Bulan Sya'ban; Laporan Tahunan Catatan Amal
Keistimewaan kedua: Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal.
Ada
tiga waktu dimana amal manusia diangkat dan dilaporkan kepada Allah Ta’ala.
(1) Laporan
Harian sebagaimana dalam hadits Muslim, “Amal perbuatan
manusia malam hari diangkat dan disetorkan kepadaNya sebelum siang hari, dan
amal perbuatan siang hari diangkat dan disetorkan kepadaNya sebelum malam hari
tiba.” Secara spesifik, pelaporan ini terjadi pada waktu
subuh dan ashar sebagaimana hadits Bukhari Muslim.
(2) Laporan
Pekanan, sebagaimana sabda Rasulullah tentang kebiasaan beliau berpuasa pada
hari senin dan kamis, "Dua hari itu adalah hari dimana amal perbuatan akan
ditunjukkan (disetorkan) kepada Allah, dan aku ingin ketika amalku disetorkan
kepada Allah, aku dalam keadaan berpuasa." (HR. Nasai dan Ahmad; hasan
shahih)
(3) Laporan
Tahunan yaitu yang terjadi pada bulan Sya’ban sebagaimana hadits Usamah bin
Zaid diatas.
Dalam
Hasyiyah Sunan An Nasai, As Sindi menyebutkan salah satu makna dari
berjenjangnya pelaporan ini adalah laporan detail dan terperinci dilakukan
setiap hari, kemudian secara global dilaporkan lagi setiap pekan, atau
sebaliknya. (Hasyiyah As Sindi 3/517)
Lalu, apa
hikmahnya? Ibnu Hajar menyatakan, “Sesungguhnya amalan diangkat di penghujung
hari (baik awal maupun ujung hari –pen), maka barangsiapa yang melakukan
ketaatan pada waktu itu, maka akan diberkahi rizki dan amalnya..” (Fathul Bari 2/37)
Wallahu
a’lam. Tugas kita adalah menerima dan mematuhinya. Namun setidaknya, setiap
orang harus bersungguh-sungguh memperhatikan waktu-waktu pelaporan amal
tersebut. Bukankah anda akan senang jika dilaporkan kepada bos tengah giat
bekerja? Tentu akan lebih membahagiakan lagi jika Malaikat kembali kepada Allah
dan melaporkan posisi terakhir kita tengah beribadah kepada-Nya. Bahkan, sebagian
ulama begitu cemas jika sudah tiba masa diangkatnya amal perbuatan. Ad Dhahhak,
misalnya, kerap kali menangis saat tiba penghujung hari, “duhai, amal apakah
kiranya yang diangkat kepada Allah hari ini?”. (Lathaif Al Ma’arif, hlm 245)
Namun, ada
yang lebih penting daripada itu semua, yaitu bagaimana caranya agar kita
dilaporkan tengah berbuat kebaikan saat semua catatan amal seumur hidup kita
dilaporkan dan kemudian ditutup untuk selamanya. Saat kematian. Husnul Khitam.
Semoga.






0 #type=(blogger):
Posting Komentar