Ibrah dari Jaisyul Usrah (1)
“Kedudukanmu di sisi Allah tergantung
bagaimana engkau mendudukan Allah di dalam hatimu.”
Kisah Tabuk sebenarnya telah dimulai ketika duta
Rasulullah, Al-Harits bin Umair dibunuh Syurahbil bin Amr Al-Gahssany saat
membawa surat kepada pimpinan Bushra. Konflik semakin tajam dan diakhiri dengan
pertempuran dahsyat di Mu’tah antara pasukan Muslim yang dipimpin Zaid bin
Haritsah melawan pasukan Romawi pasca pembunuhan itu. Belum genap setahun
setelah perang di Mu’tah, pasukan Romawi siap terjun untuk kancah peperangan
besar-besaran. Final Chapter. Duel Terakhir. Sebab, pasukan Romawi menilai
keberadaan pasukan Rasulullah mengancam eksistensi dan kekuasaan mereka.
Informasi yang beredar, tentang dahsyatnya
pasukan Romawi, sebagai penguasa adi daya saat itu, dengan jumlah dan
perlengkapan perangnya, dibantu oleh beberapa kerajaan Arab Nashrani membuat
perasaan cemas diam-diam menyusupi kaum beriman.
Paceklik pangan, udara yang panas menyengat,
jarak yang jauh dan kebun-kebun yang tinggal memetik panennya menambah kondisi
semakin sulit. Haruskah mereka meninggalkan panen yang mereka tunggu-tunggu,
yang menjadi satu-satunya harapan kelangsungan hidup, di tengah paceklik
seperti ini? Haruskah mereka berangkat ke medan yang sangat jauh, hampir 700 KM
dalam cuaca yang sangat panas, melalui gurun pasir yang membakar dan melepuhkan
kulit kaki-kaki mereka? Haruskah mereka ikut berperang melawan dahsyatnya
kekuatan Romawi dengan persiapan sekedarnya? Bukankah itu sama dengan mengantar
nyawa?
Rasulullah segera mengambil sikap. Beliau
lantas serukan jihad. Bahkan tidak hanya menunggu di Madinah tapi menyongsong
musuh hingga ke tabuk!
Para sahabat yang mulia itu, segera berlomba
menyahuti seruan sang Nabi. Abdurrahman bin Auf mendaftarkan dirinya semabri
membawa sedekah yang sangat banyak. Thalhah pun demikian. Satu persatu datang
menemui Nabi mengikrarkan kesetiaan mereka, membawa perbendaharaan mereka.
Utsman datang menyerhakan 1000 dinar, 900 ekor unta dan 100 ekor kuda. Hingga
air mata Nabi meleleh, “Tidak ada yang membahayakan Utsman setelah apa yang
diperbuatnya hari ini!” demikian sabda beliau.
Umar membawa separuh hartanya diiringi rasa
iri kepada sahabat tercinta, Abu Bakar. Ia bertekad untuk mengalahkan Abu
Bakar. Namun, lawannya justru membawa seluruh harta yang dimilikinya hingga
Nabi berkerut dan bertanya, “lalu, apa yang engkau sisakan untuk anak istrimu?”
Tanpa ragu, Abu Bakar menjawab, “Allah dan
Rasul-Nya.”
Ah, begitulah rupanya iman. Jika iman sudah
mewarikan cinta, apapun yang diinginkan Kekasih, berlombalah mereka
memenuhinya. Ada kompetisi untuk menjadi yang terbaik di hadapan sang kekasih. Demi
gengsi. Demi cinta. Demi uluran kasih sayang-Nya. Apapun resikonya. Berapapun harga
yang harus dibayarnya.
Seperti Abu Bakar. Pantaslah jika Nabi pernah
memujinya selangit, “Jika iman seluruh penduduk bumi dikumpulkan, lalu
ditimbang dengan imannya Abu Bakar, niscaya iman Abu Bakar akan lebih berat
darinya!”
Sementara orang-orang miskin dan papa, yang
tidak memiliki perbekalan apapun, datang kepada nabi dengan semangat yang
membara. Mereka meminta nabi untuk membawanya serta. Namun, situasi tidak
memungkinkan Nabi untuk membawa mereka. Hancurlah hati mereka. Remuk redam
jiwa-jiwa mereka. Tak tahan, tangis berlomba dengan doa menuju langit ketujuh,
berbicara langsung dengan Allah, Rabb mereka.
“Ya Allah, Engkau memerintahkan berjihad,
sedangkan Engkau tidak memberiku sesuatu yang dapat aku bawa berjihad bersama
Rasul-Mu, dan Engkau tidak memberikan di tangan Rasul-Mu sesuatu yang dapat
membawaku berjihad di jalan-Mu. Yang bisa kupersembahkan hanyalah sedekah
permaafan. Malam ini, semua perbuatan zhalim muslim manapun terhadap diriku
dari perkara harta, raga atau kehormatan, telah aku maafkan.”
Betapa mulianya mereka. Betapa agungnya.
Hingga Allah mengabadikan momen yang demikian menyentuh ini dalam salah satu
kalam-Nya, “Mereka Kembali, sedangkan mata mereka bercucuran air mata karena
sedih tidak memperoleh apa yang akan mereka infakkan." (At Taubah : 92)
Ah, rupanya begitulah iman. Tertinggal satu
pintu kebaikan dirasakan sebagai kerugian yang luar biasa. Luputnya kebaikan
ibarat hantaman godam yang melantakkan jiwa-jiwa mereka.
Tiba di Tabuk. Ternyata pasukan Romawi merasa
keder. Rasa takut telah menyingkirkan mereka. Tidak peduli lagi kebanggaan dan
kejayaan. Mereka meninggalkan tabuk sebelum pasukan Nabi tiba.
Walhasil, peperangan dahsyat itu urung
terjadi. Rupanya Allah hanya hendak menguji keimanan. Siapakah diantara
hamba-Nya yang benar-benar patuh, dalam situasi paling sulit sekalipun.
Itulah iman. Ia menuntut pembuktian. Mengikrarkan
beriman berarti siap untuk diuji, sebagaimana dalam surah Al-Ankabut:
أَحَسِبَ النَّاسُ
أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا
الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ
الْكَاذِبِينَ
“Apakah
manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah
beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?”. “Dan sesungguhnya Kami telah
menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui
orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”
(Al-‘Ankabut: 2-3)
Ah, begitulah rupanya iman.







0 #type=(blogger):
Posting Komentar