"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka ..."

Bekal Para Pemberi Bekal

Tadabbur Surah Al Muzzammil 1-4


Surah ini bernama “al-Muzzammil” yang berarti orang berselimut, yaitu melingkarkan kain di tubuhnya, atau berselimut di waktu malam. Surat ini diturunkan diawal masa risalah Rasulullah sebagai dorongan dan motivasi agar beliau bangkit, berjuang menyampaikan risalah Allah.


Surah ini berisi bekal-bekal yang harus dimiliki setiap para penyeru kebenaran, guru, da’i dan orangtua.

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ (1) قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا (2) نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا (3) أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا (4(

“Hai orang yang berselimut (Muhammad). Bangunlah (untuk sebahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah a-Qur’an itu dengan perlahan-lahan”. (QS. Al-Muzzammil: 1-4)

Dakwah bukanlah perjalanan wisata dimana kita bisa berleha-leha. Jalan dakwah begitu terjal, berliku, penuh onak dan duri. Rintangan dan hambatan. Celaan, makian bahkan ancaman.
Tapi itulah seni dakwah. Itulah pengabdian. Tentu dengan ganjaran yang memikat; surga seluas langit bumi. Sebab itulah Nabi pernah menasehati Basyir, seorang sahabat beliau:
لَا صَدَقَةَ وَلَا جِهَادَ فَبِمَ تَدْخُلُ الْجَنَّةَ
“Wahai Basyir, tidak sedekah dan tidak pula berjihad, lalu, dengan apa kau masuk surga?” (HR. Hakim)

Sebab itulah Allah memberikan bekal agar setiap da’i siap menghadapi semua tantangan melalui dua ibadah malam yang demikian dahsyat:
      1)     Shalat malam
      2)     Tilawah Al-Quran

Shalat malam adalah pelatihan dan pembekalan yang memiliki dampak luar biasa. Siapapun yang bangun untuk shalat malam, ia harus bermujahadah, melawan keinginan hawa nafsu. Ia harus rela meninggalkan nyenyaknya tidur. Tidak ada yang ia pamrih, kecuali ridha Allah. Sebab itu, orang-orang yang rutin shalat malam memiliki kepribadian yang  tulus, gigih, tidak mudah menyerah dan selalu optimis.

Sementara tilawah Al-Quran dengan tartil, dinikmati setiap lekuk tuturnya, diselami setiap palung maknanya, saat manusia lain tertidur lelap, akan memberinya kesan betapa intimnya Allah dengan dirinya. Betapa dekatnya. Begitu kuat pesan dan kesan kalam ilahi ini dalam hatinya. Ia menemukan betapa luas karunia-Nya, betapa besar rasa cinta-Nya, betapa sempurna keadilan-Nya. Pikirannya akan tajam, terasah, kokoh dan tegas, sebagaimana kuatnya aruh ayat-ayat makkiyah. Inspriasi, solusi, kreasi akan mengalir deras, sebagaimana karakter ayat-ayat madaniyah.

Ibadah malam; Shalat dan tilawah, ibarat charger. Dimana kita mengisi daya, kekuatan, kesabaran dan kreatifitas kita. Sebab siang hari akan banyak aktifitas, peristiwa, rintangan dan ujian yang akan menguras energi. Menguji tebalnya kesabaran. Menempa kuatnya kegigihan. Menuntut banyaknya solusi. Siapa yang malam harinya mengisi daya dengan penuh, niscaya ia akan menjalani hari-harinya dengan gemilang. Ia punya segudang jalan keluar. Sejuta kreatifitas. Berlapis-lapis kesabaran. Berbagai persoalan tidak akan membuatnya tumbang dan terkapar.

Berbeda dengan orang yang hanya mengisi daya fisiknya, tapi tidak mengisi daya ruhaninya. Stau dua persoalan akan menghabiskan energinya, menguliti kesabarannya dan merobohkan kekuatannya. Hingga datang masalah berikutnya, ia sudah tidak lagi punya daya dan kekuatan untuk menyelesaikannya.

Mengapa harus malam hari?
Heningnya suasana membuat hati lebih khusyuk. Lebih intim. Lebih mesra berduaan dengan Rabb. Sementara siang hari dengan hiruk pikuknya menyulitkan kita membersamai Allah. Terlebih, siang hari dengan segudang aktifitasnya dikhawatirkan tak lagi memberi waktu yang cukup untuk berduaan dengan Sang kekasih, Allah 'Azza Wa Jalla.

Dengan bekal itulah, seorang da’i, guru ataupun orangtua, akan mampu memikul beban berat di siang hari; menyampaikan risalah, mendidik, menegakkan hukum dan syariat Allah. Beramar makruf nahyi munkar. Berusaha memantaskan diri untuk menjadi ummat terbaik.

Sebab, bagaimana ia bisa memberi bekal, sementara ia tidak memiliki bekal? Teko hanya bisa mengisi gelas jika di dalamnya ada air yang bisa dituangkan.

Wallahu a’lam


Share:

0 #type=(blogger):

Posting Komentar

About

About Me

Foto Saya
Kajian Keluarga Muslim diinisiasi untuk memberikan bekal bagi para keluarga muslim agar bisa mejalankan misi berkeluarga sesuai Al-Quran: Selamat dari neraka (At-Tahrim: 6) Masuk surga bersama (Ath-Thur: 21) Melahirkan generasi terbaik (Al-Furqan: 74)