"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka ..."

Perusak Kebahagiaan Itu Bernama Kikir

Perusak Itu Bernama Kikir

إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ إِذْ أَقْسَمُوا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِينَ (17) وَلَا يَسْتَثْنُونَ (18) فَطَافَ عَلَيْهَا طَائِفٌ مِنْ رَبِّكَ وَهُمْ نَائِمُونَ (19) فَأَصْبَحَتْ كَالصَّرِيمِ (20)

“Sesungguhnya Kami telah menguji mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil) nya di pagi hari. dan mereka tidak mengucapkan: "Insyaa Allah",
Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita.” (QS. Al-Qalam: 17-20)

Bagaimana kisah pemilik kebun tersebut?
Kisah ini terjadi di Yaman. Tepatnya di lembah Dharawan. Pada awalnya, kebun ini milik seorang hamba Allah yang saleh. Setiap kali musim panen tiba, ia selalu membagi hasil panen menjadi tiga bagian. Satu bagian untuk disedekahkan. Satu bagian digunakan untuk biaya operasional perkebunan. Dan satu bagian lain untuk nafkah dirinya dan keluarganya. Tak pernah sekalipun ia menghalangi kaum miskin untuk ikut menikmati hasil panen. Baginya, berbagi adalah ungkapan syukur kepada Rabb yang telah menumbuhkan dan memelihara tanamannya. Baginya, berbagai adalah keharusan. Kebahagiaan.
Sebab itulah, Allah anugerahkan kepadanya kesuburuan dan keberkatan. Lahannya selalu mendapatkan pasokan air saat lahan yang lain kekeringan. Kebunnya selalu berbuah lebat saat kebun yang lain berguguran.
Setelah ia wafat, kebun ini diwariskan kepada anak-anaknya yang kikir. Dengan penuh keyakinan, mereka bahkan bersumpah akan memetik buahnya pada esok hari tanpa membuat pengecualian.

Apa maksud, “mereka tidak mengecualikan”? Pertama, mereka tidak berkata insya Allah. Kedua, mereka berniat untuk memetik dan menjual semuanya tanpa mengecualikan bagian untuk kaum miskin. (lihat Al-Qurthubi 18/241).
Karena itulah, Allah menurunkan malapetaka. Disebutkan bahwa malapetaka itu berupa api yang membakar kebun mereka hingga tampak hitam. Ada pula yang menyatakan bahwa Malaikat Jibril datang dan mencabuti semua pephonannnya hingga tersisa hanya tanah menghitam. Benar-benar hitam seperti gelapnya malam. 

Ibrah:
·  Pertama, disyariatkannya ucapan insya Allah saat berencana akan melakukan sesuatu

·  Kedua, kikir adalah sifat yang menghancurkan. Menghancurkan hubungan dengan orang lain dan menghancurkan kebahagiaan yang sejatinya ada di depan mata.

     Wallahu a'lam
Share:

0 #type=(blogger):

Posting Komentar

About

About Me

Foto Saya
Kajian Keluarga Muslim diinisiasi untuk memberikan bekal bagi para keluarga muslim agar bisa mejalankan misi berkeluarga sesuai Al-Quran: Selamat dari neraka (At-Tahrim: 6) Masuk surga bersama (Ath-Thur: 21) Melahirkan generasi terbaik (Al-Furqan: 74)