bahkan, Allah menjanjikan kedudukan yang sangat mulia, dengan mengumpulkannya bersama Rasulullah di surga. Anas bin Malik meriwayatkan, “Ada seseorang yang bertanya pada Nabi, “Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?” Beliau berkata, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”Orang tersebut menjawab, “Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menanggapi, “Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Namun persoalannya, cinta seperti apa yang membuat kita akan dikumpulkan bersama Rasulullah pada hari kiamat? Tentu bukan cinta sembarangan. Sebab, semua orang bisa mengklaim cinta.
Cinta yang benar adalah cinta yang ditandai oleh hal-hal berikut ini:
Pertama, cinta yang melahirkan ketaatan dan ittiba kepada ajaran-ajaran Rasulullah. Begitulah gambaran orang yang benar-benar mencinta. Ketika Ummu Habibah mendengar Rasulullah saw. bersabda, “seorang muslim yang shalat sunah setiap hari sebanyak 12 raka’at dan bukan yang wajib demi mencari ridha Allah, Allah akan membangun rumah untuknya di jannah,” Maka, sebagai bukti cintanya kepada Rasulullah, ia mengatakan, “Sejak itu aku selalu melaksanakan shalat sunah itu.” (HR. Muslim, Abu Daud, dan an Nasa’i)
Kedua, melahirkan pembelaan dengan apapun yang dimilikinya. Seperti cintanya Zaid bin Datsinah, saat ia disiksa kaum kafir Quraisy dengan keji, lalu Abu Sufyan menawarkan keselamatan kepadanya dengan syarat tempatnya digantikan oleh Muhammad Rasulullah. Maka dengan tegas Zaid menjawab, “Demi Allah, aku tidak rela hidup bahagia bersama keluargaku, sementara Rasulullah terluka karena sebuah duri paling kecil sekalipun!”
Ketiga, cinta yang disertai dengan kesenangan saat menyebutkan namanya, mengenang jasa-jasanya, membacakan shalawat dan salam untuknya. Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya orang yang paling mulia bersamaku pada hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku. (HR. Bukhari)
Keempat, mengharapkan perjumpaan dengan beliau. Rasulullah bersabda, “Di antara umatku yang paling mencintaiku adalah, orang-orang yang hidup setelahku. Salah seorang dari mereka sangat ingin melihatku, walaupun menebus dengan keluarga dan harta.” (HR. Muslim).
Kelima, menghidupkan sunnah-sunnahnya. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, sungguh ia telah membuktikan cintanya kepadaku. Dan barangsiapa yang mencintaiku, maka ia akan bersamaku di dalam surga.” (HR. Tirmidzi)
Keenam, cinta yang sejati adalah cinta yang sanggup mengalahkan segala kecintaan terhadap apapun, bahkan dirinya sendiri. Seperti cintanya Wanita dari bani Dinar yang kehilangan ayah, saudara bahkan anaknya sendiri di medan Uhud, tapi ia tetap tersenyum ketika melihat Rasulullah selamat, seraya berkata, “Setiap Musibah, asal tidak menimpa engkau, adalah ringan!”
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cinta yang hakiki dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengikuti beliau. Dan kita memohon kepada-Nya agar kita dikumpulkan bersama beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam surga yang penuh dengan kenikmatan.

Share:

0 #type=(blogger):

Posting Komentar

About

About Me

Foto Saya
Kajian Keluarga Muslim diinisiasi untuk memberikan bekal bagi para keluarga muslim agar bisa mejalankan misi berkeluarga sesuai Al-Quran: Selamat dari neraka (At-Tahrim: 6) Masuk surga bersama (Ath-Thur: 21) Melahirkan generasi terbaik (Al-Furqan: 74)