"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka ..."

Etika dalam Mengkritik

Renungan Surah Abasa: 1-2
عَبَسَ وَتَوَلَّى(١) أَنْ جَاءَهُ الأعْمَى(٢)

1. Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,
2. karena telah datang seorang buta kepadanya.
Sebab turunnya surat ini adalah sebagaimana yang diriwayatkan para mufassir:

أُنْزِلَ عَبَسَ وَتَوَلَّى فِي ابْنِ أُمِّ مَكْتُوْمٍ الأَعْمَى أَتَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَعَلَ يَقُوْلُ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَرْشِدْنِي، وَعِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ مِنْ عُظَمَاءِ الْمُشْرِكِيْنَ فَجَعَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْرِضُ عَنْهُ وَيُقْبِلُ عَلَى الآخَرِ وَيَقُوْلُ أَتَرَى بِمَا أَقُوْلُ بَأْسًا فَيَقُوْلُ لاَ فَفِي هَذَا أُنْزِلَ

"Diturunkan surat 'Abasa wa Tawallaa' tentang Ibnu Ummi Maktum yang buta, ia mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata : "Wahai Rasulullah berilah pengarahan/petunjuk kepadaku". Dan di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ada seseorang dari para pembesar kaum musyrikin. Maka
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallampun berpaling dari Ibnu Ummi Maktum dan berbalik ke arah lelaki (musyrik) tersebut dan berkata : "Apakah menurutmu apa yang aku katakan (sampaikan kepadamu tentang dakwah tauhid-pen) baik?", maka lelaki pembesar musyrik tersebut berkata : "Tidak". Karena inilah turun surat 'Abasa." (HR At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)
Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa para pembesar musyrikin yang sedang didakwahi oleh Nabi tersebut adalah Utbah bin Robi'ah, Abu Jahl bin Hisyaam, Ummayyah bin Kholaf dan Ubay bin Kholaf. Nabi mendakwahi mereka dan mengharapkan keislaman mereka (Lihat Zaadul Masiir, karya Ibnul Jauzi pada tafsir surat 'Abasa)

Ada beberapa persoalan terkait dua ayat diatas:
Pertama; Mengapa Nabi berpaling?
Menurut Syeikh Mutawalli Asy Sya’rawi, Nabi ingin menjalankan tugas risalah ini dengan sebaik-baiknya. Bahkan melebihi apa yang diperintahkan Allah kepadanya. Saking seriusnya Nabi dalam urusan dakwah, sampai-sampai Allah menggambarkan dalam surah Asy Syu’ara ayat 3, “Boleh jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan dirimu, karena mereka tidak beriman.” Sebab itu, begitu para pembesar Quraisy datang, Nabi melihat peluang yang harus dimanfaatkan. Jika mereka beriman, akan banyak pengikut mereka yang turut pula beriman. Sebab itulah ketika pembicaraan beliau terpotong oleh Ibnu Ummi Maktum, beliau merasa kurang nyaman dan berpaling.
Apakah ini dosa? Sebagian ulama, diantaranya Buya Hamka, menegaskan ini bukan dosa. Hanya sedikit kurang layak. Bagi kebanyakan orang, tindakan ini lumrah dan wajar saja dilakukan. Tapi bagi manusia sekelas Nabi Muhammad, yang akhlaknya demikian agung, tindakan ini jadi terasa kurang pantas.

Kedua, Mengapa Allah menggunakan dhamir (kata ganti orang ketiga) padahal yang dimaksud adalah Nabi sebagai orang kedua?
Ayat ini berisi nasehat dan kritikan kepada Nabi. Akan tetapi, Allah tidak menunjuk beliau secara langsung dengan menyebut, “engkau bermuka masam dan engkau berpaling” tapi Allah katakan “dia bermuka masam dan dia berpaling” menggunakan kata ganti orang ketiga, padahal yang dimaksud adalah nabi, orang kedua.
Allah mengajarkan bagaimana nasehat, teguran atau kritikan disampaikan secara halus, tanpa menyinggung dan mempermalukan orang yang dikritik. Sebaliknya, orang yang dkritik menerima kritikan ini dengan lapang dada dan kemudian menyadari kesalahannya. Rasulullah, setelah turun ayat ini, selalu bermuka cerah setiap kali berjumpa dengan Ibnu Ummi Maktum. Beliau sellau menghormati dan melimpahkan kasih sayangnya. Bahkan, beliau sering mengenang kisah ini.
Ibnu Rajab pernah mengatakan, “Nasihat itu beriringan dengan rahasia. Sedang celaan bersama dengan terang-terangan.” (Al Farqu Baynan Nashiah Wat Ta’yir)
Inilah akhlak Ulama-ulama kita. Imam Ahmad bin Hanbal pernah menegur muridnya Harun bin Abdillah dengan mendatangi rumahnya saat laut malam. Saat sepi. Beliau berjingkat. Berbisik. Agar tidak ada orang lain yang tahu bahwa beliau menasehati Harun, Muridnya sendiri!
Jika ini bisa dilakukan, niscaya tidak akan ada lagi majlis yang diboikot, dibubarkan karena berbeda paham dan sebagainya. Sebab, dakwah adalah mengajak. Bukan mengejek.

Mengapa Allah menyebut Ibnu Ummi Maktum dengan julukan “buruk” si buta?
Secara umum, Islam tidak memperbolehkan menggunakan sebutan-sebutan yang buruk, mengesankan adanya kekurangan atau kecacatan, sebagaimana dalam surah Al Hujurat ayat 11. Namun dalam ayat ini ada beberapa pesan yang ingin disampaikan:
1. Untuk memperjelas udzur Ibnu Ummi Maktum. Bukan ia tidak sopan memotong pembicaraan nabi dengan pembesar Quraisy, tapi karena Ibnu Ummi Maktum tidak bisa melihat, ia tidak menyadari situasi yang sedang terjadi.
2. Agar Nabi memberikan perhatian yang lebih kepada Ibnu Ummi Maktum. Sebab ia seorang yang buta, seharusnya Nabi lebih memperhatikannya. Sejak awal, Islam memang sangat memperhatikan kaum lemah.
3. Sebagai sindiran yang tajam kepada pembesar Quraisy yang saat itu bersama Nabi. Ibnu Ummi maktum yang tidak terpelajar, miskin dan buta, tapi mampu melihat kebenaran dakwah Nabi. Bagaimana bisa mereka yang terpelajar, kaya dan bisa melihat, justru menolak?
4. Sebagai penghormatan kepada Ibnu Ummi Maktum. Dengan ayat ini, kisah dan julukannya akan terus dibaca sampai hari kiamat.
Wallahu A’lam.


Share:

0 #type=(blogger):

Posting Komentar

About

About Me

Foto Saya
Kajian Keluarga Muslim diinisiasi untuk memberikan bekal bagi para keluarga muslim agar bisa mejalankan misi berkeluarga sesuai Al-Quran: Selamat dari neraka (At-Tahrim: 6) Masuk surga bersama (Ath-Thur: 21) Melahirkan generasi terbaik (Al-Furqan: 74)