"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka ..."

Ah, Begitulah Rupanya Iman!

Ibrah dari Jaisyul Usrah (1)

Kedudukanmu di sisi Allah tergantung bagaimana engkau mendudukan Allah di dalam hatimu.”


Kisah Tabuk sebenarnya telah dimulai ketika duta Rasulullah, Al-Harits bin Umair dibunuh Syurahbil bin Amr Al-Gahssany saat membawa surat kepada pimpinan Bushra. Konflik semakin tajam dan diakhiri dengan pertempuran dahsyat di Mu’tah antara pasukan Muslim yang dipimpin Zaid bin Haritsah melawan pasukan Romawi pasca pembunuhan itu. Belum genap setahun setelah perang di Mu’tah, pasukan Romawi siap terjun untuk kancah peperangan besar-besaran. Final Chapter. Duel Terakhir. Sebab, pasukan Romawi menilai keberadaan pasukan Rasulullah mengancam eksistensi dan kekuasaan mereka.

Informasi yang beredar, tentang dahsyatnya pasukan Romawi, sebagai penguasa adi daya saat itu, dengan jumlah dan perlengkapan perangnya, dibantu oleh beberapa kerajaan Arab Nashrani membuat perasaan cemas diam-diam menyusupi kaum beriman.

Paceklik pangan, udara yang panas menyengat, jarak yang jauh dan kebun-kebun yang tinggal memetik panennya menambah kondisi semakin sulit. Haruskah mereka meninggalkan panen yang mereka tunggu-tunggu, yang menjadi satu-satunya harapan kelangsungan hidup, di tengah paceklik seperti ini? Haruskah mereka berangkat ke medan yang sangat jauh, hampir 700 KM dalam cuaca yang sangat panas, melalui gurun pasir yang membakar dan melepuhkan kulit kaki-kaki mereka? Haruskah mereka ikut berperang melawan dahsyatnya kekuatan Romawi dengan persiapan sekedarnya? Bukankah itu sama dengan mengantar nyawa?

Rasulullah segera mengambil sikap. Beliau lantas serukan jihad. Bahkan tidak hanya menunggu di Madinah tapi menyongsong musuh hingga ke tabuk!

Para sahabat yang mulia itu, segera berlomba menyahuti seruan sang Nabi. Abdurrahman bin Auf mendaftarkan dirinya semabri membawa sedekah yang sangat banyak. Thalhah pun demikian. Satu persatu datang menemui Nabi mengikrarkan kesetiaan mereka, membawa perbendaharaan mereka. Utsman datang menyerhakan 1000 dinar, 900 ekor unta dan 100 ekor kuda. Hingga air mata Nabi meleleh, “Tidak ada yang membahayakan Utsman setelah apa yang diperbuatnya hari ini!” demikian sabda beliau.

Umar membawa separuh hartanya diiringi rasa iri kepada sahabat tercinta, Abu Bakar. Ia bertekad untuk mengalahkan Abu Bakar. Namun, lawannya justru membawa seluruh harta yang dimilikinya hingga Nabi berkerut dan bertanya, “lalu, apa yang engkau sisakan untuk anak istrimu?”
Tanpa ragu, Abu Bakar menjawab, “Allah dan Rasul-Nya.”

Ah, begitulah rupanya iman. Jika iman sudah mewarikan cinta, apapun yang diinginkan Kekasih, berlombalah mereka memenuhinya. Ada kompetisi untuk menjadi yang terbaik di hadapan sang kekasih. Demi gengsi. Demi cinta. Demi uluran kasih sayang-Nya. Apapun resikonya. Berapapun harga yang harus dibayarnya.
Seperti Abu Bakar. Pantaslah jika Nabi pernah memujinya selangit, “Jika iman seluruh penduduk bumi dikumpulkan, lalu ditimbang dengan imannya Abu Bakar, niscaya iman Abu Bakar akan lebih berat darinya!”

Sementara orang-orang miskin dan papa, yang tidak memiliki perbekalan apapun, datang kepada nabi dengan semangat yang membara. Mereka meminta nabi untuk membawanya serta. Namun, situasi tidak memungkinkan Nabi untuk membawa mereka. Hancurlah hati mereka. Remuk redam jiwa-jiwa mereka. Tak tahan, tangis berlomba dengan doa menuju langit ketujuh, berbicara langsung dengan Allah, Rabb mereka.

“Ya Allah, Engkau memerintahkan berjihad, sedangkan Engkau tidak memberiku sesuatu yang dapat aku bawa berjihad bersama Rasul-Mu, dan Engkau tidak memberikan di tangan Rasul-Mu sesuatu yang dapat membawaku berjihad di jalan-Mu. Yang bisa kupersembahkan hanyalah sedekah permaafan. Malam ini, semua perbuatan zhalim muslim manapun terhadap diriku dari perkara harta, raga atau kehormatan, telah aku maafkan.”

Betapa mulianya mereka. Betapa agungnya. Hingga Allah mengabadikan momen yang demikian menyentuh ini dalam salah satu kalam-Nya, “Mereka Kembali, sedangkan mata mereka bercucuran air mata karena sedih tidak memperoleh apa yang akan mereka infakkan." (At Taubah : 92)

Ah, rupanya begitulah iman. Tertinggal satu pintu kebaikan dirasakan sebagai kerugian yang luar biasa. Luputnya kebaikan ibarat hantaman godam yang melantakkan jiwa-jiwa mereka.

Tiba di Tabuk. Ternyata pasukan Romawi merasa keder. Rasa takut telah menyingkirkan mereka. Tidak peduli lagi kebanggaan dan kejayaan. Mereka meninggalkan tabuk sebelum pasukan Nabi tiba.
Walhasil, peperangan dahsyat itu urung terjadi. Rupanya Allah hanya hendak menguji keimanan. Siapakah diantara hamba-Nya yang benar-benar patuh, dalam situasi paling sulit sekalipun.

Itulah iman. Ia menuntut pembuktian. Mengikrarkan beriman berarti siap untuk diuji, sebagaimana dalam surah Al-Ankabut:


أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?”. “Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-‘Ankabut: 2-3)


Ah, begitulah rupanya iman. 
Share:

0 #type=(blogger):

Posting Komentar

About

About Me

Foto Saya
Kajian Keluarga Muslim diinisiasi untuk memberikan bekal bagi para keluarga muslim agar bisa mejalankan misi berkeluarga sesuai Al-Quran: Selamat dari neraka (At-Tahrim: 6) Masuk surga bersama (Ath-Thur: 21) Melahirkan generasi terbaik (Al-Furqan: 74)