"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka ..."

Mengembalikan Izzah Yang Hilang


Potret Keagungan Masa lalu
Ketika kita menelaah kembali lembaran sejarah agama ini, kita akan temukan betapa umat ini pernah berjaya, superior dan disegani umat-umat lain. Tiga potret di bawah ini mungkin tidak bisa mewakili semua kegemilangan kaum muslimin, namun setidaknya memberikan gambaran bahwa umat ini pernah memiliki kebesaran, kemuliaan dan kekuatan yang menciutkan nyali musuh-musuh yang mencoba merongrong eksistensinya.
Kisah pertama, pengusiran Bani Nadhir dari kota Madinah.


Dilatari dengan persekongkolan Bani Nadhir dengan Abu Sufyan untuk memerangi kaum muslimin dan upaya mereka untuk membunuh Nabi, memaksa Beliau mengirim surat yang begitu tegas. Dalam suratnya, Rasulullah hanya memberikan dua pilihan; keluar dari Madinah atau berperang sampai hancur lebur. Tempo yang diberikan Nabi cukup singkat, hanya sepuluh hari. Yahudi Bani Nadhir pun gemetar ketakutan. Padahal, mereka punya segalanya untuk memberikan perlawanan. Mereka memiliki benteng-benteng yang kokoh, sekutu yang banyak dan suplai logistik yang sangat memadai. Namun, wibawa Rasulullah dan kaum muslimin membuat nyali mereka ciut. Merekapun bersiap untuk pergi. Sayang, gembong kaum munafik, Abdullah bin Ubay bin Salul datang menemui mereka, seraya mengatakan, “kami punya 2000 pasukan yang siap mendukung kalian jika kalian ingin memerangi Muhammad. Jangan kalian hiraukan Muhammad. Tinggallah di benteng-benteng kalian. Kami akan bantu!”
Merasa mendapat angin, mereka pun berbalik dan memutuskan untuk bertahan.
Nabi pun mengepung mereka. Bani Nadhir gemetar. Mereka yakin tidak akan sanggup menghadapi pasukan kaum muslimin. Sementara si munafik tak kunjung datang memberikan bantuan. Akhirnya, mereka memutuskan menyerah.
Kisah kedua, Khalid bin Walid pernah menulis surat kepada Kisra Persia, “Masuk Islamlah, engkau akan selamat. Jika tidak, sungguh aku akan datang mendatangi kalian bersama orang-orang yang mencintai kematian sebagaimana kalian mencintai kehidupan”.
Saat membaca surat itu, Kisra gemetar. Hatinya diliputi rasa takut. Ia kemudian mengirim utusan kepada Kaisar China untuk meminta bantuan. Sayang, Kaisar China menanggapinya dengan mengatakan, “Wahai Kisra, tidak ada daya bagiku menghadapi kaum yang seandainya mereka ingin mencongkel gunung, niscaya mereka bisa melakukannya. (Al-Bidayah Wan Nihayah, 7/145)
Kisah ketiga, Sulaiman Al-Qanuni dari Turki Utsmani, atau dikenal juga sebagai The Great Sulaiman di negeri barat, adalah sosok yang sangat berpengaruh dan disegani bahkan oleh negeri barat sekalipun. Suatu hari beliau mendengar bahwa di Prancis, masyarakatnya menciptakan dansa antara laki-laki dan perempuan. Saat itu, Sulaiman Al Qonuni mengirim surat kepada raja Prancis,
“Telah sampai padaku berita bahwa kalian membuat dansa mesum antara laki-laki dan perempuan.Jika suratku ini telah sampai padamu, pilihannya hanya dua yaitu: kalian hentikan sendiri perbuatan mesum itu atau aku datang kepada kalian dan aku hancurkan negeri kalian.”
Setelah menerima surat itu, raja Prancis menghentikan dansa penuh maksiat itu, hingga selama 100 tahun dansa itu tidak terlihat lagi di Prancis.
Demikian sepenggal potret keagungan kaum muslimin. Di masa jayanya, mereka begitu disegani. Suara mereka didengar dan kekuatannya sangat diperhitungkan. Sangat kontras dengan kondisi mayoritas umat Islam sekarang yang terkesan terbelakang, inferior dan termarjinalkan.
Izzah; Faktor Keagungan
Kondisi ini sama sekali bukan karena sedikitnya jumlah atau minimnya perlengkapan jihad. Sebab, sejak zaman Nabi, sedikitnya jumlah dan minimnya perlengkapan tidak pernah menjadi penghalang mereka meraih kejayaan dan kemenangan. Faktor utamanya justru hilangnya izzah dalam diri kaum muslimin. Izzah berarti kemuliaan, kedigdayaan, kehormatan, harga diri dan keyakinan akan kemuliaan agama yang mereka anut. Menurut Al-Asfahani, izzah adalah kondisi yang menghalangi seseorang untuk bisa dikalahkan. Dari kata ini kemudian diambil kata Al-Aziz, salah satu asmaul Husna yang berarti Dzat yang Maha Mulia, Maha Kuat dan tidak bisa dikalahkan siapapun. Izzah inilah yang tidak lagi dimiliki mayoritas kaum muslimin.
Izzah itulah yang akan menyulut ghirah, rasa cemburu dan semangat kaum muslimin untuk membela agama dari berbagai gangguan. Izzah itulah yang menyadarkan kaum muslimin bahwa apa yang mereka bela adalah sesuatu yang sangat berharga, bahkan melebihi nyawa mereka sendiri. Izzah itulah yang membuat mereka yakin bahwa apapun pengorbanan mereka akan diganti dengan sesuatu yang lebih baik di sisi Allah. Izzah itulah yang mencetak sebuah generasi yang “mencintai kematian melebihi kecintaan manusia terhadap kehidupan”.
Mengembalikan Izzah Yang Hilang
Izzah itulah yang kini meredup seiring masuknya berbagai fitnah, tipu daya, propaganda dan semakin menjauhnya kaum muslimin dari agama mereka. Lalu, dimana kita harus mencari izzah yang hilang itu? Izzah itu hanya milik Allah. Sebab itu, tidak ada cara lain untuk meraihnya kecuali mendekati sang pemilik izzah; Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dialah Al-Aziz, yang maha mulia dan maha perkasa. Sebab itu, siapapun yang bersandar kepada Allah Al-Aziz, maka ia telah bersandar pada sesuatu yang sangat kokoh dan tidak mungkin bisa dihancurkan siapapun.
Katakanlah, “Wahai Rabb Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. [Ali ‘Imrân/3:26].
Siapapun yang mendekatkan dirinya kepada Allah dengan melakukan ketatan kepada-Nya, maka Allah akan menjadi mata yang ia gunakan untuk melihat, tangan yang ia gunakan untuk menghantam dan kaki yang ia gunakan untuk melangkah.
Siapapun yang menyandarkan dirinya kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan pertolongan dengan cara memberikan rasa gentar dalam hati musuh. Nabi bersabda, “Aku ditolong oleh rasa gentar yang Allah susupkan ke dalam hati musuh sebelum berhadapan denganku sejauh jarak satu bulan perjalanan.” (HR. Bukhari)
Siapapun yang takut kepada Allah, maka Allah akan menjadikan semuanya tunduk kepada dirinya. Ibnu Qayyim menyatakan, “barangsiapa yang takut kepada Allah, maka ia akan ditakuti segala sesuatu. Namun, siapa yang tidak takut kepada Allah, segala sesuatu akan membuatnya ketakutan.” (Bada’i Al-Fawaid, 2/470)
Siapa yang mencintai Allah dan menghendaki apa yang ada pada-Nya, niscaya Allah akan mengobati hatinya dari penyakit wahn, suatu penyakit yang menggerogoti pilar-pilar kejayaan kaum muslimin. Bersabda Rasulullah shallallahu ’alaih wa sallam “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” Rasulullah menjawab, “Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih yang mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahan.” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu?” Rasulullah menjawab, “Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR. Abu Daud 3745)
Ringkasnya, kaum muslimin ini tidak akan bangkit karena banyaknya jumlah, canggihnya persenjataan atau jeniusnya gagasan dan ide-ide semata, tapi mereka akan bangkit dengan izzah yang tertanam dalam dirinya, dan mereka tidak akan pernah meraih izzah, kecuali dengan mendekatkan diri kepada pemilik izzah, yaitu Allah Subhanahu wa ta’ala, dengan menjalankan syariat-syariat Allah, sebagaimana perkataan Umar bin Khattab. “Kami adalah kaum yang dimuliakan dengan Islam. Maka, jika kita mencari kemuliaan selain dengan Islam, maka Allah akan menghinakan kita.”

Share:

0 #type=(blogger):

Posting Komentar

About

About Me

Foto Saya
Kajian Keluarga Muslim diinisiasi untuk memberikan bekal bagi para keluarga muslim agar bisa mejalankan misi berkeluarga sesuai Al-Quran: Selamat dari neraka (At-Tahrim: 6) Masuk surga bersama (Ath-Thur: 21) Melahirkan generasi terbaik (Al-Furqan: 74)