Bulan Sya'ban
Bulan yang Dilalaikan
Ada beberapa hal yang membuat Sya’ban begitu istimewa dalam
rangkaian syariat kita.
Pertama, Sya’ban adalah bulan yang banyak dilalaikan manusia. Secara umum, beribadah pada saat manusia lain lalai termasuk ibadah yang istimewa. Sebab, ibadah pada saat itu butuh kesabaran, keteguhan dan pengorbanan yang luar biasa. Dalam kaidah disebutkan: al jazaa ala qadri al masyaqqah (balasan disesuaikan tingkat kesulitan).
Misalnya, infak sebelum Fathu Makkah
dengan infak setelah Fathu Makkah berbeda nilainya, karena yang pertama jauh lebih sulit dan memerlukan lebih banyak pengorbanan (lihat QS Al Hadid; 10).
dengan infak setelah Fathu Makkah berbeda nilainya, karena yang pertama jauh lebih sulit dan memerlukan lebih banyak pengorbanan (lihat QS Al Hadid; 10).
Sebab itulah
ketika Nabi ditanya Usamah bin Zaid tentang kebiasaan beliau paling banyak
berpuasa sunnah pada bulan Sya’ban, beliau menjawab, “ini adalah bulan yang
banyak dilalaikan manusia.” (HR. An Nasa’I dan Ahmad; Hasan)
Demikian pula
Muhammad bin Sirin pernah memasuki pasar pada saat tengah hari dengan bertakbir
dan bertasbih serta berdzikir kepada Allah. Ketika seorang lelaki bertanya
kepadanya, ‘wahai Abu Bakr, anda berdzikir pada siang bolong begini?!’ Ibnu
Sirin menjawab, “justru inilah saat-saat lalai.” (Hilyah Al-Auliyâ 2/272)
Lalu, apa
balasan bagi orang yang beribadah saat lalai? Setidaknya ada 4 hal; diampuni
satu juta kesalahan, diberikan satu juta kebaikan, diangkat satu juta derajat
(HR Tirmidzi; Hasan lighairih), dan diberikan pahala 50 orang sahabat (HR. Abu
Daud, Tirmidzi; Sahih).






0 #type=(blogger):
Posting Komentar